Oleh: Ilham Fathur Ilmi

“Kita hidup di zaman dimana budhi semakin tercerabut menghilang dari kehidupan kita,” tutur guru saya suatu waktu. Sedikit banyak saya cukup setuju dengan pernyataan beliau. Jika merujuk kepada teori generasi, mayoritas penduduk yang biasa kita temui merupakan rentangan generasi dari generasi X sampai Z. Berdasar pada karakter umum tiap generasi, terkhusus pada generasi Z atau yang biasa dikenal sebagai generasi internet, perkembangan teknologi cukup banyak menjadi andil dibalik tergerusnya nilai-nilai budi pekerti di tengah kehidupan masyarakat.

Semangat gotong royong yang (katanya) menjadi ciri khas bangsa Indonesia semakin meluntur. Hal ini disebabkan oleh kecenderungan individualisme yang semakin menguat sebagai dampak dari perkembangan teknologi yang begitu melesat. Di zaman serba canggih ini, kehadiran berbagai teknologi semakin memudahkan manusia dalam melakukan segala aktivitasnya. Hal tersebut yang kemudian semakin menanamkan rasa senang terhadap segala hal yang mudah dilakukan pada otak. Simpel, jadi. Dalam berbagai aspek efisiensi, memang perkembangan teknologi ini terasa menyokong dan bersifat positif, namun kebiasaan mendapatkan segala yang serba instan membuat masyarakat cenderung enggan bersusah payah. Jika dunia sebelum memasuki era perkembangan teknologi masif terasa begitu luas untuk dieksplorasi setiap individu, sekarang secara umum bagi kebanyakan orang yang terbiasa dimanja dengan kemudahan teknologi, dunia tak lebih dari tempat-tempat yang biasa dikunjungi secara rutin. Kamar? Rumah? Tempat bermain? Sekolah? Tempat bekerja? Selesai.

Kecenderungan individualisme yang saya singgung sebelumnya ditambah dengan katalisasi kecenderungan egosentris menjadikan masyarakat semakin jauh dari sifat tenggang rasa serta semangat gotong royong, dimana keduanya merupakan salah satu akar pondasi dari ajaran budhi. Asing dengan kata budhi? Budhi adalah ajaran tata laku yang berkembang di nusantara sebelum degradasi moral melanda bangsa kita. Singkat kata, inti dari ajaran budhi sebenarnya adalah penjagaan akan kepekaan sosial agar tercipta kehidupan yang baik, seimbang, dan sentosa. Menjaga budhi adalah menjaga keharmonisan arus perputaran hidup. Semakin hilang ajaran budhi semakin rusak keseimbangan yang ada. Ketimpangan sosial yang semakin marak terjadi di sekitar kita merupakan tanda dari semakin sedikitnya masyarakat kita yang berpegang kepada ajaran budhi.

Hari Korps Cacat Veteran Republik Indonesia (KCVRI) yang diperingati tanggal 19 Mei kemarin masih segar kiranya jika kita gunakan sebagai bahan refleksi diri. Merenung sejenak, menghitung-hitung segala kekurangan kita untuk berintrospeksi ke depannya. KCVRI merupakan organisasi yang dibentuk sebagai penghargaan pemerintah terhadap cacat veteran yang telah memperjuangkan semua yang dimilikinya untuk kepentingan bangsa. Di luar alpanya pemerintah dalam meninjau kembali PP yang mengatur besarnya tunjangan yang diberikan kepada cacat veteran, para cacat veteran itu mengajarkan kepada kita mengenai ketulusan, totalitas, dan pengabdian kepada negara. Dengan pengabdian mereka dahulu, memang mereka tetap hidup di bawah garis sejahtera saat ini. Namun itu semua terjadi semata-mata karena ajaran budhi tidak lagi bersemi di dalam nafas para pemangku kuasa dan moral yang dimiliki mereka pun kurang lebih sebenarnya merupakan representasi dari moral bangsa kita secara umum. Dengan menghidupkan kembali ajaran budhi, semoga banyak orang yang semakin tertarik untuk menghidupkan ajaran ini kembali dan semoga dengan itu dapat mengurangi banyak ketimpangan sosial yang terjadi pada bangsa kita. Menyongsong, menyambut masa depan kebangkitan bangsa Indonesia menuju bangsa yang sejahtera.

sumber gambar: https://journalistarter.files.wordpress.com/2016/02/veteran-indonesia.jpg?w=664&h=170&crop=1

Share It On:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here