Oleh: yangnulis

Mentari pagi ini tak sungkan-sungkan membiaskan sinarnya. Ditemani secangkir kopi panas sesosok pria bercaping bersiul ria. Melantunkan tembang kenangan masa muda nan enak didengar telinga. Sesekali ia mengambil kripik yang nampak masih panas karena baru mangkat dari penggorengan milik istrinya.

Slurp. Sruputan kopi terakhir telah dilenyapkannya. Pertanda petualangan akan segera dimulai. Pacul siap, caping sudah dikenakan, tak perlu bersepatu karena beralaskan tanah lebih nikmat baginya. Toh dia akan bermusuhan dengan lumpur seperti biasanya. “Assalamu’alaikum”. Ia mengucapkan salam keselamatan bagi yang mendengarnya. Mantap dan fasih sekali pelafalannya.

Selangkah kaki ia meninggalkan pekarangan, ia menatap lamat-lamat gubug ternyaman yang ditinggalinya selama beberapa tahun belakangan. Entah apa yang ada di dalam pikirannya. Sorot matanya tampak bahagia. Tampaknya gubuk tersebut punya makna mendalam buatnya. Lantas ia pergi dengan senjata-senjata yang telah disiapkan subuh tadi.

Ia mulai berjalan. Setapak demi setapak. Setiap mata seperti memandangi dirinya. Ada yang melihat sambil berbisik, ada yang langsung menghampiri dan berjabatan tangan, ada pula yang melirik tetapi bukan karena tertarik, sindir sana sindir sini tetapi yang dituju adalah orang di depan mereka. “Ahh”. Ia menghela nafas panjang. Melenyapkan ketidakpuasan batin yang baru saja dilaluinya. Ia sepertinya tahu apa yang digunjingkan orang-orang.

Ia langsung menuju ke “kantor” mininya. Melepaskan caping karena dirasa tidak ada sinar matahari yang akan tega menusuk kepalanya. Bekerjalah ia layaknya akan dapat bongkahan emas di dalam tanah yang ini tengah dicangkulinya. Kalau kata kebanyakan orang “Membanting Tulang”. Baginya ia tak perlu banting tulang, cukup pacul dan arit sajalah yang akan menggantikan tulang-tulangnya. Terlihat keringat kerja keras melintas lurus kemudian terjun bebas menerpa tanah.

Setelah dirasa lelah, ia akan duduk di “kantor” mininya dan meluruskan kaki-kaki hitamnya. “Nduk, duduk sini lo. Ngapain berdiri di sana? Panas”. Dan di saat itulah aku ketahuan mengikutinya.

Benar, dia Ayahku. Super Hero number wahid bagiku. Sepanjang hari aku selalu bersyukur karena punya Ayah sepertinya. Ia layaknya tameng yang siap sedia melindungiku, kapanpun. Meskipun raganya tak selalu menyertaiku, tapi aku yakin doa-doanya didengar Tuhan dan itulah pakaian tempur terkuatku.

Aku bahagia karena ia lebih memilih caping dan pacul sebagai atribut kesehariannya sekarang. Tinggal di kampung pinggiran tempatnya dilahirkan dan dibesarkan, makan makanan yang sederhana yang sudah jelas darimana asal-usulnya, bercengkrama ria membahas obrolan yang tak akan pernah usang sepanjang masa “Tuhan dan Masa Depan”.

Ayah tahu apa yang digunjingkan orang-orang yang telah dilaluinya tadi. Meskipun di kampung pinggiran, rupanya informasi begitu cepat menyebar. Ayah adalah mantan narapidana yang tertuduh “ikut” menyomot dan menjadi musabab “hilangnya” duit negara. Karena aku masih kecil waktu itu, jadi aku tidak peduli. Ibuku bilang “Ayah biar kerja dulu ya Nak, tapi pulangnya lama.” Jadi aku tenang-tenang saja. Barangkali kalau ayah pulang, aku akan dibelikan banyak mainan olehnya.

Benar saja, setelah aku jadi lebih besar dan paham apa yang disebut “kerja dan pulang lama” oleh ibuku, aku jadi sedikit membenci beliau. Bayangkan saja kalian diolok-olok anak tikus sementara kalian sadar bahwa tikus adalah binatang yang berkaitan dengan hal-hal kotor. Maksud hati ingin membela, tetapi logika menyela. Alih-alih membalas, aku memilih mengabaikan mereka waktu itu. Biarkan saja bibir mereka dower dengan sendirinya, aku tak akan mau merugikan diri sendiri dengan menanggapi omongan mereka.

Aih, Mengingatnya memang menyakitkan. Namun alangkah baiknya jika hal yang menyakitkan bisa menjadi obat penyembuh di kemudian hari. Mungkin dahulu aku tidak membencinya. Aku mungkin terlalu menyanyangi beliau hingga sekali ia terjerumus, kecewa sudah akhirnya. Sekali lagi aku bangga jadi putri Ayah. Ayahku memang tak lagi berdasi, tapi jasanya membuat masyarakat di negara ini mengenal nasi. Ayahku bukan lagi seekor tikus yang setiap hari was-was akan diciduk. Ayah bahkan akan melenyapkan tikus dengan tangannya sendiri sekarang.

Share It On:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here