LPM DISPLAY

Lembaga Pers Mahasiswa FILKOM-UB

Artikel

Sedikit Mengenal Sosok Sutan Syahrir: Sang Pemikir Idealis

Sutan Syahrir merupakan sosok pahlawan nasional yang kemampuan intelektualnya sangat tinggi bahkan diakui oleh Belanda yang merupakan lawan politiknya. Pada 9 April 1966, tepat pada hari kematiannya, Soekarno meresmikan Sutan Syahrir sebagai bagian dari Pahlawan Nasional melalui SK Presiden RI No. 76/Tahun 1966. Sebelum kematiannya, ia terkenal sebagai sosok kritis yang sangat anti-fasis imperialisme Jepang dan terkenal juga sebagai Perdana Menteri pertama di Indonesia. Berikut adalah beberapa poin menarik mengenai sosok Sutan Syahrir dalam perjalanan hidupnya:

  1. Berpartisipasi dalam pembentukan Sumpah Pemuda pada umur 18 tahun.
    Pada tahun 1927 di umurnya yang ke-18 tahun, Sutan Syahrir diamanahi menjadi bagian dari pendiri Jong Indonesien (kelak disebut Pemuda Indonesia). Organisasi ini merupakan turunan Partai Nasional Indonesia (PNI) yang ditugaskan untuk menghimpun pemuda nasionalis di Indonesia yang sebelumnya terpecah-pecah menjadi per daerah. Hasil dari amanah tersebut berupa pembentukan Sumpah Pemuda yang menjadi simbol awal perjuangan Indonesia sebagai satu kesatuan dan tidak lagi hanya memperjuangkan daerahnya masing-masing. Pada saat pelaksanaan Kongres Pemuda Kedua, Sutan Syahrir belum genap berumur 19 tahun.
  2. Aktif menuliskan surat kabar bersama Hatta pasca penangkapan Soekarno.
    Pasca penangkapan Soekarno, aktivitas perjuangan kemerdekaan sempat padam sesaat, bahkan hampir padam sepenuhnya. Hal ini menyebabkan dirinya bersama Hatta bersiasat untuk memantik semangat perjuangan dengan membuat surat kabar Daulat Ra’jat yang terus menyebarkan semangat perjuangan kepada masyarakat. Teknik penyampaian pada surat kabar ini berbeda dengan perjuangan pada umumnya karena tidak mementingkan agitasi. Surat kabar Daulat Ra’jat ini terus merilis artikel-artikel yang bersifat mendidik massa untuk memahami teori pergerakan dan menghasilkan calon-calon kader yang melakukan pergerakan secara intelektual.
  3. Berjuang bersama kaum terpelajar dan kaum menengah atas dengan PNI-Baru.
    Hasil perjuangan menggunakan surat kabar Daulat Ra’jat menghasilkan satu organisasi perjuangan, PNI-Baru, yang memegang paham sosialis-nasionalis. Berbeda dengan PNI bentukan Soekarno yang mementingkan kuantitas, PNI-Baru bentukan Sutan Syahrir dan Hatta mengutamakan kualitas. Ironinya, meskipun gagasan yang diajukan berasal dari ide-ide Karl Marx yang biasanya ditanamkan di kalangan proletariat dan buruh, proses kaderisasi pemuda di organisasi ini diusung oleh kaum terpelajar dan kaum menengah atas. Hal ini menghasilkan bentuk perjuangan yang lebih terstruktur dan tidak mudah goyah oleh propaganda pemerintahan Belanda, serta menyulitkan Belanda dalam meredam aktivitas pergerakan Syahrir dkk. Meskipun begitu, bentuk perjuangan ini tidak terlalu diminati Soekarno. Dalam autobiografinya (Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat, 1966), Soekarno menganggap pergerakan ini “tidak membangun kekuatan” dan “hanya bicara” semata.
  4. Aktif dalam proses diplomasi dan berbagai perundingan internasional.
    Sutan Syahrir dan Hatta sepakat bahwa kemerdekaan tidak bisa diwujudkan hanya dengan angkat senjata, tetapi harus dilakukan secara bertahap, rapi, dan elegan. Untuk mewujudkan itu, Sutan Syahrir mencoba menjalin hubungan diplomatis dengan negara jajahan Inggris, yang mana Inggris memegang banyak pengaruh di dunia, agar Inggris menanamkan rasa simpati pada negara baru lahir—Indonesia—pada saat itu. Di waktu yang sama, dunia mulai mengecam penjajahan sehingga banyak negara yang lepas dari penjajahan negara lainnya. Hubungan diplomasi yang dijalin sebelum lepas dari jajahan ini menjadi landasan untuk membuka hubungan baru dengan negara-negara tersebut yang akhirnya membentuk sebuah jaringan. Beberapa negara yang masuk ke dalam jaringan Indonesia di awal kemerdekaan yaitu India, Kairo, Mesir, Suriah, Iran, Burma, dan Singapura.
    Selain itu, Sutan Syahrir juga aktif memperjuangkan masalah sengketa lahan pada Perundingan Linggarjati, yang mana beliau memperjuangkan pasal perundingan tingkat PBB bila ada perselisihan di kemudian hari. Dengan adanya pasal tersebut, agresi militer yang dilakukan Belanda membuat posisi Indonesia terlihat sebagai korban di mata dunia sehingga meningkatkan keberpihakan dunia terhadap Indonesia. Pasal tersebut memberikan keuntungan untuk Indonesia yang diwakilkan oleh Hatta pada Konferensi Meja Bundar dan memberikan kedaulatan pada pemerintah Indonesia di mata dunia.
  5. Sering beroposisi dengan Ir. Soekarno.
    Meskipun keduanya bergerak pada arah kemerdekaan, cara pandang dan arah gerak mereka bertolak belakang. Soekarno terkenal sebagai sosok nasionalis yang menjunjung tinggi sistem partai tunggal dengan bayangan mewujudkan Indonesia yang satu. Di sisi lain, Syahrir menilai sistem partai tunggal sebagai ancaman yang memberikan kekuatan untuk penguasa menjadi otoriter/fasisme dan bertolak belakang dengan prinsip demokrasi. Perbedaan pandangan ini berakar dari Soekarno yang belum pernah melihat dunia luar, sedangkan Syahrir sudah pernah melihat sistem politik multipartai di luar. Sayangnya, pada era demokrasi liberal, Soekarno menilai sistem multipartai sebagai ancaman dan penyebab instabilitas politik berkepanjangan sehingga beliau meruntuhkan sistem ini dan mengubahnya menjadi demokrasi terpimpin. Gagasan Syahrir yang cenderung menolak nasionalisme berlebih ini membuat mereka sering beradu mulut. Akhirnya, perbedaan paham berkelanjutan ini menyebabkan Syahrir ditahan tanpa pengadilan akibat dugaan makar pada 16 Januari 1962.

Dengan segala ketidakcocokan mereka, Soekarno tetap menetapkan Sutan Syahrir pada akhir hayatnya sebagai Pahlawan Nasional dan membuatkan liang untuknya di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata pada 19 April 1966. Perjuangannya yang mendorong pergerakan kaum intelektual dengan berpikir kritis merupakan salah satu aspek yang perlu dijadikan standar untuk penerus kaum intelektual, termasuk kita sebagai akademisi strata-1 di universitas. (nob)

Sumber:

Penulis: Nobel Edgar
Editor: Shellen Widya Azzahra

LEAVE A RESPONSE