Oleh : Oktavianis K

Sering kita membaca atau mendengar bahwa media massa menempati posisi ke empat dalam sistem demokrasi negara ini. Media massa kerap kali dikatakan juga sebagai jembatan antara masyarakat dan negara. Jika berfikir lagi, media massa digerakkan oleh sekumpulan orang yang merusak sucinya kertas dan dinding sosial media dengan seni huruf alphabet, coretan dan masih banyak lainnya. Berbeda dengan oknum di badan legislatif, eksekutif, dan yudikatif, yang sering mengatasnamakan segala pekerjaan dan apa yang dilakukan adalah atas nama rakyat. Bahkan duduknya mereka sekarang ini mungkin bisa jadi atas nama pencitraan semata.

Ada secuil hal menarik jika membicarakan terkait media massa. Seringkali oknum media massa berteriak dengan lantang mengatakan bahwa segala informasi yang mereka sajikan adalah sesuai realitas dan layak diperbincangkan. Padahal, realitas yang mereka umbar itu sudah tercemari tangan wartawan, pimpinan redaksi, pemegang saham, atau pemilik 1001 kepentingan. Tapi lucunya, tetap saja mereka yang ‘membutuhkan’, berlomba-lomba untuk menjadi pengisi headline. Mungkin mereka sependapat dan sepemikiran dengan Maxwell E Mc. Combs & Donald Shaw (1972) yang mengatakan bahwa media massa seperti halnya lahan subur yang mampu mempengaruhi khalayak agar sependapat bahwa inilah isu utama dan penting. Kenyataannya tahta headline pasti akan bergeser, jika ada lebih menarik. Sama halnya dengan generasi atau masyarakat luas saat ini. Jika mereka tidak mampu menunjukkan suatu hal yang bermakna atau berarti, jangan pernah bermimpi menjadi pengisi headline media massa.

Banyak media massa menjamur tak karuan di negara ini. Mereka memiliki begitu banyak pasukan yang rela turun ke lapangan hanya untuk sekedar jemput bola. Ironisnya, media massa ternyata menyiapkan ruang yang dinamakan rubrik opini untuk berbagai kalangan. Mungkin tujuan mereka adalah agar suara-suara yang seharusnya terdengar, bisa lebih lagi mencakar langit. Tidak terkubur bersama jasad yang berakhir dengan penyesalan. Seberapa pentingnya opini berbagai kalangan sampai media bersusah payah menyediakan ruang?

Mahasiswa, generasi muda, atau generasi penerus bangsa, atau generasi apapun itu, saat ini kurang bisa mengaktualisasikan suara, pikiran, dan pendapat mereka karena terjangkit wabah krisis menulis. Jadi kenapa media massa masih repot menyiapkan rubrik opini? kebanyakan dari mereka faktanya lebih memilih diam, menunggu, duduk manis memperhatikan ditemani secangkir kopi.

Akan tetapi muncul angin segar di kalangan mereka, yang selanjutnya disebut media mahasiswa. Sejarah melukiskan dengan indahnya bahwa sampai saat ini banyak penulis berpengaruh yang lahir dari rahimnya media mahasiswa. Bahkan mereka dengan berbagai gaya merepresentasikan keresahannya lewat secarik kertas dan berbagai upaya agar bisa bersuara lantang dan keras.

Lalu, mampukah mahasiswa saat ini bergerak lebih? Bergerak berdasarkan pemikiran dan hati nurani? Tanpa adanya indikasi yang seterusnya dinamakan hasutan atau hanya sekedar ikut belaka? Tidak hanya duduk sebagai komentator melihat live-nya ‘sinetron’ negeri ini dan dilanjutkan dengan evaluasi, lalu pergi. Mampukah generasi saat ini bergerak nyata, mengebrak negeri ini, membentuk opini, bijaksana, kritis, berprestasi bukan sensasi, menciptakan tulisan yang tajam, cerdas, orisinil? Masih mampu? Masih bisa? Atau masih belum terpikirkan? Di bahu siapa negeri ini kelak akan bersandar, jika banyak yang bungkam.

Share It On:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here