Oleh: Nat

Disinilah aku, hidup pada zaman dimana semua manusia sudah dimanjakan oleh kecanggihan teknologi yang bisa memudahkan semua pekerjaannya. Mulai dari mencuci baju, mengepel lantai, cuci piring, hingga untuk menyalakan televisi saja bisa memakai robot. Apalagi perusahaan-perusahaan besar. Hampir semua robot di duniaku bisa melakukan hal yang biasa dilakukan manusia, sehingga terkadang sulit membedakan mana manusia dan mana yang robot. Kaum robot mempunyai tanda baterai di lekukan siku, sedangkan manusia tidak mempunyai hal tersebut. Manusia tidak mengerti jika kita mempunyai tanda seperti itu, kecuali manusia yang menciptakan kita. Perbedaan yang melekat lagi adalah, manusia memiliki perasaan dan robot tentunya tidak. Mereka hanya melakukan perintah dari sistem penyusunnya.

Aku ditemukan oleh penciptaku, sebut saja Pak Ogi di sebuah rongsokan besi yang terbuang. Aku bagaikan sebuah sampah yang tidak layak pakai. Sampai suatu saat sang manusia hebat ini membuatku kembali hidup dengan merenovasiku kembali. Aku hidup kembali seperti layaknya manusia, ya meskipun memang sebenarnya aku adalah robot. Aku benar-benar sayang sekali dengan penciptaku, dia menghidupkanku bukan untuk sebagai pelayannya, tetapi sudah dianggap sebagai anak katanya.

Tidak jauh dari tempat tinggalku terdapat sebuah kafe yang biasa aku huni untuk melakukan pekerjaanku sebagai penulis. Hanya di sana aku bisa mendapatkan inspirasi dari secangkir kopi. Suatu hal yang unik bukan, sebuah robot bisa membuat suatu karya tulis yang dibaca oleh kaum manusia. Mataku menatap seluruh ruangan sambil menyeruput kopi panas yang sudah dingin karena sudah beberapa menit aku baru menyentuhnya. Tiba-tiba saja ada suara sentakan yang membuatku kaget dan membuat tubuhku sedikit terguncang.

“Sana kucing, jangan dekat-dekat, aku tidak ada makanan.” Sentak ibu-ibu itu sambil menendang kucing tersebut. Aku sangat tidak bisa melihat seekor hewan disakiti seperti itu. Seketika hatiku tergerak dan langsung menghampiri ibu-ibu itu dan mengambil secara paksa kucing dari kakinya.

“Maaf, Bu. Jika memang tidak ada makanan untuk kucing, tolong jangan sakiti kucing ini.”

“Yaudah bawa aja.” Jawab ibu-ibu itu.

Dengan tergesa-gesa, aku langsung membawa kucing tersebut ke mejaku dan berberes segera pulang sembari membawa kucing itu. Kututup pintu kafe itu dengan suara dentuman yang keras menandakan aku memiliki perasaan yang sedang marah.

“Aduh, nih sepeda rusak apa gimana sih kok gamau jalan.” Gumamku.

“Permisi, sepertinya anda sedang kesulitan ya?” Sautan seorang pria yang daritadi melihatku saat aksi debatku dengan ibu-ibu yang kasar dengan kucing tadi.

“Oh iya nih, kayaknya mogok.” Jawabku sambil berharap dia.

“Sini coba saya lihat, mungkin saya bisa benarkan.” Jawabnya.

Tak lama setelah dia melihat-lihat dan memperbaiki sepeda motorku, tiba-tiba motorku sudah bisa di gas dan bisa digunakan.

“Wah, terimakasih banyak.” Tuturku.

“Oh iya sama-sama. Kalau boleh tau kamu tinggal dimana? Mungkin bisa saya antar, kan kamu membawa kucing juga.” Jawabnya.

“Wah, terima kasih sekali! Saya tinggal di gang 5 kok, tidak jauh dari sini.” Jawabku.

Entah kenapa hatiku berdebar saat dia berbicara sembari menatap mataku. Karena sejauh ini aku belum pernah merasakan hal yang seperti ini. Gang demi gang kami lewati sambil kita bercakap mengenai topik yang aku tidak tahu. Tentang dirinya, dan begitupun sebaliknya.

Setelah memasuki gang yang sudah kuberitahu, sampailah kita di depan rumahku. Aku langsung berdiri dan bersiap-siap untuk masuk ke rumah dan membawa kucing itu ke tampat yang lebih layak.

