Oleh: Ajeng Ardhia Arya Kusuma Putri

Kartini dan cerita perjuangannya memaksa Saya berspekulasi lebih jauh mengenai emansipasi, terutama setelah membaca Seri Sastra Klasik “Cultural Heritage” yang menafsirkan surat-surat Kartini dalam terjemahan Armijn Pane yang cetakan pertamanya terbit di tahun 1945. Setiap tahun di bulan April, di seluruh negeri ini Kartini diperingati sebagai golakan emansipasi oleh perempuan. Kartini yang lahir 21 April 1879 adalah pengangan-angan, yang memiliki banyak cita-cita dan selalu melihat ke dalam. Apa yang berat dilihatnya, apa yang kurang adil di dunia luar, apa yang menyedihkan hatinya, diperjuangkannya. Kartini adalah seorang penunjuk jalan bagi kaum wanita.

Wanita sendiri, dalam kultural Jawa dipahami sebagai “wani ditata”, yang artinya berani ditata atau bersedia diatur oleh pria. Feodalisme dalam kata “wanita” sangat tampak, yakni bahwa pria adalah pihak yang memiliki kuasa penuh atas wanita. Wanita adalah sosok yang diinginkan pria, mengobjekkan dirinya, menjadi abdi bagi pria. Sifat yang melekat pada wanita cenderung pasif, seperti lemah, halus, gemulai, tunduk, patuh, mendukung, mendampingi, mengabdi, dan menyenangkan pria. Oleh karena itulah muncul istilah wanita sebagai kanca wingking atau suargo nunut neroko katut.

Emansipasi yang diperjuangkan Ibu Kartini saat ini dimaknai lain oleh banyak wanita. Kesetaraan gender yang diusung, hak pembebasan, liberasi, semua itu tidak lain merupakan bentuk feminisme yang sejak 1990 berkembang di AS. Kemunculan isu ini berasal dari buku karya Betty Freidan yang berjudul The Feminine Mystique (1963) yang menerangkan bahwa peran tradisional wanita sebagai ibu rumah tangga dan perilaku seksisme adalah faktor utama penyebab wanita tidak berkembang kepribadiannya. Isu ini yang kemudian terus berkembang dan diperjuangkan orang-orang feminis.

Sebenarnya bentuk seksisme sendiri sebenarnya sudah banyak ditemukan di buku pelajaran sekolah yang digunakan berbagai negara berkembang. Menurut UNESCO, terlalu sering figur perempuan dalam buku ditunjukkan sebagai orang yang melakukan pekerjaan rumah tangga. Bias gender ini terus-menerus menurunkan motivasi anak perempuan, harga diri dan partisipasi mereka di sekolah. Lalu apakah core beliefs di masyarakat sekejam itu sehingga para feminis getol dalam menentang seksisme? Saya memiliki beberapa contoh yang saat peringatan Women’s March lalu banyak diangkat.

“Kamu kok marah-marah terus? Lagi mens ya?”

“Jadi wanita jangan pinter-pinter amat, nanti suaminya ngerasa disaingin.”

“Wanita lebih perasa, laki-laki lebih rasional.”

“Kamu jangan pamer badan gitu. Nanti bikin nafsu orang, terus diperkosa deh.”

Jika kemudian kepercayaan-kepercayaan ini yang disebut “sexism”, saya rasa seksisme terhadap wanita akan abadi, meresap, menjadi budaya, dan mendarah daging jika feminisme terus diperjuangkan tanpa nilai-nilai yang jelas. Rasa tidak terima akan seksisme dapat melekat dan menginfeksi tubuh juga kehidupan wanita feminis. Menjauhkannya dari arti emansipasi dan penyetaraan yang selama ini mereka usung.

Memang sesulit apa memberi pengertian misalnya bahwa wanita saat menstruasi itu mengalami kram dan nyeri tapi bukan berarti marah-marah atau emosi karena hal itu? Setiap hari pun wanita bisa saja emosi karena banyak hal. Kemudian laki-laki jika memiliki pasangan yang lebih pintar tentu akan bangga dan senang karena istrinya baik dalam mendidik anak, mengatur hidupnya sendiri, dan punya rekan yang bisa membantunya menjaga rumah tangga. Apa semua orang akan berpikir begitu? Tidak. Lalu bagaimana bisa mengeneralisir sebuah anggapan dan menyatakannya sebagai seksisme?

Untuk mematahkan argumen lainnya, studi yang dilakukan MindLab dapat menunjukan bahwa laki-laki lebih emosional dari wanita, hanya saja mereka pintar dalam menyembunyikannya. Jadi baik wanita maupun laki-laki selalu dapat berpikir rasional maupun emosional. Wanita yang cerdas dan banyak berinteraksi tentunya akan memahami ini. Bukan langsung membenci dan menyalahkan core beliefs yang tercipta.

Selain itu mengenai pemerkosaan maupun pelecehan. Mungkin itu bukan salah wanita. Korban juga bisa saja seorang laki-laki. Pelaku yang melakukan tindakan tersebut sudah dari sananya memiliki niat jahat. Tetapi kenapa marah saat dilarang berpakaian tertutup? Memang sekalipun si wanita mengenakan rok panjang, hijab maupun cadar pemerkosaan tetap bisa terjadi. Tetapi berpakaian terbuka berpeluang besar untuk menimbulkan nafsu lawan sejenis. Ayolah, melihat dosen laki-laki memiliki poster tegap dan dada bidang mengenakan kemeja ketat saja, Saya yang wanita langsung membayangkan memeluknya saat itu juga.

Perlu diketahui, bukan seksisme semacam itu yang menjadi kegelisahan Kartini dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang. Kartini menuliskan kegelisahan hatinya pada adat dan budaya yang mengungkung wanita dalam menuntut ilmu. Kartini memperjuangkan pengajaran dan pendidikan anak-anak wanita, bukan karena menginginkan anak-anak wanita itu menjadi saingan laki-laki melainkan karena ia yakin pendidikan memiliki pengaruh besar bagi wanita dan mereka dapat lebih cakap dalam melakukan kewajibannya yaitu menjadi Ibu dan mendidik anak dari kecil. Bukankah anak yang dibesarkan dari Ibu yang berpendidikan akan sangat berbeda kualitasnya dengan mereka yang dibesarkan secara asal? Inilah yang berusaha diperjuangkan Kartini saat itu.

Nilai perjuangan ini juga yang seharusnya bisa melawan segala bentuk perlakuan seksisme yang wanita terima. Melawan kepercayaan-kepercayaan buruk dan salah yang tertanam di masyarakat mengenai wanita dan peran utamanya sebagai anak, istri, dan ibu. Cukup kata “perempuan” saja yang mengalami peyorasi yang maknanya kemudian berubah menjadi sekedar jenis kelamin, manusia yang dapat menstruasi, hamil, melahirkan anak dan menyusui. Jangan sampai nilai perjuangan Kartini juga berakhir begitu. Tinggalkan paham liberalis yang justru menjauhkan wanita dari fitrahnya, pemicu seksisme yang nyata.

“If you think women should have the same rights as men, you are a feminist. Seriously, you are.”

Share It On:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here