Oleh: IZ

Apa yang bisa digali dari rumah yang telah mati? Apa yang bisa dilihat kembali pada atap yang menjelma menjadi kabut dan tangga yang runtuh menjadi abu? Tidak ada, sebab aku masih di sini.

Aku ingat betul bagaimana kau menghiasi dinding-dinding rumahmu dengan setumpuk rak buku hasil karyamu. Aku ingat betul bagaimana kau menulis dan melantunkan sajak-sajakmu yang kau sebut paling enigmatik dan sastrawi itu. Aku masih ingat bagaimana caramu mengambil keputusan sepihak yang kau anggap sebagai kemungkinan terbaik itu. Dan aku akan selalu ingat, bahwa aku akan tetap memegang keteguhanku, menemuimu, dan mencari apa yang seharusnya kumiliki.

***

Gadis kecil itu masih menangis, menjerit, dan menghiraukan rasa sakit akibat luka bakar yang baru saja menikamnya dengan bengis. Mungkin ia masih belum percaya pada apa yang baru saja dilihatnya. Segala harta benda, rumah, dan keluarga yang amat berharga baginya lenyap, hilang begitu saja dilahap api yang dengan sadis, perlahan membakar senyumnya yang manis. Ia terus saja berteriak, sementara api itu terus menyembul keluar dari balik tirai merah menyala.

“Tenanglah sayang, berhentilah menangis, mereka akan segera menyelamatkan ayah dan bundamu di dalam sana.”

Kuperhatikan wajahnya bersama alis yang mengernyit, kubelai lembut rambut ikalnya yang panjang dan ia pun berbalik, memelukku sambil tetap menahan isak tangis. Pemadam datang silih berganti, cukup terlambat menyelamatkan rumah yang begitu besar sedangkan masih ada dua orang lain yang masih terjebak di dalam rumah. Api terus menyembur dari dalam rumah, menyibak-nyibak dan menembus genting-genting. Warga sekitar berdatangan, terbangun karena hawa panas dari api yang semakin lama semakin membesar. Riuh, semua orang panik, tak terkecuali gadis kecil yang selamat meskipun ada sedikit luka di kakinya itu.

Tangisnya semakin pecah seketika melihat petugas pemadam kebakaran bergumul membawa jasad ayah dan bundanya. Tidak ada yang bisa diselamatkan lagi melihat hampir seluruh kerangka rumahnya yang ambruk dilahap api yang kobarnya semakin menyala-nyala, hampir tidak ada yang tersisa. Napasnya tercekat, dadanya mulai sesak, tak sanggup aku menahan saat ia mulai melepaskan tanganku, berteriak dan berlari menuju mobil ambulans, saat kedua orang tuanya akan dibawa menuju rumah sakit terdekat. Kubawa serta gadis itu menuju rumah sakit dan meminta perawat untuk membersihkan kakinya yang terluka.

“Berhentilah menangis sayang, masih ada tante Irma disini. Ayah dan bundamu akan sedih jika melihatmu terus-menerus menangis. Jangan khawatir, kamu tidak sendiri. Besok kita akan segera bertemu ayah dan bundamu.” Ia masih menangis, ku maklumkan sebab tidak ada yang lebih menyakitkan selain rasa kehilangan.

***

Suasana begitu haru menyelimuti pemakaman yang berlangsung, tak banyak kerabat yang hadir sebab aku tahu jarak di antara keluarga Bima memang tidaklah jauh, hanya menurun ke bawah, betul-betul tegak turun dari utara ke selatan, dan hanya memakan masa paling lama dua tiga hari perjalanan. Aku terlalu mengenal Bima hingga gadis kecilnya kini masih bersamaku, mengusap tangisnya yang mulai mereda, setidaknya tidak berdarah-darah seperti saat melihat kematian di ujung matanya.

Bim, aku masih ingat bagaimana kau tinggalkan aku pada sekian purnama yang telah lalu. Aku masih sangat mencintai kebencianku padamu, Bim. Aku masih ingat betul bagaimana kebencianku lahir dari cinta yang melejit-lejit. Dari fakir yang bosan meminta belas kasih dan balas kasihmu. Lihatlah Bim, aku telah membayar semua kebencianku kepadamu di sini, hari ini, di pemakamanmu ini.