“Ehm, ngomong-ngomong tadi kita belum tahu nama masing-masing, lho. Hehe.” Ujarnya.

“Oh iya, ya ampun! Nama saya Vyo, nama kamu siapa?” Tanyaku.

“Nama aku Tyan.” Jawabnya.

Entah kenapa rasanya hati ini bergetar saat dia memutuskan untuk menyebutkan namanya sambil menatapku. Seperti baru pertama kali terjadi di hidupku.

“Boleh nggak, nanti aku ke sini untuk melihat kucingnya? Soalnya aku juga suka kucing, lho. Hehe.” Sambungnya.

“Oh iya? Boleh dong, kita rawat saja kucing ini berdua.” Jawabku. Sebenarnya aku sangat berat untuk berkata seperti itu karena untuk mencoba menyambung pembicaraan saja sudah kaku dan malu, apalagi menawarkan hal seperti itu.

“Wah, boleh banget tuh.” jawabnya.

Aku benar-benar merasa ingin terbang jika mendengar jawaban dia seperti itu. Entah kenapa rasanya sangat senang akan sering bertemu dia dan merawat kucing bersama. Dengan hanya mengucapkan salam, kemudian dia memutuskan untuk pulang. Bodohnya aku, kenapa aku tidak meminta kontak dia dan membiarkannya langsung pergi. Tapi ya sudahlah, namanya juga wanita aku menyadari terkadang dari 100 persen hak kita, 50 persennya adalah menunggu. Aku hanya berharap bahwa esok dia akan kesini lagi meski hanya untuk menengok kucing.

Sudah hampir tiga hari semenjak aku diantarkan pulang, kita belum pernah bertemu lagi. Sampai suatu saat setelah aku pulang kuliah, tiba-tiba ada seorang lelaki yang dari jauh saja sudah terlihat tampan. Setelah aku mendekat ternyata itu Tyan. Rasanya hari ini aku benar-benar senang sekali dan tidak tau harus berkata apa.

“Oh, hai Vyo! Maaf untuk kemarin-kemarin aku tidak kerumahmu.” Ujarnya.

“Oh, tidak masalah Tyan. Apa kamu mau lihat kucingnya sekarang bagaimana?” Tanyaku.

“Boleh, tapi setelah itu aku mau mengajakmu keluar, bisa tidak?” Ujarnya.

Benar-benar aku sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi selain ‘iya aku mau’. Setelah melihat kucing, aku langsung pergi dengan Vyo ke sebuah tempat makan yang disana banyak sekali coklat. Kita berbincang banyak hal di tempat tersebut sembari menyeruput coklat panas yang disajikan tempat makan tersebut. Aku merasa nyaman berbicara mengenai banyak hal dengan dia, terkecuali masalah bahwa aku ini hanyalah seorang robot yang ditemukan oleh Pak Ogi. Aku tidak berani mengungkapkan diriku yang sebenarnya, karena aku belum siap oleh reaksi yang akan dia berikan padaku, apakah akan meninggalkan atau menetap.

Aku hampir lupa waktu saat mengobrol dengannya, sampai tidak sadar bahwa sekarang sudah jam 8 malam. Dua jam lagi aku harus sampai rumah untuk di-charge. Karena jika tidak, maka tubuhku tidak bisa digunakan lagi selama seminggu dan pasti Pak Ogi akan marah besar jika aku tidak segera pulang.

“Ya ampun, sudah jam 8 malam. Kita pulang yuk?” Ujarku.

“Oh, kamu sudah disuruh pulang ya kalau jam segini?” Jawabnya.

“Iya, nanti Pak Ogi bisa marah besar seperti singa, hehe. Karena aku anak satu-satunya, Vy.” Jawabku.

“Okedeh, siap nyonya! Hehe.” Jawabnya.

Setelah beberapa menit menempuh perjalanan ke rumahku, akhirnya dia mengeluarkan kata-kata yang aku harapkan, yaitu meminta kontakku supaya di saat kita tidak bisa bertemu, kita masih bisa bertegur sapa melalui telepon.

Seperti dugaanku, Pak Ogi langsung memerahiku karena pulang terlalu malam. Sedangkan satu jam lagi tubuhku akan melemas dan mati jika tidak di-charge. Untungnya, aku melihat Tyan sudah langsung beranjak pulang dan tidak melihatku di-charge.

Keeseokan harinya, aku melihat ada banyak chat dari dia dan aku tidak bisa membalas karena aku sedang dalam kondisi di-charge. Aku langsung meminta maaf padanya karena tidak bisa membalas chat-nya dengan alasan aku ketiduran supaya dia tidak curiga. Entah sampai kapan aku harus menyembunyikan semua ini.

