Kotoran kuku, mungkin bagi sebagian orang kotoran kuku hanya dianggap sebagai kotoran tubuh yang harus cepat dihilangkan, karena bisa menyebabkan gangguan kesehatan seperti cacingan serta bisa menandakan bahwa tubuh seseorang kurang terjaga kebersihannya. Dengan segala keburukan dari kotoran kuku menempatkan dia menjadi salah satu hal yang ada pada tubuh manusia dengan derajat yang paling hina. Namun, kotoran kuku ini dapat membantu saya untuk menjelaskan situasi kelembagaan mahasiswa pada fakultas kita tercinta ini yaitu Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM).

Analoginya seperti ini, jika KBMTIIK adalah seorang manusia maka DPM (Dewan Perwakilan Mahasiswa) adalah otaknya, mereka lah orang – orang pilihan yang menampung segala aspirasi mahasiswa, menjadi konseptor dan merancang UUD sebagai pedoman KBMTIIK dalam menyikapi berbagai masalah yang ada di lingkup fakultas. Beda DPM beda lagi dengan BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) , mereka lah jantungnya, para penggerak kehidupan dan juga sebagai eksekutor yang bertugas menjalankan konsep yang dibuat oleh DPM dengan dibantu dengan LO (Lembaga Otonom) seperti HMJ (Himpunan Jurusan) dan berkoordinasi dengan para LSO (Lembaga Semi Otonom).

LO atau setelah ini kita sebut saja mereka HMJ yang terbagi sesuai jurusannya masing – masing, saya analogikan sebagai darah. Darah menjadi sumber tenaga dari jantung, tanpa darah, jantung tidak dapat berkerja. Darah mempunyai karakteristiknya masing-masing, seperti sel darah merah, sel darah putih, sama dengan HMJ yang berdiri sesuai dengan tujuan masing-masing yang tentunya berbeda-beda satu dengan yang lain. Jadi disini HMJ saya fungsikan sebagai sumber daya yang mempunyai tujuan untuk membantu jantung. Analogi ini memberi gambaran jelas, jika ranah HMJ sebatas bagai darah bagi kebutuhan jantung, bukan darah yang bertindak seperti jantung. Namun, fakta pergeseran fungsi itulah yang justru saya lihat akhir-akhir ini yaitu mengarah himasentris (mengutamakan kepentingan himpunan, red).

LSO yang diibaratkan sebagai kepala, tangan, badan, kaki, yang bekerja sesuai fungsinya masing-masing. Namun konflik yang sering terjadi di FILKOM kadang lucu, LSO yang misalnya berfungsi sebagai tangan untuk menggenggam malah ingin mengambil fungsi kaki yang jelas sudah berbeda, entah rakus proker apa terlalu kreatif.

Jadi, kesimpulan yang bisa saya ambil adalah untuk menjadi seorang manusia yang sempurna maka tiap elemen-elemen pada tubuh harus berkerja sama, bisa kebayang tidak jika otak “tidak tau” apa yang harus dilakukan? padahal otak adalah pusat dari segala informasi, tapi akan menjadi hal yang wajar jika otak tidak tau apa yang terjadi dengan tubuhnya, disitulah fungsi jantung, darah dan anggota tubuh yang lain untuk memberitahukan jika terjadi masalah.

Akan sangat mengerikan jika jantung tidak memberikan sinyal ke otak kalau jantung sedang ada masalah, katup-katup jantung menutup diri sehingga tidak bisa dialiri darah, dampak nya tentu sangat luas, organ organ tubuh yang lain menjadi mati karena tidak ada suplai darah yang mengalir. Dan akan menjadi masalah besar juga jika anggota tubuh tidak mau bergerak sesuai perintah dari otak.

Lalu pertanyaanya sekarang adalah, dimana letak peran si kotoran kuku ini?

