MAWAPRES merupakan mahasiswa yang telah mencapai prestasi tertinggi di bidang akademik maupun nonakademik. Kata pintar saja tak cukup untuk menggambarkan seorang mahasiswi program studi Teknologi Informasi, Hanifa Putri Rahima. Selain berkepribadian positif, ia berniat mulia memberikan pengaruh terhadap masyarakat melalui gagasan Food Donation App yang diusung dalam kompetisi MAWAPRES FILKOM. Hanifa telah berhasil menjadi MAWAPRES FILKOM 2022 dengan segala kerja keras dan proses yang panjang. Ingin tahu lebih lanjut mengenai cerita lengkapnya? Yuk simak hasil bincang-bincang kami dengan Hanifa.

Kata MAWAPRES dalam Bayangan Hanifa?

Simpelnya, kalau kita lihat dari istilah, MAWAPRES itu artinya mahasiswa berprestasi. Jadi bisa dibilang MAWAPRES ini adalah gelar tertinggi yang diberikan kepada mahasiswa di setiap fakultas / universitas yang memiliki prestasi, baik itu akademik maupun non-akademik.  Mungkin banyak orang ngira kalau jadi MAWAPRES itu harus bagus di akademik aja, atau mungkin lomba-lombanya harus banyak,  tapi sebenernya gak hanya itu aja. Selain harus bagus secara akademik, kita juga harus punya suatu inisiatif yang bisa memberikan impact atau manfaat kepada orang-orang sekitar, yaitu lewat gagasan yang dibawakan. Secara aktual, impact ini juga bisa diukur dari kontribusi nyata kita dalam memberikan dampak terhadap orang sekitar lewat keikutsertaan kita di organisasi, komunitas, atau bahkan program-program volunteer, jadi indikatornya bener-bener luas.

Selain itu, MAWAPRES juga bisa dibilang icon dari fakultas. Jadi pastinya sebagai MAWAPRES, kita secara nggak langsung menjadi salah satu representasi identitas dan kualitas dari fakultas kita sendiri. Hal inilah yang ngebuat aku merasa punya sense of responsibility lebih untuk bisa memberikan yang terbaik, baik secara capability maupun attitude, dengan harapan aku bisa menjaga citra dan nama baik fakultas yang selama ini udah dibangun.

Motivasi Ikut MAWAPRES?

Motivasinya sebenarnya berawal dari kegagalan aku di masa lalu sebelum masuk kuliah, dimana aku harus rela mengubur mimpi untuk diterima di Universitas dan jurusan yang aku pingin setelah 3 tahun aku berjuang dan kerja keras. Dibilang down pastinya sih iya karena rasanya berat buat memikul beban dan ekspektasi dari orang-orang sekitar. Cuma setelah aku coba merefleksikan diri, aku sadar kalau rencana terbaik itu pasti ada. Jadi instead of aku berlarut-larut dalam kekecewaan, aku memutuskan buat ngejadiin momen itu sebagai ‘energi’ untuk aku bisa membuktikan kalau “Aku akan tetap menjadi aku, dimanapun aku berada”. Alhasil, aku mulai coba memetakan hal apa aja yang mau aku capai selama aku kuliah nanti. Dan bicara soal goals, pastinya kita itu harus berani buat aim higher ya. Pada saat itu aku mikir “Kira-kira apa ya sesuatu yang bisa jadi momen pencapaian terbesarku selama menjadi mahasiswa?”. Setelah aku coba eksplor, aku menemukan tuh ada istilah yang disebut MAWAPRES, yaitu Mahasiswa Berprestasi atau istilah untuk ‘Mahasiswa Terbaik’ di setiap fakultas. Nah dari situ aku mikir “Wah gila keren, gue harus bisa nih jadi mawapres”, akhirnya dari sinilah aku memutuskan buat menjadikan MAWAPRES sebagai goals utama aku selama kuliah. 

Syukur alhamdulillah selama prosesnya, aku didukung sama lingkungan sekitar yang bener-bener memberikan aku ‘energi tambahan’ untuk makin semangat dalam mengejar goals tadi, salah satunya dari program beasiswa yang aku ikuti, yaitu Djarum Beasiswa Plus yang memang rajin mencetak anak-anak mawapres di setiap tahunnya. Jadi kombinasi antara internal trigger tadi, ditambah dengan support eksternal dan lingkungan yang mendorong itulah yang akhirnya bisa mengantarkan aku hingga sampai ke titik ini.