“Eh hari ini kita pergi ke Damala Street yuk?” Ajaknya. Damala Street adalah tempat dimana semua mata manusia bisa dimanjakan dengan banyak makanan buatan para robot. Kami berangkat pukul 4 sore supaya pulangnya tidak terlalu larut malam. Aku membiasakan diri untuk menyalakan alarm pukul 8 malam, supaya ada pengingat jika ini sudah terlalu malam.

Kami keasyikan memakan makanan yang dibuat oleh robot-robot ini sehingga kami lupa waktu, dan ternyata ponselku baterainya habis dan alarmnya tidak nyala. Untungnya aku memakai jam tangan dan melihat waktunya sudah menunjukkan pukul 9 malam. Waktu yang ditemput untuk mencapai rumah dari Damala Street sekitar satu jam, itu pun kalau sudah ngebut.

“Ya ampun Tyan, ini sudah jam 9 ayo kita pulang.” Ketusku.

“Apakah kamu tidak bisa izin lebih lama lagi?” Jawabnya.

“Tidak bisa seenaknya!” Jawabku sambil membentak.

Dia langsung berdiri tanpa mengucapkan sepatah katapun. Aku merasa tidak enak dengannya yang baru kenal denganku langsung aku bentak seperti itu. Aku hanya tidak ingin dia tau aku yang sebenarnya. Aku tidak mau kehilanganmu Tyan.

Di perjalanan aku justru memikirkan tentang perkelahianku dengan Tyan, padahal beberapa menit lagi aku akan mati. Sepi yang kurasakan sepanjang perjalanan membuatku harus memutuskan untuk memulai terlebih dahulu pembicaraan dengan cara meminta maaf padanya.

“Tyan, aku minta maaf.” Ucapku.

“Untuk apa?” Jawabnya.

“Bentakanku yang tadi.” Jawabku.

“Tidak masalah, itu memang aku yang salah, aku memang egois.” Jawabnya.

“Tidak Tyan, bukan ka-a-m-” Belum sempatku melanjutkan pembicaraan, bateraiku sudah lemah dan langsung saja aku tertidur seperti orang pingsan di mobil Tyan.

“Ovy, Ovy bangun. Hey kamu kenapa?” Ujarnya dengan nada penuh khawatir.

Setibanya di rumah, ternyata pak Ogi sudah menunggu kedatanganku sambil menyilangkan tangan di depan rumah dan memarahi Tyan karena sudah membawaku sampai malam.

“Gimana sih kamu Tyan!” Ujar Pak Ogi.

“Maafkan saya, Om. Ini memang salah saya.” Jawabnya, aku kasihan sekali dengannya.

Tyan membawaku kedalam dan melihat proses charging pada diriku, Pak Ogi tidak mengetahui keberadaan Tyan yang seharusnya tidak tau bahwa aku ini adalah seorang robot.

“Lho mau diapakan Ovy om?” Tanyanya.

“Dia ini robot, jadi setiap jam 10 malam harus di-charge sampai pagi.” Jawab Pak Ogi.

“Apa? Selama ini dia robot? Dia tidak pernah cerita sama saya. Dan dia juga memiliki perasaan seperti manusia. Dia penyayang hewan, dia bilang kalau merasakan nyaman jika berada pada dekat saya.” Jawab Tyan dengan ketus sambil mengangkat tangan dan memegang kepala seperti orang yang marah karena mengetahui kebenaran yang membuatnya kecewa.

“Karena dia menyukaimu Tyan, dia tidak mau kau mengetahui yang sesungguhnya. Untuk masalah dia memiliki perasaan seperti manusia, dulu saya memasukkan teknologi yang super canggih dari Jepang ke dalam tubuhnya.” Jawab pak Ogi.

“Lalu sampai kapan Ovy bisa pulih?” Tanya Tyan.

“Seminggu kedepan.” Jawab Pak Ogi.

Setelah seminggu aku baru bisa pulih dari keadaan yang lalu, baru aku bisa menghubungi Tyan. Aku menelepon berkali-kali untuk menanyakan kabarnya dan ingin bertemu meskipun hanya untuk masalah kucing. Aku berharap dia belum kecewa terhadapku dan mau berteman denganku lagi. Tapi kurasa sudah hampir 20 kali aku telepon ternyata tidak ada jawaban. Mungkin di sinilah aku, dengan anggapan bahwa tidak ada Tyan di hidupku lagi.

Share It On:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here