Adanya kotoran kuku bisa menjadi tanda jika tubuh kita sedang tidak bersih, jika di analogikan pada situasi sekarang, mereka adalah sekumpulan orang-orang yang sadar jika pada kelembagaannya ada sesuatu yang tidak beres, mereka yang menginginkan adanya perubahan, mereka yang sebenarnya sungkan namun tetap mencoba bersuara, yang ironisnya mereka lah orang-orang yang dicurigai sebagai biang kerok permasalahan, ditekan suaranya, didiamkan keberadaannya, beberapa dari mereka bahkan digagalkan atau dipersulit ketika ingin mendaftar kelembagaan atau kepanitaan dengan alasan yang tentu saja kita tidak pernah tahu.

Sebenarnya mari kita telaah lagi kenapa para kotoran kuku ini muncul?

Para kotoran kuku ini tidak akan muncul jika manusia tidak melakukan kesalahan dan pekerjaan kotor. sebenarnya tidak ada yang salah dengan melakukan kesalahan, kita semua juga manusia, tapi apakah kesalahan itu harus terus ditutup tutupi hingga membusuk?

Yang bisa saya tangkap dari keinginan kotoran kuku ini adalah transparansi dan diskusi, transparansi yang seperti apa? Transparansi dari tiap masalah yang sedang terjadi di fakultas dan universitas, dan bawa masalah itu ke forum diskusi agar ditemukan solusi. Simple kan? Para kotoran kuku tidak sejahat bayangan kita kan?

Selain menambah keakraban antar anggota lembaga dengan mahasiswa, kita juga bisa saling menambah wawasan, apa yang salah dengan keinginan yang seperti itu? Kotoran kuku juga tidak punya banyak waktu untuk mengurusi drama yang terjadi didalam kelembagaan, itu urusan lain, tapi bila hal itu sudah berdampak pada kinerja lembaga tersebut, bukankah jauh lebih baik jika dikritisi.

Harus diakui kadang kritik yang dilemparkan si kotoran kuku kurang objektif, kurang berdasar bahkan tak jarang tanpa data. Tapi mau bagaimana lagi? Informasi terkait kelembagaan kadang ditutup-tutupi dari mereka, mungkin takut dibuka ke publik pikir si orang lembaga, sungguh itu adalah pemikiran yang picik dari oknum-oknum lembaga. Kalau kita menginginkan diskusi yang sehat, berani saling terbuka?

Terlepas dari beberapa kotoran kuku juga ada orang – orang dari omek, dan kotoran kuku yang mengkritik tapi membawa masalah personal dalam setiap kritikannya, itu masalah lain yang terlalu luas kalau saya bahas di kesempatan kali ini.

Mungkin dengan analogi manusia dan si kotoran kuku dapat membantu teman-teman sesama mahasiswa untuk lebih memahami dan peduli dengan situasi kelembagaan fakultas kita. Idealisme saya yang ingin teman-teman mengerti adalah saya ingin menciptakan sebuah harmoni antar mahasiswa disini, terjalin komunikasi yang baik, kerukunan antar mahasiswa entah dia seorang aktivis, akademisi, atau aktivis tidak akademisi juga tidak seperti saya ini. Antar lembaga bisa saling berkordinasi dengan baik, jangan Cuma peduli dengan lembaganya saja karena memang ada beberapa kelembagaan yang sedang kesulitan mengembangkan diri. Si pengkritik harus bisa lebih objektif dan berdasar kritikannya, dan yang dikritik juga harus mampu menerima kritik dengan lebih berpikiran terbuka.

Harapan khusus saya kepada generasi kotoran kuku setelah saya adalah jangan minder, jangan pantang menyerah, kobarkan terus idealisme kalian walaupun kalian terus ditekan sana sini, disaat orang-orang lembaga kita sibuk dengan kuliahnya, sibuk cari pacar, sibuk adu kepentingan, disaat sekret kelembagaan kita dipenuhi dengan mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas dan bermain musik layaknya sedang konser ketimbang diskusi membahas permasalahan yang ada, disaat anak-anak lembaga lebih memilih sibuk bermain kartu remi, kalian lah yang saya harapkan mampu membawa perubahan di fakultas kita.

