Oleh: rafid

Karyo mengeluh, dadanya terasa sesak lagi. Sejak seminggu terakhir Karyo terus bekerja untuk memenuhi target yang telah diberikan.

“Pak, bolehkah saya duduk sebentar? Dada saya ngilu lagi.”

Karyo merupakan salah satu dari sekian ribu penghuni lapas daerah Burjo. Karyo tahun ini akan memasuki usia 65 tahun. Lengkap sudah 15 tahun Karyo menghabiskan waktunya dalam lapas ini. Ia bekerja dalam lapas sesuai dengan peraturan dalam lapas untuk membina penghuni lapas. Terkadang dalam seminggu ia dapat bekerja dan menghasilkan entah peralatan makan dari stainless yang disiapkan bahan dan alat-alat oleh lapas atau bahkan pekerjaan lebih berat dari hal itu, misal ketika ia harus mengganti oli dari mobil-mobil yang ada dalam lapas.

Tahun itu karyo masih berusia 50 tahun. Ia tinggal sendiri, istrinya sudah 365 hari bermakam dalam tanah dekat rumahnya. Dua anaknya sudah menikah, punya anak, dan tinggal di kota seberang. Tak ada yang pulang dari kedua anaknya untuk memperingati satu tahun ibunya meninggal. Karyo merasa tidak apa, toh anaknya juga punya kesibukan dan mengurusi anak-anaknya.

“Maaf ya Buk, anak-anak tak ada yang datang, biar aku saja yang merawatmu kini. Kamu pasti sudah tenang disana, tidak ada lagi penyakit yang mengerogoti tubuhmu itu.”

Karyo melalui hari-harinya sendiri, mencari makan sendiri, bekerja untuk dirinya sendiri. Karyo berusaha menghidupi dirinya dengan pekerjaan serabutan, menggarap kebun tetangga-tetangganya dengan upah 30 ribu per hari.

Kala itu gagal panen sedang melanda kampung Karyo, kebun-kebun mengalami gagal panen karena hama yang tidak pernah terdeteksi menyerang hampir seluruh kampung Karyo. Karyo kehilangan lahan pekerjaanya, tak ada yang menyewanya untuk menggarap kebun lagi. Karyo kebingungan tak ada biaya untuk makan. Hingga siang itu ia menerobos ke kebun milik saudagar di kampungnya, mengambil bayam liar yang ada disana. Tak tahu nasib sialnya sedang menghampirinya, Karyo terlihat oleh warga lain, diarak keliling kampung hingga dituduh mengambil dan merusak kebun saudagar itu. Karyo mengalami sidang pahit, tidak memiliki pendukung dan dituduh untuk hal yang tidak ia lakukan, Karyo dihukum 20 tahun penjara, saudagar itu memiliki pengacara yang licik, dan untuk mencegah orang-orang kampung macam-macam dengan saudagar itu, untuk menunjukan betapa kuasanya ia.

Siang itu seorang pejabat sedang melakukan meeting penting, disebuah kafe dari Amerika yang ternama mereka duduk dalam ruangan full AC dengan makanan dan minuman yang pajaknya saja bisa membeli makanan lain di warung tegal gang-gang kecil. Sialnya pejabat itu, yang dapat kita sebut Romi sedang dalam operasi tangkap tangan oleh badan pemberatasan korupsi atau BPK Negeri Keadilan. BPK Negeri Keadilan adalah instansi milik pemerintah untuk menyaring koruptor di Negeri Keadilan kemudian diseret untuk dihukum. Romi mencoba lari dari pintu keluar, tetapi Romi akhirnya tertangkap oleh petugas yang sudah mengantisipasi.

Sidang Romi sangat lembut, pengacara tenar dan wartawan mewarnai ruang sidang Romi. Romi menggunakan kuasanya untuk mencegah dirinya menjadi narapidana kurang ajar itu katanya.

“Kau ‘kan pengacara mahal, cepat kau pikir bagaimana aku bisa berkelit.”

“Baik, Tuan. Asal uang sudah segepok.”

“Itu gampang, kemarin Bapak tidak menyita uang yang aku simpan di istri ketigaku.”

“Baik, Tuan.”

“Aku tidak mau sampai nanti duduk dan tidur di balik jeruji menyedihkan itu, aku ini orang terpandang tahu!”

Sidang yang disorot oleh hampir seluruh media mainstream Negeri Keadilan itu memutuskan untuk memberikan tiga tahun hukuman untuk Romi. Romi kemudian keluar mengunjungi wartawan yang sudah menunggu di luar, Romi berkelakar bahwa ini adalah jebakan untuk dirinya dan ia akan dengan senang hati menerima hukuman ini.

“Yah kalian lihat Bung Karno saja dipenjara diasingkan, aku ini orang baik untuk Negeri Keadilan.”

Di saat yang sama, Palu sudah memutuskan 15 tahun untuk seorang lansia yang dituduh mencuri dalam kebun milik saudagar, tapi siapa ia, entah Karyo atau Kari, siapa masyarakat tidak tau dan tidak peduli, toh Romi lebih penting, kata wartawan yang memburu berita Romi karena atasannya menargetkan ia untuk menulis 5 tulisan dari kasus Romi.

Lima bulan setelah Romi tidur dalam ruangan sempitnya, foto orang mirip Romi menghebohkan dunia sosial. Beberapa bulan setelah itu foto orang mirip Romi kembali heboh, hingga waktu Romi keluar, sekitar lima kali foto mirip Romi keluar dan terlihat di tempat-tempat hiburan, seperti menonton bola, menonton lomba marathon, hingga menonton konser. Romi keluar setelah 2,5 tahun bermain-main dalam sel. Sel yang telah dirombak oleh romi dengan membayar sejumlah uang terlihat dirombak kembali ketika Romi keluar, sementara itu seorang tua masih memenuhi waktunya dalam lapas karena ingin makan di Negeri Keadilan.

Romi keluar mengambil waktunya untuk kampanye dan berusaha menjadi wakil rakyat, menghabiskan banyak uang berkeliling daerah pemilihannya untuk dipilih kembali, lagi lagi dalam waktu yang sama terdapat lansia yang mendekam dalam lapas di Negeri Keadilan. Lalu siapa yang kriminal?

Share It On:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here