Oleh: Dantya

           Virga masih berkutat dengan laptopnya sejak jam 7 malam tadi. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 11 malam dan wanita itu masih belum ada tanda untuk menyelesaikan pekerjaannya. Tangannya bolak balik dari tabletnya lalu ke layar laptop. Kacamata super lebar dan rambut digulung ke atas agar tidak mengganggunya bekerja. Keningnya beberapa kali mengernyit ketika melihat angka yang tidak sesuai.

            Pikirannya terlalu larut pada pekerjaannya sampai tidak sadar Ayah sudah berdiri di sampingnya. Lelaki itu memperhatikan anak bungsunya sambil mengaduk teh di tangannya dengan pelan. Ketika sendok dan cangkir saling berdenting, Virga tersentak kaget dan akhirnya menyadari kehadiran orang tuanya.

“Ayah ngagetin aja.” Ujar Virga sambil memegang dadanya. Ia lalu kembali pada laptopnya.

            “Masih belum selesai?” Tanya Ayah sambil menaruh cangkir teh di samping Virga.

            “Belum, Yah. Karyawan Virga salah buat laporan padahal besok ada meeting.”

            “Lho, kamu besok balik ke New York?”

            “Enggak, Yah. Meeting lewat telepon video kok.” Kata Virga sambil tersenyum kecil mendengar Ayah mengeluarkan suara ‘o’ dengan panjang.

            Suasana kembali hening, hanya suara tuts keyboard yang ditekan Virga menyeruak ke seluruh ruangan. Virga tidak tahu apa yang dilakukan Ayahnya, dan ia tidak bisa bertanya padanya. Hubungan mereka rumit setelah Kak Mika meninggal karena kecelakaan. Orang tua Virga menjadi tertutup dan berkali-kali menyalahkan diri mereka sendiri karena kepergian kakak. Virga yang masih sekolah tingkat akhir harus terkena imbasnya. Ia jadi tidak pernah mengobrol lagi dan menjadi tempat pelampiasan kedua orang tuanya. Sudah empat tahun setelah Virga akhirnya mencoba terbuka pada orang tuanya dan perlahan hubungan membaik. Mereka sedang proses untuk kembali menjadi keluarga.

            Ayah dan Virga sama-sama diam. Sama-sama tidak nyaman dengan kehadiran satu sama lain. Sama-sama tidak bisa mengutarakan perasaannya, dan sama-sama memilih untuk menjadi bisu untuk sementara waktu. Otak Virga bekerja dua kali karena ia sedang bekerja sekaligus memikirkan bahan obrolan yang pas. Ia tidak ingin lama-lama terjebak dalam kecanggungan.

            “Oh ya, ini buat Virga?” Jarinya menunjuk pada cangkir teh di sampingnya. Ia menghela napas lega bisa memecah keheningan ini.

            “Iya.” Jawab Ayah singkat

            “Terima kasih.” Katanya sambil mengesap teh tersebut. “Ayah gak tidur?” Tanya Virga lagi.

            Ayah terdiam. Ia hanya menatap kosong layar laptop Virga. Kantung mata Ayah semakin menghitam padahal keriputnya semakin menebal. Virga memperhatikan Ayah yang terdiam seperti patung. Ia menjulurkan tangannya dan menyentuh pelan lengan Ayah. Ayah terkesiap kaget dari entah apa yang dilamunkannya itu.

            “Ayah tidur, ya.” Ujar Virga sambil mengusap lembut lengan Ayah.

            Ayah hanya mengangguk, seakan mengerti kekhawatiran anaknya. Langkah Ayah yang sudah melemah membawanya kembali ke kamar dan meninggalkan Virga sendiri di ruang tengah. Virga menatap punggung Ayah sampai tidak terlihat lagi terhalang pintu kamar. Ia merasa Ayah sudah tidak kuat untuk bekerja, tapi tidak dengan Ayah. Beliau masih semangat bekerja padahal Virga sudah berulang kali menyarankan Ayah untuk pensiun.

