Judul film                          : Milea Suara dari Dilan

Sutradara                          : Pidi Baiq dan Fajar Bustomi

Perusahaan produksi          : Max Pictures

Pemeran                           : Iqbaal Ramadhan, Vanesha Prescilla, Adhisty Zara, dll.

Tanggal rilis                      : 13 Februari 2020

Durasi                              : 1 jam 42 menit

Genre                               : Romantis, Drama

Beberapa mungkin tak asing dengan film yang diperankan oleh Iqbaal Ramadhan dan Vanesha Prescilla pada film Dilan 1990 dan Dilan 1991. Ya, Milea Suara dari Dilan adalah film sekuel yang lahir dari novel trilogi Dilan karya Pidi Baiq. Film yang berfokus pada sudut pandang Dilan sebagai orang pertama tersebut menceritakan beberapa hal yang tidak ditampilkan di dua film sebelumnya.

Selain mengungkap latar belakang kehidupan seorang Dilan, film ini juga menuturkan kejadian-kejadian yang luput dari cerita terdahulu. Seperti saat Dilan dan Milea yang berselisih paham mengenai peristiwa meninggalnya salah satu anggota geng motor bernama Akew, membuat Dilan terseret masalah yang cukup besar dan membawanya berurusan dengan kepolisian. Hingga peristiwa kematian ayahnya yang dikisahkan cukup dramatis menjadi film yang cukup menarik untuk diceritakan dalam sudut pandang Dilan sebagai laki-laki.

Milea Suara dari Dilan yang diharapkan dapat menjadi penutup trilogi Dilan di dua film sebelumnya justru terkesan sedikit membosankan mengingat banyaknya kilas balik yang cukup lama pada awal film. Tujuannya mungkin untuk mengajak penonton mengingat kembali momen-momen kesalahpahaman situasi antara Dilan dan Milea di film sebelumnya. Sayangnya porsi kilas balik pada film tersebut terlalu dominan dan memberi kesan “malas” pada si pembuat film. Sementara itu, bagi yang tidak menonton dua serial film sebelumnya mungkin akan sedikit terbantu dengan kilas balik yang diceritakan pada awal film, meskipun mungkin akan sedikit kesulitan mendapatkan benang merah terhadap dua sekuel sebelumnya.

Melalui sudut pandang orang pertama, tokoh Dilan diharapkan mampu membawa suasana film seperti pada era 1994 supaya penonton dapat bernostalgia pada kisah kasih remaja di masa itu. Sayangnya, penokohan Dilan dan Milea pada awal film cenderung kaku sehingga kesan yang didapat bukanlah Dilan yang romantis seperti pada dua sekuel sebelumnya. Alur cerita pada awal film juga sangat gamblang untuk diceritakan kembali melalui sudut pandang Dilan, sehingga tidak akan banyak yang bisa didapat bagi penonton Dilan 1990 dan Dilan 1991 selain konflik seorang Dilan yang tidak banyak diketahui Milea.

Beberapa tokoh pendukung dalam film ini pun cenderung tidak lugas dalam mendalami peran. Adegan yang diperankan terkesan kurang menghidupkan karakter sebagai “tokoh pendukung” dari film tersebut. Namun hal ini dapat ditutupi dengan baik pada akhir cerita setelah Iqbaal Ramadhan mulai mendapatkan porsi yang sesuai untuk menakhodai perannya pada film tersebut. Monolog sebagai seorang Dilan tampak alami untuk mengantarkan kesan dramatis dari sebuah kehilangan.

Satu hal lagi yang menarik adalah latar tahun 1990-an digambarkan dengan sangat rapi dan pas dengan suasana Kota Bandung yang masih sepi. Beberapa latar tempat seperti kamar Dilan, kantin Bi Eem, dan markas geng motor Dilan juga diatur sedemikian rupa sehingga memunculkan suasana tahun 1990-an yang cukup unik untuk mengajak penonton bernostalgia.

Tidak banyak yang bisa didapat dari sebuah problematika percintaan remaja SMA tahun 1990-an. Meskipun begitu, Milea Suara dari Dilan merupakan film romansa penawar rindu yang cukup menarik bagi muda-mudi terutama bagi pecinta kisah Dilan dan Milea. (day)

Share It On:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here