Berdasarkan surat edaran dekan tentang perkuliahan semester ganjil tahun akademik 2022/2023, Fakultas Ilmu Komputer menerapkan waktu belajar maksimum 2 sks per sesi. Untuk mata kuliah dengan beban 3 sks, maka dibagi menjadi 2 pertemuan (2 sks dan 1 sks). Hal tersebut menjadi sistem baru di FILKOM karena sebelumnya mata kuliah 3 sks dilaksanakan pada satu pertemuan.

Herman Tolle, Wakil Dekan Bidang Akademik, menjelaskan bahwa sistem ini sudah dikaji dari lama dan telah didiskusikan dengan beberapa dosen di Lembaga Pengembangan Pendidikan (LPP) Universitas Brawijaya. Perkuliahan 3 sks secara full dianggap tidak efektif karena dalam praktiknya dosen harus mengajar selama 2 jam 30 menit. Selain itu, selama masa pandemi dosen disarankan untuk masuk kelas dengan durasi sekitar 100 menit, sehingga implementasi 3 sks dalam praktiknya hanya berjalan 2 sks saja. Sistem seperti itulah yang kemudian dianggap merugikan mahasiswa karena banyak materi yang tidak tersampaikan atau tersampaikan tapi kurang dapat dipahami oleh mahasiswa. Maka dari itu, diwacanakan untuk mengatur model kuliah menjadi 2 sks saja per sesi, dan jika mata kuliah tersebut memiliki beban 3 sks maka 1 sks akan digeser ke jadwal lainnya.

Sebenarnya, di awal pelaksanaan 1 sks yang terpisah memiliki konsep dosen tidak harus masuk secara luring seperti biasa dan diperbolehkan adanya kelas daring ataupun hanya memberi penugasan terstruktur. Pada standarisasi RPS (Rencana Pembelajaran Studi) terdapat lembar kerja yang harus mengatur mahasiswa pada setiap minggu mendapat tugas. Tugas yang diberikan tidak harus berat, bisa yang sederhana saja seperti membuat review singkat mengenai materi dengan tujuan supaya mahasiswa mengulang lagi apa yang sudah dipelajari. Lembar kerja inilah yang akan dikerjakan di kuliah 1 sks. Secara prinsip sistem ini sama seperti yang dulu, akan tetapi 1 sks digeser ke jadwal lain dan mahasiswa diminta mengerjakan penugasan terstruktur pada jam tersebut. Selain itu, sistem baru ini juga diterapkan supaya dosen terbiasa membuat penugasan secara terstruktur.

Sejauh ini Herman mengatakan bahwa sistem yang baru diterapkan oleh FILKOM ini belum bisa dinilai lebih efektif atau tidak jika dibandingkan dengan sistem yang sebelumnya. Pengukuran efektivitas mungkin akan dilakukan melalui survei kepada mahasiswa dan dosen pada pertengahan semester dan akhir semester nanti. Keputusan mengenai penerapan sistem baru ini  pada semester selanjutnya juga akan dipertimbangkan berdasarkan hasil evaluasi tersebut. 

Sebagai penutup Herman berpesan, “Sistem seperti ini diikuti saja sebagaimana mestinya, jika ingin dikembalikan ke sistem sebelumnya juga kurang memungkinkan karena jadwalnya sudah disusun untuk 1 semester. Mungkin memang di semester pertama terdapat banyak gejolak, tetapi harapannya jika sudah terbiasa bisa dijadikan suatu pola terstruktur yang menjadi ciri khas di FILKOM. Jadi kuliah itu 2 sks, dosen menyampaikan materi dengan waktu yang cukup, tenaganya tidak habis, dan mahasiswa yang mengikutinya juga bisa fokus.”