LPM DISPLAY

Lembaga Pers Mahasiswa FILKOM-UB

News

Dugaan KBGO, Ketua Pelaksana Raja Brawijaya: Tidak Dipicu Panitia

DISPLAY – Rangkaian Raja Brawijaya yang diselenggarakan Kamis (19/08) dan Jumat (20/08) dilanda berbagai isu dugaan tindak Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) yang marak diperbincangkan melalui media sosial seperti Twitter dan TikTok. Menurut Internet Governance Forum, tindak KBGO sendiri bertujuan untuk melecehkan korban berdasarkan gender atau seksualitas korban dengan melakukan perilaku yang mencakup penguntitan, pengintimidasian, pelecehan seksual, pencemaran nama baik, ujaran kebencian, dan eksploitasi.

Bagas Aditya selaku ketua pelaksana rangkaian Raja Brawijaya 2021 dalam sebuah wawancara pada tanggal 20 Agustus 2021 mengklaim bahwa dugaan KBGO yang terjadi tidak dipicu oleh panitia, “Dari panitia Raja Brawijaya sendiri, (kami, red) tidak pernah merasa bahwa KBGO dipicu oleh panitia, justru kita mencarikan solusi untuk mahasiswa baru yang terkena tindak KBGO.” Pernyataan Bagas dijelaskan secara lebih rinci oleh Muhammad Al Faqih sebagai perwakilan divisi humas dan supervisor Raja Brawijaya, “Banyak (oknum, red) yang kita temui, hal-hal seperti itu oknum dan korbannya berasal dari mahasiswa baru itu sendiri,” ujarnya.

Bagas Aditya dan Muhammad Al Faqih menduga munculnya kasus KBGO disebabkan oleh ruang gerak mahasiswa baru yang sulit untuk dikontrol secara langsung oleh panitia, mengingat rangkaian Raja Brawijaya dilaksanakan secara online. Ruang gerak mahasiswa baru yang sulit untuk dikontrol digambarkan melalui maraknya group chat yang menghimpun mahasiswa baru dengan mengatasnamakan Raja Brawijaya. Faqih mengklaim bahwa oknum-oknum dalam group tersebut bahkan menginformasikan hal-hal yang tidak dapat dikonfirmasi kebenarannya. Group chat tersebut juga luput dari pengawasan panitia karena memang panitia tidak mengadakan grup resmi yang mengatasnamakan Raja Brawijaya. Kumpulan group chat ini diduga menjadi celah terjadinya tindak KBGO di antara mahasiswa baru Universitas Brawijaya.

Selain ruang gerak mahasiswa baru yang sulit untuk dikontrol, kesalahan teknis yang beberapa kali terjadi dan menimbulkan suasana tidak kondusif juga ikut andil dalam munculnya kasus KBGO tersebut. “Di fitur Zoom yang kita fasilitasi, teman-teman hanya boleh mengirimkan pesan kepada host. Masalah teman-teman bisa mengirimkan chat ke mahasiswa baru yang lain, itu merupakan kesalahan teknis,” sambung Faqih.

Sanksi yang diberikan oleh panitia Raja Brawijaya terhadap pelaku tindak KBGO khususnya dari kalangan mahasiswa baru masih berbentuk teguran, yang nantinya akan berujung pada ketidaklulusan pelaku apabila pelaku melakukan kesalahan yang sama berulang kali, “Hal-hal yang dilakukan oleh mahasiswa baru yang tidak sesuai dengan SOP atau melakukan kekerasan seksual dan lain sebagainya, diberi SP (Surat Peringatan, red) satu dalam rangkaian Raja Brawijaya. Kemudian apabila melakukan kesalahan yang sama berulang kali, tidak akan diluluskan dari Rangkaian Raja Brawijaya ini,” ujar Faqih.

Bagas mengklaim bahwa tindak KBGO terjadi karena mahasiswa hanya ingin bercanda untuk mengenal satu sama lain, namun dengan cara yang salah, Bagas juga menambahkan bahwa sanksi yang diberikan sudah cukup membuat pelaku KBGO jera. Didasari oleh insiden KBGO oleh panitia Raja Brawijaya tahun lalu, Bagas menegaskan ia lebih bersikap preventif terhadap pihak panitia. “Alhamdulillah tahun ini nggak ada panitia yang terindikasi melakukan KBGO dalam rangkaian hari-H, pasca, pra, maupun saat hari-H,” timpalnya.