LPM DISPLAY

Lembaga Pers Mahasiswa FILKOM-UB

Artikel

Peran ICRC dalam Konflik Rusia dan Ukraina

Pada awal tahun 2022, negara-negara di dunia kembali digemparkan oleh kabar konflik antara dua negara yaitu Rusia dan Ukraina. Konflik yang bahkan terjadi jauh sebelum tahun 2022 antara dua negara tersebut kembali memanas dan akhirnya menjadi sebab terjadinya peristiwa buruk, yakni invasi dan perang dingin antara dua negara. Hingga sekarang, belum ada tanda-tanda berakhirnya konflik antara dua negara tersebut. Lantas, apakah ada organisasi dunia yang turut berperan aktif menjadi penengah antara negara yang berperang dalam konflik bersenjata internasional? Ternyata, ada salah satu organisasi yang memiliki peran seperti yang disebutkan sebelumnya. 

International Committee of the Red Cross (ICRC) adalah organisasi yang netral, mandiri, dan tidak memihak. Organisasi ini memiliki tujuan untuk menjamin perlindungan dan bantuan kemanusiaan bagi korban konflik bersenjata dan situasi kekerasan lain. Dalam konflik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina, ICRC bekerja keras untuk mendorong kedua negara tersebut agar memperhatikan dan menerapkan Hukum Humaniter Internasional. Hal ini diberlakukan sebagai batasan dalam melakukan tindakan-tindakan perang ataupun konflik bersenjata internasional maupun non internasional. Melansir dari situs web ICRC, Presiden ICRC, Robert Mardini, menyerukan kepada semua pihak baik dari Rusia dan Ukraina yang terlibat dalam konflik bersenjata untuk menghentikan pertempuran dan mengutamakan kepentingan kemanusiaan. 

Dampak pertempuran yang terjadi diantaranya adalah kehabisan bahan makanan dan minuman serta persediaan medis. Melansir dari Associated Press, ICRC menyerukan untuk semua pihak baik dari Rusia dan Ukraina yang ada dalam konflik harus menyetujui posisi dan waktu untuk gencatan senjata. Hal ini sebagai kesepakatan yang harus dihormati dalam rangka menentukan lokasi yang tepat untuk rute perjalanan yang aman bagi warga sipil. ICRC sangat prihatin pertempuran di wilayah perkotaan menghadirkan risiko yang sangat besar bagi warga sipil. Serangan terhadap warga sipil dan objek sipil serta serangan tanpa pandang bulu dan serangan yang tidak proporsional adalah hal yang dilarang. Mereka harus melakukan segala daya upaya untuk menghindari penempatan sasaran militer di dalam atau di dekat kawasan berpenduduk padat dan melindungi warga sipil dari dampak serangan.

Terdapat paling sedikit dua manfaat yang dirasakan oleh negara yang sedang berkonflik atas kehadiran ICRC di wilayahnya. Pertama, manfaat perdamaian dan keamanan internasional, yakni manfaat dalam upaya pemeliharaan dan pemulihan perdamaian, keamanan dan stabilitas internasional. Kedua, manfaat kemanusiaan, yakni manfaat dalam upaya pencegahan dan penanggulangan setiap bentuk konflik bersenjata dan bencana. (apa)

LEAVE A RESPONSE