Tujuan yang Ingin Dicapai Sebagai MAWAPRES?

Tujuan aku sebenernya sederhana, secara pribadi aku berusaha untuk being the best version of myself dengan men-challenge diri untuk keluar dari zona nyaman dan membuktikan yang terbaik, dan yang kedua adalah untuk memberikan impact lewat eksekusi gagasan yang aku bawa, yaitu food donation app. Dari segi ide mungkin kedengarannya memang sangat simpel dan bukan tergolong ide yang fancy dari segi implementasi teknologi, meskipun aku dari fakultas IT, tapi aku percaya bahwa tidak perlu hal yang besar untuk bisa memberikan impact, semua itu bahkan bisa dimulai dari hal yang kecil dan sederhana. Aku melihat Indonesia sendiri punya dua permasalahan utama yang sampai sekarang belum terselesaikan, yang pertama sampah, terutama organik, dan yang kedua adalah kemiskinan dan kelaparan. Dua permasalahan itu aku coba korelasikan lewat gagasan aplikasi food donation yang aku bawa, dengan harapan di satu sisi kita bisa reducing excessive food, di satu sisi excessive food  itu bisa disalurkan ke orang-orang yang membutuhkan. Jadi gagasannya nggak hanya menyangkut nilai lingkungan aja, tapi nilai sosialnya pun juga ada. 

Keuntungan Menjadi MAWAPRES Menurut Hanifa?

Keuntungannya pasti banyak yaa. Secara personal,  dapat gelar ‘mawapres’ pastinya akan memberikan kita exposure lebih dan bisa menjadi value added untuk meningkatkan personal branding kita. Impact nya adalah kita bisa mendapatkan trust dan credibility lebih, baik di lingkungan kampus, atau di lingkungan profesional. Yang kedua adalah lebih ke recognition, bukan hanya dari sisi personal, tapi juga dari gagasan yang dibawa. Keterlibatan ide ini di ajang mawapres harapannya bisa jadi sesuatu yang bisa aku bring onto the table ketika pitch atau ngajak orang lain untuk gabung ke tim buat sama-sama merealisasikan idenya. 

Apa yang dilakukan Hanifa ketika lagi suntuk dan bagaimana agar bisa semangat kembali?

Stuck itu menurutku adalah hal yang wajar banget, apalagi ketika kita melakukan hal-hal yang membutuhkan creativity dan analytical thinking, misalnya bikin gagasan dan karya tulis. Stuck ini biasanya terjadi di awal-awal proses sewaktu ‘kanvas’ kita masih belum banyak keisi atau bahkan kosong, ketika istilahnya kita belum tau gagasan apa yang mau kita bawa dan tulis.

Nah, ada beberapa hal yang biasanya aku lakuin ketika ngalamin stuck. Pertama, pastinya kita perlu take a break alias istirahat, kenapa? karena otak kita juga butuh ‘energi’ buat bekerja dan jangan sampai kita terlalu diforsir, yang ujung-ujungnya malah bikin kontraproduktif. Karena aku pribadi orangnya suka musik, jadi kalau lagi stres dan pusing, aku biasanya bakal nyanyi sambil main gitar atau piano, atau nonton konser musik di Youtube. Intinya, lakuin hal apapun itu yang memang bikin otak kita rileks lagi. Tapi inget proses ini juga harus dibarengi sama self-discipline. Kita perlu tau kapan kita harus break buat refreshing, dan kapan kita harus balik lagi buat kerja, jangan sampai keterusan. Nah berkaitan sama hal ini, ada banyak metode atau teknik yang bisa kita pake semacam podomoro technique, dll, tapi kalau nggak pake pun ga masalah, karena yang tau diri kita itu ya kita sendiri. Sesuatu yang works di orang lain belum tentu works di diri kita, so feel free buat eksplor mana metode yang sekiranya cocok buat diterapin ke diri kita, even itu adalah sesuatu yang nggak ada framework nya.

