Oleh: Mas Prakti

Jualan apa hari ini Dek, yang kamu bawa ke dalam kelas? Risol mayo, atau apa? Tiap kali ke kelas kamu selalu bawa makanan yang kau tawarkan ke teman sekelasmu, kadang-kadang dengan sedikit memaksa. Aku paham kau sedang mengejar setoran. Bukan untuk bos besar yang sedang memegang catatan utangmu, tapi untuk acaramu yang selalu kau promosikan di grup chat kelas dan lainnya. Entah siapa yang membuat sistem kepanitiaan ini sehingga membuat gadis manis sepertimu harus rela berjualan tanpa kau nikmati untungnya.

Malam harinya kau rapat. Entah kau datang untuk mengikuti rapat itu atau hanya untuk membuat dirimu terlihat aktif dalam kepanitiaanmu. Dulu ketika kau masih berstatus sebagai mahasiswa baru, kau tampak manis menenteng peralatan kuliahmu ke kampus. Tanpa kotak kertas berisi jajanan pasar dan jadwal harianmu yang hanya kuliah di kala siang, dan main bersama teman-temanmu di kala malam tiba. Kau sekarang lebih banyak mengeluh tentang kepanitiaanmu ketika kita bertemu. Tentang orang-orang dalam kepanitiaanmu yang kau benci. Itu ironi, Dek. Kau begitu semangat pada awalnya dan kini kau merasa dengki dengan mereka yang bekerja bersamamu.  

Aku paham dengan kampus ini yang menanamkan semangat wirausaha pada mahasiswanya. Dengan begitu, kampus hanya memberikan sedikit dana bagi acaramu dan kemudian kau cari sendiri kekurangan dananya. Aku tak paham dengan ketua panitiamu, Dek. Berapa harga diri dan gengsi yang Ia pertaruhkan demi acara ini hingga dia tega membiarkan gadis jelita seperti dirimu memutar otak mencari uang seperti seorang pegawai kantoran. Mengapa dia tidak membuat acara yang sederhana, yang sesuai dengan uang yang dia terima dari kampus? Aku sudah pernah bilang padamu Dek, yang terpenting dari sebuah hal adalah esensinya, bukan eksistensinya.

Kau ini mahasiswa Dek, bukan kuli panggul di pasar. Karena setahuku mahasiswa itu mengilhami Tri Dharma Perguruan Tinggi: Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian dan Pengembangan, serta Pengabdian Kepada Masyarakat. Jika acara kampusmu tidak memenuhi aspek-aspek itu terutama aspek terakhir, maka itu bukan acara mahasiswa tetapi acara sebuah event organizer. Ikuti saranku; pergi dari kepanitiaan laknat itu dan cari kegiatan lain yang berguna bagi dirimu dan masyarakat di sekitarmu. Tri Dharma itu bukan hanya sekedar tugas ospekmu, Dek. Ingat itu!

Jika kampus yang kau sebut sebagai kampus favorit itu lebih banyak mengadakan konser musik daripada bakti sosial pada masyarakat, maka aku lebih memilih menjadi lulusan SMA yang membawa kardus berisi buku bagi anak-anak terlantar di pinggiran kota. Aku tidak ingin membuatmu menjadi orang yang apatis, tapi aku ingin kau menjadi mahasiswa seutuhnya, Dek. Mahasiswa yang pintar dan peduli. Apa guna kau kuliah dan pintar tapi hatimu beku dan dingin terhadap masalah masyarakat?

Sekarang aku bisa lihat sedikit senyum manismu ketika kau bahagia berhasil menyelenggarakan acaramu itu. Tapi setelah itu kau masih mengeluh karena banyaknya hutang yang harus kau lunasi dari acara itu. Hutang yang merupakan buah dari idealisme semu ketua panitiamu dan orang-orang dibelakangnya, yang entah siapa. Namun ketika melihatmu sedih ingin ku peluk dirimu dan ku bisikan, “MAKAN TUH PROKER!”

Share It On:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here