Oleh: yangnulis

Kerinduanku menikmati hidup membabibuta. Rindu lembutnya gemericik air. Rindu angin yang mengayunkan daun-daun pepohonan hingga berjatuhan satu demi satu. Rindu melihat anak-anak yang iseng memainkan rentetan biduk milik Juragan Parman. Ah, mengingatnya saja terasa menenangkan.

Namanya Kampung Biduk. Aku sempat tinggal di sana beberapa waktu lalu. Dinamakan biduk sebab alat transportasi ini menjadi kendaraan utama warga untuk mengais rezeki, menghimpun dana guna memenuhi kebutuhan sehari-hari. Demi sesuap nasi, sehelai busana, dan sepetak hunian untuk sekedar berlindung dari terik matahari.

Bernaung di Kampung Biduk membuatku semakin mencintai negeri ini. Manusianya yang ramah dan bersahabat, benar-benar mengunci ragaku. Tak ada sedikitpun niat untuk hijrah sepetakpun dari negeri dengan julukan “Negeri Megabiodiversitas” ini.

Rasa takjub tak henti-hentinya terucap ketika perbedaan disatukan. Seperti yang kudengar beberapa waktu lalu di rumah Ago. Saudaranya, Aldi datang berkunjung dari kota yang tersohor dengan segala keriuhan fananya, Bandung.

“Di, lakasan nah! Lawas banar.”1

Nyarios naon ai maneh? Teu ngarti aing.”2

Pada akhirnya karena tidak memahami satu sama lain, mereka berbincang dengan bahasa Indonesia yang dibumbui logat daerah mereka masing-masing. Mulai dari intonasi, cara pengucapan dan tekanan pada kata tertentu. Sungguh menarik, bahwa perbedaan kecil tersebut dapat mengubah kesan pada suatu bahasa. Satu hal yang kutahu, mereka punya bahasa ibu yang berbeda. Aldi yang nyaring dengan bahasa dan aksen Sunda-nya serta Ago yang kental dengan dialek Banjar-nya. Terdengar jelas ketika mereka berbincang. Bahwa bukan bahasa Indonesia yang menjadi bahasa pertama mereka.

***

Tap tap tap. Lamunanku buyar. Ada yang mendekat padaku. Benar saja, si Merah rupanya. Derap langkahnya tegas, membuat siapapun yang mendengarnya akan berpikir bahwa ia adalah seorang rentenir buas yang akan segera menerkam pelanggannya.

“Hei Hijau, kapan kau akan keluar dari sana? Tampaknya sebentar lagi permainan berakhir. Hahaha!”

“Tunggulah. Aku masih miskin sekarang.”

Baik, aku sudah mengakuinya. Aku miskin sekarang. Bahkan hutangku masih tak terbayarkan hingga saat ini. Entah harus bersyukur atau justru mengamuk mengenai keberadaanku kini. Terdiam lesu dalam penjara. Haha, lelucon apalagi ini? Aku harus menunggu satu putaran lagi agar bisa bebas. Sebenarnya aku terbiasa membayar jika dihadapkan dengan situasi seperti sekarang. Ya, mau bagaimana lagi? Uangku telah terkuras habis untuk membayar pajak singgah, denda, dan pembelian lahan.

Sudah berkali-kali aku mengumpat. Tapi percuma saja, sekeras apapun aku mencoba, tuanku itu tak akan bisa mendengarkannya. Dia sama murungnya sepertiku sekarang. Salah sendiri, sudah tahu uang menipis masih saja dihambur-hamburkan untuk membeli tanah yang keuntungan dari denda singgahnya tak seberapa. Miskin kan jadinya.

Apapun itu, aku hanya berharap satu putaran permainan akan segera berlalu sehingga aku dapat kembali ke negeriku. Negeri yang pada putaran sebelumnya ingin sekali kubidik dan kupatenkan menjadi milikku seutuhnya. Negeri yang punya banyak rentetan biduk di dalamnya. Negeri yang akhirnya berada dalam genggamanku setelah Tuanku berhasil menempatkanku pada lahan bebas parkir hingga kami menjadi kaya raya dalam sekejap. Meskipun keuntungan yang kami peroleh dari denda singgah bidak-bidak lain di negeriku tak seberapa, aku tetap bahagia.

“Ifan, udah jam segini. Kita selesai aja gimana?”

Sial. Permainan monopoli ini sungguh membuatku meriang. Mengapa aku dilahirkan sebagai bidak hijau yang hanya bergerak ketika tuanku mendapat giliran melempar dadu? Belum juga aku keluar dari penjara, sekarang apa? Permainan selesai? Hahaha, kalian pasti bercanda. Ketahuilah, candaan kalian tidak membuatku tertawa.

Baiklah karena ceritaku sepertinya akan segera berakhir, aku harus mengatakan sesuatu. Aku adalah sebuah bidak yang ambisius membidik negeri penuh biduk untuk kutinggali, kubangun hotel dan rumah di dalamnya. Tak ada alasan. Aku sudah cinta pada pandangan pertama ketika melaluinya di putaran awal permainan.

 

1Bahasa Banjar berarti : Di, cepat! Lama banget.

2Bahasa Sunda berarti : Kamu ngomong apa? Aku tidak paham.

Share It On:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here