Oleh Aryo Seto

Saat tulisan ini dibuat, saya teringat dengan sosok anak muda yang berasal dari Hong Kong. Perawakannya yang kurus dan memakai kacamata tebal mungkin terlihat seperti anak kutu buku. Namun jangan salah, anak tersebut merupakan salah satu orang yang paling ditakuti oleh pemerintah Tiongkok. Gerakan yang dipimpinnya mampu membuat pemerintah Tiongkok ketar-ketir terhadap wilayah Hong Kong yang mereka jadikan daerah otonomi tertinggi.

Anak tersebut mampu menggerakan masa dari kalangan Mahasiswa hingga rakyat Hong Kong untuk mendesak pemerintah Tiongkok melegalisasi pemilihan demokratis di wilayah Hong Kong yang jelas sangat berbeda dengan dasar politik Tiongkok yang berhaluan Komunis. Gerakan tersebut kelak akan dikenal dengan nama “Revolusi Payung” dan anak tersebut dikenal dengan nama Joshua Wong. Oh ya, saat memimpin gerakan tersebut umur Joshua baru 17 tahun.

Rentetan kejadian-kejadian di dunia pernah mencatat bagaimana peran para pemuda yang mampu membawa perubahan bagi negara-nya. Sebut saja Nelson Mandela yang menentang hukum Apartheid  hingga ia dijebloskan dalam penjara selama 20 tahun, ada juga Che Guevara dengan Castro bersaudara yang berani menentang rezim Batista yang korup di Kuba. Di Indonesia sendiri, kita mengenal peran para pemuda dalam melawan pejajah kolonial. Dari yang berperang mengangkat senjata hingga berperang kata di meja perundingan. Semua itu rata-rata dilakukan oleh para pemuda di zamannya seperti Bung Karno, Moh. Hatta, Amir Syarifuddin hingga Tan Malaka yang selama hidupnya bersembunyi di antara rimba dunia hanya karena ia berjuang bagi negeri ini.

Sebuah perubahan sudah pasti tidak akan tercipta tanpa adanya suatu keadaan dan aksi nyata yang tanpa alasan.  Karena segala sesuatu membutuhkan sebab dan akibat hingga terjadi suatu reaksi yang menggerakan geliat perubahan itu sendiri. Suatu kondisi dimana membutuhkan pemikiran kritis dan pemahaman akan kondisi lingkungan sekitar yang seharusnya bisa dipahami oleh para pemuda. Sehingga pada saatnya akan tiba gerakan dimana para pemuda tergugah untuk melakukan gerakan perubahan yang lebih berarti bagi kehidupan disekitarnya.

Ironisnya, di negara ini mayoritas pemuda-pemudanya lebih meyukai selfie dan berias diri ketimbang menumbuhkan empati. Pemuda-pemuda yang juga lebih senang membawa nama dan kekuatan keluarganya ketimbang membangun kekuatan dirinya sendiri untuk melakukan perubahan, seperti kasus beberapa saat lalu ketika seorang pelajar mengaku-ngaku sebagai anak jenderal. Lalu, banyak pula yang lebih memilih membaca feed media sosial yang kadang berisi berita hoax dan terpancing daripada membaca buku atau literatur yang terbukti kebenarannya, serta dapat menambah ilmu. Alhasil, banyak sekali pemuda yang akhirnya tumbuh menjadi seorang yang pragmatis, menyukai hal instan dan minim kesadaran.

Pernyataan diatas mungkin terdengar satir dan menyindir para pemuda masa kini. Namun, memang begitu adanya yang terjadi di negara ini yang sepertinya sangat relevan. Tapi tenang, banyak pula pemimpin dan calon pemimpin muda negeri ini yang mempunyai kualitas serta kemampuan kepemimpinan yang anti mainstream dibandingkan dengan keadaan pemuda-pemudi kekinian. Beberapa pemimpin tersebut banyak yang sibuk membangun kekuatan dirinya serta menyadarkan kawan-kawannya untuk bergerak melakukan perubahan bagi masyarakat. Ada pula yang melakukan kampanye sosial dan melakukan aksi solutif pada lingkungannya. Selain itu masih banyak lagi hal-hal yang mereka lakukan untuk lingkungan sekitar dengan fokus hanya pada satu tujuan utama, yaitu perubahan.

Memang negeri ini sedang membutuhkan perubahan-perubahan yang ada untuk mengganti hal-hal lama yang terkadang sudah rancu, bobrok, korup, bahkan tidak adil. Untuk melakukan perubahan tersebut, negeri ini membutuhkan masyarakat yang sadar, waras, dan bermental baja karena perubahan itu membutuhkan tekad yang kuat agar berjalan. Namun untuk menyelesaikan itu semua, generasi muda mempunyai beban yang harus mereka rengkuh karena segala sesuatu perubahan yang mereka buat pada akhirnya akan diwariskan ke generasi selanjutnya. Baik buruknya suatu perubahan nantinya terlihat dari generasi yang akan mengalami perubahan itu sendiri.

Jadi, walaupun terlihat naive. Para pemuda sejatinya harus mampu menempatkan dirinya di garis depan dalam hal kesadaran dan intelektualitas untuk melakukan aksi perubahan. Agar nantinya, mereka paham dan mampu menggerakan kesadaran massa akan pentingnya perubahan.

Share It On:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here