Oleh: Ilmiif

/1/

kamu sedang baca buku waktu
itu di sudut gazebo kampus
saat seekor kucing mengeong padamu
kau menatapnya balik sesaat
kamudian melanjutkan membaca buku
itu lagi

kucing melompat ke atas
meja di depanmu
ia mengeong lagi
“kenapa sayang?”

ia terus mengeong
di depanmu; memain-mainkan tanganmu
yang mengusap-usap kepala
dan badannya
“laper?

sebentar tak belikan
makan dulu ya”

/2/

mereka mengeong-ngeong
di setiap sudut kota
meminta makan
meminta perhatian manusia
matanya nyalang berusaha waspada
bagi mereka ancaman bisa
datang kapan saja

usia manusia
delapan kali usia mereka
apa mereka tahu
kaki-kaki mungil moyangnya
menginjak tetanah lembut
yang penuh rerumputan
bukan bebatu yang kini
keras, panas dan bau asap kendaraan

tiadalah mereka berakal
melainkan dengan insting
insting untuk mempertahankan
hidup; sebatas itu
adakah mereka berpikir misalnya
soal pesawat, peradaban dan kesejahteraan

tiada pun yang mereka ketahui
kecuali bertahan hidup
di zaman yang sama sekali asing
bagi moyang mereka: urban
adakah mereka berpikir misalnya
soal bermusik, melukis, maupun berpuisi

mereka berjalan, berlari dan melompat
tanpa mengenal kemiskinan,
kemelaratan maupun penindasan
sebab manusialah yang bisa berpikir
cara berbahagia: dengan memiskinkan,
dengan menindas

/3/

matanya nyalang
mencari makan
menghindari ancaman
mereka berjalan, berlari dan melompat
tanpa mengenal kemiskinan,
kemelaratan maupun penindasan

jika manusia seperti mereka
yang tiada berakal
adakah penindasan
mewujud di muka bumi
“ah, penindasan itu relatif.
Manusia saja yang menciptakan
istilah begitu. Itu insting
manusia untuk bertahan hidup, bukan?

sewaktu ngopi tempo waktu
Tuhan titip pesan, ‘manusia,
ntar kalian jadi khalifah
di muka bumi ya. Nih
akal Saya kasih untuk kalian
mengatur kehidupan disana'”
lantas ia bertanya, kalau penindasan
hanya bagian dari insting manusia
apa gunanya pengetahuan
apa gunanya pendidikan

ada yang ikutan nimbrung,
katanya suaranya lebih keras dari alam kubur
dia bilang pendidikan seharusnya untuk
mempertajam wawasan, memperkukuh kemauan
dan memperhalus perasaan.
“oh iya, memangnya apa itu perasaan?” tanyamu
memangnya manusia punya
apa yang disebut perasaan

yang baru nimbrung balik ke alam kubur
tak mau menahu soal itu
sementara yang lain tertawa terbahak mendengarnya
kucing di sebelah hanya mengeong keasinan
micin; akal dan nurani
apa guna keduanya bagi manusia

Share It On:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here