Oleh : Alluragilius Whichisae

Abang memang keras kepala. Bunda berkali-kali menggenggam tangannya bahkan hampir berlutut demi menahan keputusan Abang untuk berangkat ke Magelang, tapi tetap saja tidak berhasil. Kakak laki-lakiku itu benar-benar sudah tidak bisa mengubah tekadnya menjadi seorang tentara.

“Kamu tega ninggalin Bunda?” suara parau Bunda kembali terdengar dari balik pintu.

“Tirta cuma kuliah, Bun. Kuliah di kota lain aja kok. Setiap liburan kan pasti pulang. Bunda juga masih bisa nengokin Tirta nanti,” Abang terdengar menenangkan Bunda.

Abangku itu baru saja diterima di Akademi Militer yang letaknya di kota Magelang. Sekolah ini mencetak perwira TNI Angkatan Darat setelah menempuh pendidikan selama 4 tahun. Sama seperti almarhum Ayah kami dulu.

Iya, benar. Bunda memiliki ketakutan berlebihan terhadap hal-hal yang berbau militer. Terutama setelah Ayah kami meninggal dunia di Aceh 13 tahun lalu saat terjadinya gerakan pemberontak di provinsi itu. Mengingatnya membuat aku menghela nafas. Kadang-kadang kenyataan bahwa aku yang saat itu masih berusia 5 tahun dan belum mengingat wajah Ayah kami dengan jelas membuatku sedih.

“Akademi militer itu berat, sayang. Percaya sama Bunda, kamu nanti bisa sakit. Bunda ga mau kamu nanti ikut perang dan hal berbahaya lainnya,” Bunda masih tidak mau menyerah.

Aku tahu itu percuma saja. Abang yang dulu sangat dekat dengan Ayah pasti memiliki pemikiran berbeda. Aku pernah mendengarnya bercerita kalau dia sering didatangi Ayah dalam mimpinya. Abang bilang Ayah adalah salah satu ujung tombak negara untuk melindungi dan mempertahankan keamanan negara ini. Katanya Ayah juga sering merasa takut saat harus berperang. Karena itu Ayah akan sangat bangga jika nanti putranya bisa menjadi prajurit yang sangat berani.

“Tirta pernah tawuran, Bunda,” ucapan Abang itu membuat tangis Bunda berhenti.

Datangnya Ayah ke mimpi Abang mungkin salah satu alasan kuat mengapa Abang ingin menjadi seorang prajurit. Tapi sebagai adiknya, aku tahu bahwa lebih dari itu semua, Abang ingin memperbaiki diri. Aku pernah mendengar Abang menangis di hadapanku saat salah seorang temannya meninggal dunia karena tawuran.

Iya, benar. Abang dulu anak yang sangat nakal. Abang bilang dia bahkan pernah menyebabkan kepala seseorang bocor karena dia lempar batang besi. Pengakuan itu sama sekali tidak membuat Abang tampak lemah. Bagiku mengakui kelemahan adalah salah satu kualitas kepribadian yang sangat penting.

Aku kembali bisa mengenal sosok Abangku yang rendah hati dan menyenangkan. Ini juga lah yang membuatku tenang untuk menceritakan segala kesalahanku pada Abang. Mengingatnya membuatku sedikit tidak rela jika Abang benar-benar harus berangkat ke Magelang.

“Tirta sayang Ayah, Bun. Tirta ga mau lagi jadi pengecut,” ucapan terakhir Abang setelah dia bercerita tentang tawuran dulu pada Bunda.

“Kenapa kamu ga pernah cerita sama Bunda?” aku mulai bisa mendengar tangisan Bunda lagi. Tapi kali ini aku merasakan firasat baik.

“Tirta tau Bunda bakal marah dan ketakutan sendiri. Sama ketakutannya seperti saat Bunda denger suara langkah kaki yang lagi lari, denger suara tembakan atau nonton berita tentang perang,” Abang mengatakannya sambil tertawa. Sepertinya percakapan mereka mulai menghangat kembali.

“Meskipun tau semua hal itu kamu masih mau jadi tentara?”

Aku menelan ludah. Pertanyaan Bunda tepat sasaran sekali.

“Iya,” Abang menjawabnya dengan suara berat. “Sama seperti Tirta yang ingin memperbaiki diri, Bunda juga seharusnya sama. Sampai kapan Bunda akan membiarkan rasa takut yang sebenernya cuma sugesti itu terus menggerogoti kehidupan Bunda? Tirta sama Tetha sayang Bunda. Jadi Tirta mohon Bunda izinin Tirta berangkat ya. Tirta sangat ingin tahu bagaimana perjuangan dan darimana keberanian Ayah dulu berasal. Tirta ingin jadi sosok seperti Ayah yang kemudian bisa menemukan wanita sebaik Bunda. Ya, Bun?”

Hatiku menghangat mendengar itu semua. Abang benar, aku juga sangat ingin tahu darimana keberanian seorang tentara berasal. Apa hanya dari keharusan mengabdi pada negara dan gaji yang diterima? Mengapa seorang tentara memiliki mental militer yang terbiasa dengan berbagai bentuk penyiksaan dan penderitaan secara fisik maupun mental?

“Iya, sayang. Bunda izinin,” jawaban yang diiringi isakan itu membuat Abang tertawa keras. Dia terdengar sangat bahagia.

Hari ini aku kembali belajar dari Abang. Mungkin kami telah kehilangan Ayah yang sangat kami cintai. Tetapi luka itu ibarat sayatan tipis yang hanya membuat kami gatal dan tidak boleh kami jadikan alasan untuk berpasrah pada hidup. Sesederhana itu.

 

*****

Share It On:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here