Judul Film          : Keluarga Cemara
Sutradara Film   : Yandy Laurens
Produser Film     : Anggia Kharisma, Gina S. Noer
Pemain Film       : Ringgo Agus Rahman, Nirina Zubir, Adhisty Zara, Widuri Putri Sasono, dsb.
Durasi  Film       : 110 Menit
Penulis              : Gina S. Noer, Yandy Laurens
Produksi            : Visinema Pictures

Keluarga Cemara adalah film drama Indonesia bertema keluarga yang diadaptasi dari sebuah cerita bersambung yang dimuat di majalah “Hai”, dan kemudian dijadikan novel berseri karya Arswendo Atmowiloto dan sinetron yang berjudul sama. Keluarga Cemara berkisah tentang kehidupan keluarga di Jakarta yang sebelumnya berkecukupan dan kemudian berubah ketika mereka mengalami masa sulit akibat paman yang meminjam sertifikat rumah milik Abah (Ringgo Agus Rahman) yang membuat Abah bangkrut. Karena adanya kejadian itu, keluarga Abah terpaksa pindah ke rumah warisan keluarga.

Abah kemudian menjadi driver ojek online yang berpenghasilan tidak tetap. Karena hal itu, Euis (Adhisty Zara) anak pertama dari keluarga ini menjadi sulit beradaptasi dengan lingkungan baru, sedangkan Ara (Widuri Putri Sasono) masih belum paham arti bangkrut yang dialami keluarganya. Keluarga ini pun ingin pindah kembali ke Jakarta karena tidak mampu beradaptasi dengan menjual tanah rumah warisan keluarga. Namun pada akhirnya mereka mengurungkan keinginan tersebut dan menyadari di rumah inilah mereka semakin memahami tentang kasih sayang. Kemudian cerita ini bertambah lebih menarik dengan bertambahnya anggota keluarga, yaitu anak ketiga yang menambah kebahagiaan dari keluarga tersebut.

Kisah Keluarga Cemara memiliki alur yang ringan dan menarik karena banyak pesan-pesan bermakna yang disampaikan sepanjang film. Keluarga Cemara mengingatkan kita akan pentingnya sebuah keluarga. Apapun keadaan yang tengah dialami, baik susah maupun senang, pada akhirnya keluarga merupakan tempat untuk kembali. Lewat cerita sederhana yang disajikan dalam film ini terasa realistis dan tidak berlebihan. Film ini akan sangat dekat dengan keseharian masyarakat Indonesia. Penuh kehangatan dan tentunya banyak nilai-nilai kehidupan yang bisa diperoleh dari film ini. Adanya lagu tema “Harta Berharga” yang dinyanyikan Bunga Citra Lestari membuat film ini menjadi semakin berkesan dan emosional bagi para penonton.

Namun sayangnya, disamping kelebihan dari kehangatan emosional dan nostalgia yang disajikan di setiap adegan yang ditampilkan, film ini memiliki beberapa kekurangan yang kurang nyaman untuk dinikmati. Beberapa adegan terasa tidak memiliki tujuan yang jelas seperti kemunculan sosok debt collector yang tiba-tiba. Selain itu, kehadiran penyedia transportasi daring juga dirasa cukup mengganggu karena kemunculan yang cukup sering dan dikesankan sebagai penyelamat membuat Keluarga Cemara terasa terlalu mempromosikan mereka. Beberapa adegan juga masih terasa seperti sinetron layar kaca. Misalnya saat Abah kecelakaan, penonton seakan diberi kode lewat gerak kamera dan dialog bahwa kecelakaan itu akan terjadi, persis seperti adegan-adegan dalam sinetron. Bahkan hingga di bagian ending, film ini masih berusaha memberi sedikit percikan kesedihan yang terkesan dipaksakan. Terlepas dengan kelebihan dan kekurangan film ini, diharapkan Film Keluarga Cemara mampu memberikan pemahaman kepada penonton mengenai makna dan pentingnya sebuah keluarga di dalam kehidupan.