Oleh : yangnulis

Biru tak lagi duduk di singgasananya, ia telah lama terusir bersama burung-burung yang biasa bersua. Bukan karena bosan menetap dan membentang gagah menyelimuti bumi kota kami, akan tetapi hal-hal menyayat hati lah yang membuatnya melepas jabatan dan meninggalkan singgasananya yang nyaman. Ia terlalu lemah melihat pemandangan menyayat hati di kota kami. Sungguh miris, karena sesuatu yang manis tiba-tiba jadi pemandangan sadis.

Senjata penghancur masih saja menyuarakan ujaran tak bermutunya ke seluruh penjuru kota. Ia pikir suaranya adalah suara paling merdu di dunia hingga bergejolak tak ada habisnya. Tak ada alasan lain ia melambung ke udara, bersuara dan menghempaskan terjangan terbaiknya, kecuali adalah keinginan tuannya. Tanpa bertanya, tanpa menyapa, sekali ia bersuara 2-3 jiwa menemui ajalnya.

Perkenalkan, kami adalah rombongan gadis kecil yang tak mau tanah kami terinjak oleh manusia-manusia yang sama sekali tak memanusiakan sesamanya. Setiap hari, bekal kami adalah batu-batu berselimut doa. Batu-batu itu lah yang akan kami lempar dan kami arahkan ke dahi-dahi mereka, meskipun selalu meleset dan hanya berakhir mengenai ujung senjata mereka. Mengapa dahi? Kami hanya ingin mereka berpikir, apakah mereka sungguh manusia? Sudah diberi akal, mengapa berbuat seenaknya.

Hari ini seperti biasa, kami menuju ke markas para zionis bermuka sadis. Meski kami hanya setinggi paha mereka, nyali kami kuat laksana baja. Kami memang muda, namun selama kami bernyawa tarikan nafas kami lah taruhannya. Seorang di antara mereka tampak berbicara pada kami dengan nada merendahkan. Karena mereka mengajak berbicara, maka kami balas dengan lemparan beruntun. Lantas kami berteriak “Pergilah dari tanah kami, biarkan kami hidup”. Kemudian kami lempar lagi batu yang masih ada di genggaman kami.

Tak lama kemudian, datanglah sekelompok orang yang merupakan bagian dari mereka. Betapa terkejutnya aku, ayahku diseret beramai-ramai. Pria yang selalu melindungku itu yang kini ada di depan mata kepalaku. Tubuhnya penuh luka. Aku berlari ke tengah rombongan namun seorang dari mereka menyeretku menjauh. Ku gigit tangannya, menangis dan berteriak sejadi-jadinya. Ku lemparkan batu-batu yang ada di sekelilingku ke arah mereka. Aku tak peduli lagi apa yang ku lakukan adalah sebuah upaya pembalasan yang mungkin memiliki kemungkinan melukai mereka, aku tak peduli.

Hal mengejutkan terjadi. Ayahku terbangun dan melawan mereka walau hanya dengan setitik sisa energi. Tiba-tiba bunyi senapan yang sangat keras terdengar dan pelurunya mengenai tepat di bagian dada Ayah. Aku meraung-raung seperti kehilangan kewarasanku, namun raunganku tak ada dampaknya pada mereka. Tak lama kemudian, semua gelap tak ada secercah cahaya pun yang nampak.
Aku terbangun. Kini aku berada di pengungsian. Aku sangat bersyukur terbangun dan sangat berharap bahwa kejadian tersebut hanyalah sebuah cerita fiktif yang melayang-layang di kepalaku ketika aku tak sadarkan diri. Aku bertanya pada teman-temanku, “Dimana ayahku?”. Mereka hanya menggelengkan kepala lantas menangis. Aku bertanya lagi, “Mengapa kalian menangis?”. Salah satu dari mereka menjawabku dengan suara yang hampir tak terdengar, “Ayahmu sudah tiada”. Yah benar sekali, kejadian itu bukanlah mimpi. Semua orang di sekeliling memelukku, mereka turut berduka atas kematiannya. Di mata mereka, ayahku adalah sosok pemimpin yang menggerakkan semangat semua warga untuk terus bergerak melawan. Merebut kembali semua hak yang memang merupakan milik kami.

3 hari berselang setelah kematian ayahku, terdengar berita buruk. “Oleh karena itu, saya telah menentukan bahwa ini saatnya untuk mengakui secara resmi Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel”. Kau tahu kawan, pidato tersebut disampaikan oleh Donald Trump yang tak lain tak bukan merupakan seorang Presiden dari Amerika. Bahkan di dalam pidatonya, ia berdalih bahwa upayanya tersebut merupakan langkah untuk memajukan perdamaian antara negara kami dan Israel. Aah, lelucon apa lagi ini.

Kami memang sudah lama berharap perdamaian hidup dan berumur panjang di tanah kami. Mengharapkan bom-bom peledak yang setiap waktu berbunyi, menjadi bisu. Mengharapkan senapan-senapan yang kami lihat di setiap kami membuka mata merupakan senapan terakhir yang melepaskan peluru dan menjadi penghancur kehidupan kami. Kami memang berharap demikian. Akan tetapi, apabila upaya untuk mencapai sebuah perdamaian justru merenggut keadilan, kami sangat tidak menerimanya. Yang kami tahu, Yerusalem adalah milik kami. Yerusalem adalah tanah kami. Yerusalem adalah nafas kami. Sampai titik darah terakhir pun kami akan mempertahankannya. Mempertahankan dengan segenap jiwa dan raga.

Sumber berita : https://news.detik.com/internasional/d-3758317/ini-pidato-lengkap-trump-saat-mengakui-yerusalem-ibu-kota-israel

Share It On:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here