LPM DISPLAY

Lembaga Pers Mahasiswa FILKOM-UB

Amalia Kusuma

27 Club

Oleh: Alluragilius Whichisae Mom menatap layar televisi begitu serius sambil beberapa kali berkedip. Dahinya mengerut lucu saat reporter televisi itu mengucapkan kata-kata dalam Bahasa Korea. Ia sedang menonton liputan suasana pemakaman salah satu artis dari Negeri Ginseng yang beberapa hari lalu…

Senapan Terakhir

Oleh : yangnulis Biru tak lagi duduk di singgasananya, ia telah lama terusir bersama burung-burung yang biasa bersua. Bukan karena bosan menetap dan membentang gagah menyelimuti bumi kota kami, akan tetapi hal-hal menyayat hati lah yang membuatnya melepas jabatan dan…

Kamu Jauh

Oleh : ynskashfr  Aku di tengah, kamu di atasAku biasa, kamu di ujung batasAku di belakang, kamu di depanAku masih usang, kamu lebih mapanAku setengah, kamu penuhAku mudah lengah, kamu tidak mengeluhAku masih dekatDan kamu sudah jauhTerlalu jauhAku ingin mengejar kamu…

Tikus Sudah Jadi Kucing

Oleh: yangnulis Mentari pagi ini tak sungkan-sungkan membiaskan sinarnya. Ditemani secangkir kopi panas sesosok pria bercaping bersiul ria. Melantunkan tembang kenangan masa muda nan enak didengar telinga. Sesekali ia mengambil kripik yang nampak masih panas karena baru mangkat dari penggorengan milik…

Sorotan Tajam

Oleh:  J.A.T.M. Sorotan tajam membelengguMemaksa diri tiba pada mungguMungkin telah aku melaguDengan pikiran yang meragu Tertuang ramai hiasan busukGosip kian semakin seluk-semelukSilang yang saling mengadukTanpa ketahui luka bakal membeguk Sorotan tajam pun membekasMenyiksa hati seakan meranggasCibiran mengalir lebih derasBermacam teka-teki bertebar…

Kami yang Muda

Oleh: yangnulis Kami kuat, kami erat, kami bersahabatMencengkeram asa mengguncang nurani yang hampir sekaratMaju terus tak peduli tengah melaratBerperisai tekad, telan penghianat bulat-bulat Kami rakus, kami haus, kami tulusHaus akan ilmu sebagai senjata penghunusRakus akan tikus – tikus yang bertingkah…

Kopi dan Secangkir Ingatan Dini Hari

oleh: igotya Dini, aku kakangmu Hari Ingatkah kau saat kita masih sejoli? Tiap pagi mengadu mesra ngopi di pojok serambi Kau aduk kopi yang aduhai enak sekali Hitam pekat pahit manis pas di hati Bubuk lembut hasil kau giling sendiri…

Mengapa?

Oleh: fat Bunda, mengapa aku tak bisa melihat? Walau aku punya kedua mata yang diimpikan si buta Ayah, mengapa aku tak bisa mendengar? Bisikan halus itu meminta, namun si tuli mendengarnya Sedang aku hampa Bunda, badanku tak bisa bergerak Aku merasa…

Tepian Pertaruhan

oleh : Kalderas Aku terombang-ambing. Di dalam kegelapan dan kesesakan yang tiada tanding. Ingin rasanya memosisikan tubuh dengan stabil, namun apa daya berbalik sendiri pun mustahil. Aku tak tahu disebut apa tempat ini, yang ku tahu aku kini tengah berhimpitan…

Hilang Sudah

oleh: Priscillia (TIF) Kemana hilangnya sajak-sajak? Mungkin hilang ditelan senja, Terbawa burung-burung, Lalu menjelma menjadi kaleidoskop. Kemana perginya rangkaian diksi? Mungkin bersemayam di hati, Atau menjadi roman, Atau mungkin tertinggal pada memori telepon? Miris, pikirku. Kemana pun aku tak melihat, Semua sirna…