Oleh: Gladys

“Selamat pagi, Putri Maya,” sambut Arion sambil membungkukkan badannya. Pangkal rambutnya yang sudah memutih terlihat oleh Maya yang duduk di atas tempat tidurnya.

“Arion, ada air hangat?” tanya Maya

“Sudah kami siapkan, tuan Putri” jawab Arion sambil menunjuk mangkuk kristal di bawah salah satu kursi di kamar Maya.

Maya turun dari tempat tidurnya lalu duduk di kursi tersebut. Pelan-pelan ia masukkan kakinya ke dalam mangkuk kristal berisi air hangat. Tak lama, kakinya dipijat dengan lembut, pundaknya yang kaku dibuat rileks, lengannya juga dipijat sampai Maya menutup mata menikmatinya. Kemudian bibirnya merasakan ada yang menyodorkan sedotan. Tanpa pikir panjang Ia langsung menyedot isinya. Jus semangka terlezat yang pernah dia rasakan. Ahh, rasanya semua lelah dan capai di tubuhnya hilang seketika.

“Maya!” Tiba-tiba saja teriakan suara cempreng Virga membuat Maya membuka matanya. Maya sedang berbaring di kursi pijat sewaan yang ada di pinggir eskalator mall yang sedang Ia kunjungi saat ini. “Gue cariin lu malah disini. Jadi nonton gak?”

“Oh, iya iya,” kata Maya sambil bangun tapi tangan dan kakinya masih terjebak dalam mesin pijat. “Mba, mba. Tolong matiin,” kata Maya dengan memajukan dagunya ke arah tangan dan kakinya.

Perlahan Maya memotong steak daging sapi berkualitas tinggi di piringnya. Steak setengah matang yang mengeluarkan buliran sari dan kelembutan ketika digigit. Maya menutup matanya menikmati makanan kesukaannya itu. Pisau dan garpu kristal yang dipegangnya kembali memotong daging steak itu sampai piringnya benar-benar bersih. Anggur putih yang disiapkan Arion membuat steak yang dimakannya terasa lebih nikmat. Sambil mendengar alunan musik di ruang makan di kastilnya, Maya menikmati kemewahan untuk diri sendirinya itu.

“Udah selesai makannya?” tanya Virga. Piring bakmi goreng di depannya sudah bersih dan es tehnya juga tinggal sedikit. “Daritadi nasi gorengnya gak dimakan. Udah kenyang?”

“Hah? Belum kok,” kata Maya dengan cepat menyendokkan nasi gorengnya lalu memasukkannya ke dalam mulut. Karena terlalu cepat menelan, Maya sampai tersedak dan terbatuk-batuk. Virga menyodorkan es teh yang tadi diminumnya kepada Maya sambil memukul-mukul pundak Maya dengan pelan.

“Santai, bro. Gue tungguin kok,” kata Virga rada kesal. Maya masih terbatuk-batuk sambil mengelap mulut dan hidungnya dengan tisu.

*****

“Vir, sorry ya tadi ngerepotin lo,” kata Maya sebelum turun dari mobil Virga

“Woles,” kata Virga datar. Maya sebenarnya masih merasa tidak enak tapi wajah Virga sudah terlihat tidak nyaman. Daripada Virga makin kesal dengan keberadaan Maya, Maya hanya menghela napas panjang lalu pamit untuk masuk ke rumahnya.

“Neng geulis udah pulang? Belanja apa aja?” sambut Ibu dari ruang keluarga ketika Maya masuk ke dalam rumah. Ayah, Ibu dan Fandi semua sedang duduk di ruang keluarga menonton televisi.

“Tadi Maya belanja kalung sama gelang perak, Maya beliin buat Ibu juga kok tenang aja. Oh iya ini sepatu Adidas terbaru buat Fandi. Ayah maaf ya aku gak beliin apa-apa jam tangan edisi terbatas yang Ayah mau udah habis soalnya,”

“Gak belanja apa-apa kok. Cuma nonton habis itu makan,” jawab Maya. Ibu hanya mengangguk sambil tersenyum lalu kembali menonton televisi.

“Sini neng nonton bareng filmnya lagi seru,” kata Ayah sembari menunjuk televisi

Tidak seru, kata Maya dalam hati. “Maya mau langsung istirahat aja, Yah,” kata Maya lalu berjalan ke dalam kamar.

Maya meletakkan tas selempangnya di gantungan dan mengganti bajunya dengan baju tidur. Ia langsung merebahkan badannya di kasur single yang sudah dia tempati sejak kecil. Langit-langit kamarnya sudah mengelupas dan kayu plafon terlihat jelas. Lemari tua peninggalan neneknya masih ada di pojok kiri kamarnya. Di atas meja belajarnya ada laptop dan buku catatan. Berbagai jenis judul buku yang hanya Ia buka ketika akan ujian tersusun rapi di rak di atas meja belajarnya. Maya memutar badannya ke arah kiri mencoba untuk tidur. Masih jam 10 memang, tapi rasanya Ia ingin cepat-cepat tidur.

Maya melangkahkan kakinya masuk ke kebun anggur di belakang kastilnya. Berbagai macam anggur yang mulai berbuah membuat Ia ingin mencicipinya. Dipetiknya anggur dari pohon terdekatnya. Maya menikmati kesegaran air yang keluar dari anggur itu sampai membasahi lengannya. Angin sepoi-sepoi dari arah timur membuat pagi hari harinya terasa sejuk. Embun pagi di telapak daun pohon anggur dan kicauan burung di pagi hari menjadi hal favoritnya.

“Tuan putri, kendaraan Anda sudah siap,” kata Arion dari belakang memanggil Maya

“Baik, Arion,” kata Maya sambil mengangkat gaun birunya sembari jalan ke kereta kencana yang sudah terparkir di depan pintu kebun anggur. “Selamat pagi, Otto. Selama pagi, Kira,” sapa Maya ramah kepada Otto, pelayannya yang duduk di kusir kemudi dan Kira, kuda putih kesayangannya.

Arion membantu Maya naik ke atas keretanya. Hari ini Ia akan berkunjung ke kerajaan tetangga untuk menikmati pesta kebun merayakan hasil panen di kerajaan tersebut. Maya melewati kastil biru tempatnya tinggal. Kastil megah dengan aksen Eropa tetapi seluruh temboknya dicat dengan warna biru, warna kesukaan Maya. Pohon cemara mengelilingi kastil biru serta berbagai macam hijau-hijauan membuat kastil biru terlihat sejuk di mata Maya. Kebun bunga di samping kastil penuh dengan bunga tulip berbagai warna yang sedang bermekaran menambah keindahan kastil biru.

“Nenggg, mau tidur sampai kapan? Kamu gak sekolah?” teriakan Ibu dari dapur mengagetkan Maya sampai Ia terbangun dari tidurnya. Badannya masih di kamar yang sama, di kasur yang sama dan di rumah yang sama. Tangannya masih memeluk Arion, boneka kelincinya. Ketika Ia melihat jam dinding yang menggantung di sisi kiri kasurnya menunjukkan pukul setengah 6 pagi, itu tandanya Ia harus bangun. Ia harus bangun lagi. Ia harus sekolah lagi. Ia harus menjalani kehidupan lagi. Bukan “hidup” di kastil birunya. Ia paling benci saat-saat seperti ini. Saat-saat dimana Ia harus kembali ke dunia nyata yang sumpek meninggalkan dunia khayalan yang membahagiakannya. Tak bisakah Maya bahagia di dua dunianya?

Share It On:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here