Menjadi mahasiswa dengan idealisme memang susah, kita harus siap-siap berkorban banyak, berkorban waktu, tenaga, pikiran, cinta, bahkan kuliah. Namun kalau bukan kita lalu siapa lagi? Sedih rasanya kalau menyadari generasi kotoran kuku lawas seperti saya dan teman-teman saya tidak mempunyai banyak waktu lagi disini, sudah saatnya regenerasi, idealis kami mulai terbentur oleh kerasnya realita.

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada setiap pribadi atau golongan, saya pribadi tidak peduli anda sebagai omek atau tidak, selama anda ingin membawa perubahan yang lebih baik untuk fakultas kita, saya berharap banyak dengan kalian. Semoga pandangan dan opini ini dapat menumbuhkan semangat generasi penerus untuk menjadi seorang kotoran kuku yang berani menjaga idealisme, cerdas, kuat, dan teguh.

Share It On:

11 COMMENTS

  1. ngga itu aja
    kadang ada mahasiswa yang ‘kurang HITS’ menyampaikan pendapat, malah ga dianggap, malah mereka yg memiliki nama aja yg dianggap
    dan masih banyak yg lain yg ngga bisa saya breakdown di sini

    udah gitu aja
    sekian

  2. Opini yang luar biasa dari mas Leo , Bentuk kontribusi memang beragam caranya. termasuk dengan kritik-kritik semacam ini. Semoga masing-masing dari stakeholder yang terlibat benar-benar bisa berubah ke arah yang lebih baik, Karena saya percaya bahwa tiap-tiap lembaga memiliki visi dan tujuan yang bagus. Hanya saja minus-minus dari kekurangan ini yang perlu diperbaiki. Untuk itu perlunya dari seluruh KBM sebagai pengingat dalam kelalaian lembaga dalam menjalankan tugasnya.

    Nb : mungkin untuk analoginya bisa diperjelas bahasannya sistem syaraf atau sistem peredaran darah. Karena bisa jadi pembaca salah mengartikan konsep analoginya. Tapi overall tulisan mas leo sangat baik .

  3. Sempat terbesit pertanyaan, apasih arti ikut “organisasi” di ptiik/filkom? apa idealisme yang diangkat?
    tapi belum ketemu jawabannya haha

    hidup generasi kotoran kuku yang habis ini jadi potongan kuku yang berserakan

  4. Hmm… Kenapa baru sekarang ngomongnya ya… Sepertinya tulisan ini ditulis mengarah ke urusan Pemilwa, sudah masuk masa-masa pencitraan dan doktrinasi.

    • Haha mau diskusi gan? Biar gk salah paham, username nya pake nama asli lah kalo komennya kaya gini , haha

  5. Terlepas dari masalah pencitraan atau apapun yg disebut pada comment sebelum saya.. Bagus tulisannya, opininya cukup netral, saya ingin memambahkan bahwa tidak semua anggota lembaga juga mengetahui permasalahan yang terjadi di ptiik sendiri atau bahkan universitas, harusnya sebagai anggota juga berhak tau, dengan mengetahui permasalahan yg ada kan jadinya para anggota ga bingung dan nebak2 ada masalah apa, siapa tau seiring berjalannya waktu ada ide2 dari anggota yg bisa menyelesaikan permasalahan tsb.

  6. Kenapa setiap ada kritikan terhadap lembaga selalu diasumsikan mengarah ke PEMILWA, pencitraan, doktrinasi atau apalah. Kenapa ini tidak dijadikan cambuk atau bahan introspeksi? Agar orang-orang yang aktif atau memiliki jabatan di lembaga bisa berhati-hati dalam menjalankan amanah yang diberikan kepadanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here