Tidak cukupkah bagimu Bim, tidak cukupkah kau sebut aku sebagai pelacur? Sekarang, siapa yang benar-benar melacurkan diri. Kau ambil semua milikku, kau ambil semua sajak-sajak yang kau sebut enigmatik dan sastrawimu itu, kau ambil semua ciptaku sesaat setelah putuskan untuk meninggalkanku dalam keadaan lapar. Siapa yang melacur Bim, siapa?

“Engkau salah menggunakan perkataan lacur, yang melacurkan diri hanyalah perempuan, kita lelaki tidak.” Masih sempat-sempatnya kau berbicara seperti itu setelah kau rusak, kau ambil semuanya dariku, dan kau tinggalkan aku seolah-olah hubungan kita tidak pernah terjadi.

“Semesta akan tetap berjalan sebagaimana mestinya, setidaknya kau bisa terus melacur dan menghidupi mimpi-mimpimu.”

Aku masih sangat ingat kata-kata terakhirmu itu. Dan ya, semesta memang masih terus berjalan sebagaimana mestinya, dan kau masih terus membual, terus menerus menghadapkanku pada kehilangan-kehilangan. Kau yang kuanggap sebagai harta satu-satunya yang tersisa, turut serta meninggalkan banyak luka. Memilih hilang saat menjadi satu-satunya tempat berpulang.

Bim, tidak ada seorang pun di dunia ini yang akan berlapang dada menerima tawaran akan kehilangan. Kau ambil harga dari sosok jelata dan meninggalkan banyak luka. Bagaimana mungkin aku bisa menghentikan luka jika dari malam ke malam ia selalu berkemas diri dan meninggalkan luka baru di pelupuk mataku. Sudah cukup aku menyaksikanmu dari balik kebesaran yang kau renggut dariku. Sudah cukup aku meminta Tuhan merawat kesedihanku, jika aku tidak bisa memegang keteguhanku, maka aku akan terus menemuimu dan mencari apa yang seharusnya kumiliki.

Bima, lihatlah gadis kecilmu yang menangis sesenggukan di pelukanku. Hembusan angin begitu dingin tetapi rumah dan abu dari sisa kehidupanmu masih merah menyala-nyala. Tinggallah dengan tenang bersama istri tercintamu, Bim. Gadis kecilmu akan kurawat dengan penuh kasih sayang seperti yang dulu kau lakukan padaku. Aku akan selalu siap mendengarkan keluh kesahnya seperti saat kau mendengarkan sajak-sajakku. Aku akan merawat kesedihannya, merawat tawa dan tangisnya, menyisirnya, dan memberikan pelukan hangat pada tiap pagi di hari-harinya, seperti yang kau lakukan pada pagi ke pagiku. Aku siap melihatnya menangis, bergetar, dan ketakutan melihat api yang mengiris-iris pelupuk matanya.

Aku tidak ingin mati sebatang kara di sebuah rumah yang berisi kenangan akan bualan-bualan, setidaknya aku harus bisa mendapatkan rasa puas darimu atau anak satu-satunya milikmu. Aku akan membawa gadis kecilmu untuk lahir kembali, menjadi bintang berganda dua, pergi ke acara musik dan meniduri banyak laki-laki, hanya semata sebagai bukti bahwa aku pernah kau lukai, kau sebut aku melacur padahal dengan tanganmu pula kau ambil harga diriku. Aku akan mengajari gadis kecilmu untuk bertahan pada kehidupan yang penuh dengan omong kosong dan bualan, pada kehancuran dan penistaan, hingga suatu saat ia dapat menghidupkan api pada hatinya sendiri.

***

Berhentilah menangis sayang, aku hanya tidak sengaja membakar buku-buku ayahmu, aku hanya tidak sengaja bermain lilin dan membawamu keluar saat ayah dan bundamu sibuk membuka ruang kerjanya yang terkunci, lalu dengan cepatnya api segera melahap sajak-sajak ayahmu yang disebutnya paling enigmatik dan sastrawi itu. Aku hanya tidak sengaja membawamu keluar dengan menyisakan sedikit luka untuk kau kenang sebagai peristiwa traumatis dalam sejarah hidupmu.

“Berhentilah menangis, sayang. Taburkan bunga terakhir untuk ayah dan bundamu, mereka akan sedih jika melihatmu terus menerus menangis. Kamu harus mulai tersenyum untuk hari ini, buat mereka bangga. Sudah ya, mari kita pulang, mulai hari ini kamu akan tinggal bersama mama.”

“Baik, Ma.”