Nah yang kedua setelah break, kita bisa lanjut garap kerjaan kita dengan cara nambah ‘bahan bakar’. Bahan bakar yang dimaksud disini adalah ‘isi’ dari otak kita. Bisa jadi kita stuck karena memang gak ada bensin yang cukup untuk bisa kita bakar. Sama kayak mobil, kalau bensinnya habis atau tinggal sedikit pasti kinerja mesin gak akan maksimal, atau bahkan mogok dan gak bisa jalan. Nah maka dari itu kita perlu menuhin ‘bahan bakar’ di otak kita dengan cara memperbanyak referensi dan gali point-of-view dari orang lain. Jadi semisal yang awalnya kita cuma review 2 report, kita bisa cari 2 report tambahan lain buat memperkaya insight kita. Trus soal point-of-view, aku biasanya gak segan-segan buat randomly ngechat temen untuk sekedar diskusi atau minta pendapat. Nah dari proses ini biasanya aku bisa supercharge progress aku yang tadinya mungkin cuma 10%, jadi meningkat ke angka 40-50%. 

Semua proses tadi tentunya bukan hal yang instan. Kadang bisa lancar, tapi kadang bisa juga tetep stuck meskipun udah nyoba. Maka dari itu dalam proses ini kita perlu punya GRIT, yaitu tendency to keep moving forward meskipun kita merasa menyerah itu adalah sebuah opsi yang paling mudah. Kalau kita udah punya mindset ini, sesulit apapun hambatan pasti akan terlewati dan bisa terselesaikan dengan baik.

Dari rencana capaian yang dibuat 3 tahun lalu, apa yang terlewatkan dan seharusnya dilakukan di semester sebelumnya?

Kalau dari roadmap yang aku susun sebenernya udah tercapai semua, cuma mungkin lebih ke, kalau aku bisa mulai semuanya lebih awal, kenapa enggak gitu kan. Dulu aku terlalu meta-metain aku harus ikut lomba di tahun kedua, aku harus magang di tahun sekian, padahal ya nggak harus se-saklek itu juga. Karena sejatinya sebagai mahasiswa kita punya satu privilege yang gak dimiliki orang lain, yaitu kegagalan. Semakin awal kita nyoba, semakin awal juga gagalnya, dan semakin cepat kita bisa belajar dari kegagalan itu. Jadi mungkin lebih ke gimana aku bisa memaksimalkan usaha yang udah aku lakukan. Tapi yaa aku pribadi no regret sih karena semuanya udah lewat. Instead of menyesali hal yang lalu-lalu, aku lebih memilih buat fokus sama apa yang aku jalanin sekarang, dan apa yang mau aku capai di masa yang akan datang.

Apa pesan Hanifa untuk teman-teman di FILKOM?

Aku mungkin mau kutip nasihatnya Satya Nadella, CEO Microsoft, sebagai pesan buat temen-temen semua, 

Believe in yourself more so than you think you do”. 

Hal ini mungkin terdengar cliché, tapi bagi aku ini adalah core fundamentals yang harus ditanam sebelum kita bicara soal gimana kita bisa merealisasikan goals yang kita punya. Karena sebesar, sekeren, semenakjubkan apapun goals kita, kalau kita nggak yakin bahwa kita itu mampu, sanggup, dan bisa, ya nggak akan pernah bisa. Karena tantangan terbesar itu justru bukan apa yang ada di hadapan kita, tapi ya ada di diri kita sendiri. Insecure itu boleh, bahkan harus, karena dengan ini kita sadar bahwa masih banyak hal yang belum kita tahu, paham, dan kuasai sehingga kita punya kemauan buat terus berkembang, tapi jangan sampai insecure ini jadi sesuatu yang menghambat kita dalam memulai. Kalau kita nggak mampu, kita latihan. Kalau kita nggak tahu, kita tanya. Kalau kita nggak paham, kita belajar. 

Jadi having growth mindset menurut aku adalah kunci utama buat kita bisa berkembang dan mencapai goals-goals kita, dan semua itu bisa dibangun. Nggak perlu terburu-buru, pelan-pelan nggak masalah, yang penting ber-progress. Segala sesuatu yang besar selalu dimulai dari hal yang kecil. Dan itu diawali dari diri kita. Diawali dengan keberanian untuk memulai, dilanjutkan dengan komitmen untuk menjalankan hal tersebut secara disiplin dan konsisten.(fin/hf)