               Virga meregangkan kedua tangannya ke atas dan mengerang ketika otot-otot kakunya tertarik. Ia memijat tengkuk lehernya. Rasanya ia perlu beristirahat sebelum melanjutkan bekerja. Ia lalu bangun dari duduknya dan pindah ke sofa yang ada di tengah ruangan. Matanya tertuju pada album foto di bawah meja di depannya. Sudah lama ia tidak membuka album foto miliknya dan kakaknya itu. Ia meraih foto album itu dan membuka lembar per lembar.

               Alisnya terangkat ketika melihat kertas dengan tulisan tangan di samping tiap foto. Sebelumnya tidak ada tulisan-tulisan itu. Mika dan Virga di Ancol; Mika dan Virga pertama kali makan di angkringan di Jogja; Ibu, Mika, dan Virga di kebun binatang; begitu tulisan yang mendeskripsikan tiap foto. Bibirnya menyunggingkan senyum mengenang kembali ingatan masa itu.

               Tangan Virga menyentuh kertas-kertas itu dan sadar bahwa kertas itu tidak tertempel di semua sisi. Hanya sisi atas yang ditempel dengan selotip. Ia membalik kertas itu dan masih ada tulisan di belakang kertas. Mika bilang Virga tidak suka dengan les pianonya, tapi saya memaksa. Saya bilang pada Virga bahwa ia hanya malas untuk berangkat les. Hari itu sudah kesekian kali Mika membujuk untuk tidak memaksa Virga pergi les piano. Virga terhenyak membaca tulisan itu. Ia membalikkan kertas di foto yang lain.

               Virga memecahkan gelas lagi. Saya memarahinya. Tangannya berdarah karena tergores beling. Harusnya saya tidak memarahinya.

               Pagi itu saya kehilangan uang di meja makan. Saya langsung menuduh Virga yang sejak pagi menonton TV. Kami bertengkar dan ia membanting pintu kamar. Ternyata uangnya di dalam saku jaket. Saya masih belum bilang pada Virga.

               Hari kelulusan SMP Virga. Saya bilang nilainya lebih rendah daripada kakaknya. Mungkin karena itu wajahnya terlihat murung di foto.

Virga dan saya. Pertama kalinya setelah Mika meninggal.

               Air matanya menetes di salah satu foto ketika ia mengenakan gaun untuk prom night kelulusan SMA. Ia membaca seluruh kertas yang tertempel di samping foto-foto itu. Sampai ia membaca kertas terakhir dan membuatnya tersenyum lebar.

               Virga, anakku yang cantik. Maaf Ayah tidak pintar berkata-kata. Maafkan Ayah yang selalu membandingkan kamu dengan Mika. Maaf sudah menjadi Ayah yang kurang pantas buatmu. Entah kapan kamu akan membaca semua tulisan ini dan bagaimana keadaan kita, tapi Ayah akan tetap minta maaf. Terima kasih sudah menjadi malaikat penyelamat keluarga ini. Mika pasti bangga punya adik sepertimu. Ayah dan Ibu bangga padamu, Nak. Sehat selalu.

               Virga menyeka air mata yang mengalir di pipinya. Perasaan hangat menyeruak di dadanya. Surat pendek dari Ayah membuatnya tersenyum lebar. Sebelum ia membaca surat itu pun ia tidak pernah merasa Ayah tidak pantas menjadi Ayahnya. Tapi perasaan Ayah yang tidak pernah diutarakannya kini telah sampai pada Virga. Ia mengulang membaca surat itu berkali-kali dan senyum tidak pernah pergi meninggalkan bibirnya.

               Entah apa yang membuat Ayahnya menulis surat-surat itu dan akan menyimpannya sampai kapan. Virga menutup album foto itu lalu kembali ke depan laptop. Otaknya kembali bekerja dua kali karena ia memikirkan apa yang harus ia lakukan besok agar bisa dekat dengan Ayah lagi. Karena jelas bukan Ayahnya yang akan memulai pertama kali.

Share It On:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here