Oleh : Ahmad leo yudanto (Informatika 2012)

Duduk Joko termenung menatap hujan dari pinggir jendela kamar kosnya, baru saja dia melihat KHS nya semester ini. “Sial, lagi-lagi banyak C+ nya!,” gerutu si Joko sembari menyulut rokok Surya batangannya. Pikirannya menerawang jauh mengingat – ingat kembali apa saja yang sudah dia lakukan selama semester ini. “Mungkin gara – gara jarang masuk dan sibuk kepanitiaan,” batinnya. Yaa, mitos sibuk berorganisasi yang membuat nilai kuliah menurun, bagi sebagian besar mahasiswa sudah dianggap sebagai kepercayaan layaknya agama.

Banyak mahasiswa bermental pengecut yang coba – coba ikut lembaga atau kepanitiaan, dan karena kesalahannya sendiri yang tidak bisa membagi waktu, akhirnya nilainya menurun. Seketika itu juga, dengan tidak bertanggung jawab dia menghilang atau mengundurkan diri. Mahasiswa dengan pemikiran yang seperti itu hanya memikirkan kepentingannya sendiri, padahal dengan dia hilang seperti itu akan ada kepanitiaan atau lembaga yang dirugikan. Joko berkesimpulan bahwa, salah satu penyebab mahasiswa menurun nilainya ketika ikut organisasi atau kepanitiaan adalah karena mahasiswa tersebut harus juga menangani pekerjaan dari mahasiswa lainnya yang kabur dari tanggung jawabnya itu.

Harus diakui si Joko ini memang jarang masuk kuliah, karena dia berpendapat banyak hal di luar sana yang kadang lebih menarik daripada masuk kuliah. Dengan dia tidak masuk kuliah dia bisa mencari tahu apa yang dia ingin tau, dia bisa berdiskusi tentang bagaimana teori ketuhanan itu terbentuk, situasi Indonesia dewasa ini, sampai bagaimana bisa si Clara pacaran sama si pria yang kaya hanya karna harta orang tuanya. Daripada duduk diam di kelas, mendengarkan dosen mengajar atau kadang juga tidak mengajar, malah lebih kearah memojokkan mahasiswa dengan pertanyaan – pertanyaan brainstorming usangnya. Tak sedikit juga ketika mahasiswanya berpendapat, dosen malah menjawab dengan nada merendahkan seakan – akan mereka yang maha benar.

Joko pun berpendapat bahwa sistem wajib absen 80% ini hanya dibuat agar mahasiswa bisa menghargai dosen yang datang mengajar, walau toh pada kenyataannya kadang dosen juga sering tidak datang tanpa alasan yang jelas. Sering Joko berpikir, apakah para dosen ini menghargai semua mahasiswa nya? Tidak hanya dengan yang patuh dengannya, tapi semua mahasiswa. Jika mereka menghargai mahasiswanya, apakah mereka kenal dengan mahasiswa yang diajarnya? Mereka selalu berkata hormatilah guru seperti menghormati orang tua sendiri, sungguh nasihat yang konyol. Jika seperti itu, orang tua macam apa yang bahkan tidak mengenal nama anaknya? Padahal dalam ilmu psikologi, ketika kita mampu mengingat nama seseorang, orang itu akan lebih menghargai kita. Alih – alih bisa mengetahui bakat dari anak didiknya, mereka malah membuat semua mahasiswa harus mempunyai pola pikir sama seperti mereka agar mendapatkan nilai bagus. Aaah, pola pikir otoriter seperti ini masih menjalar sampai sekarang bahkan sampai ke dunia perkuliahan yang seharusnya mahasiswa disediakan kesempatan untuk berpikir secara bebas.

Sering Joko keliling kawasan perkuliahan sekedar untuk mencari angin, banyak teman – teman mahasiswa berbaris duduk lesehan di lorong – lorong bahkan sampai terkantuk – kantuk hanya untuk menunggu dosen yang tak jelas rimbanya. Padat jadwal katanya,  mungkin mereka akan merasakan gimana rasanya ketika anaknya sedang sekarat dan butuh bantuan dokter, tapi dokter yang ditunggu malah tamasya ke alun – alun. Banyak mahasiswa yang mengeluh dan menggerutu, namun takut berpendapat karna takut kuliahnya bermasalah. Jadi mahasiswa kok pengecut, padahal itu juga kan untuk keadilan bersama.

Hubungan dosen dan mahasiswa yang seperti ini, jelas kurang adil dan merugikan bagi mahasiswa. Kita dituntut untuk melakukan seperti apa yang mereka minta dan harus tepat waktu, padahal mereka tidak selalu memberikan apa yang seharusnya kita dapatkan. Ada kalanya mahasiswa yang kurang pandai sudah mati – matian berusaha di matakuliah tersebut, tapi dengan tangan dinginnya si dosen tetap memberikan nilai jelek tanpa pernah mau mahasiswa tersebut seperti itu. Suka sekali menerapkan standar ganda, ingin dihargai tapi tak mau menghargai, ingin diingat tapi tak mau mengingat, ingin mahasiswa datang tepat waktu, tapi mereka juga sering datang terlambat.

Mungkin ini kenapa kurikulum 2013 masih belum bisa diterapkan secara maksimal, karena tenaga pengajar dan orang tua tidak mau bersusah payah mengenal bakat anak secara maksimal. Sehingga kesulitan memberikan penilaian terhadap si anak. Jangankan tenaga pengajar sekolah yang rata – rata masih lulusan diploma atau strata 1, tenaga pengajar yang lebih professional dengan titel strata 2 pun juga masih belum mampu melakukan hal seperti itu kok.

Kembali Joko melihat rekap hasil studinya, “hmmm, C+ dimana – mana”, bisiknya.

Mungkin Joko adalah potret mahasiswa yang kurang berhasil masuk dalam sistem, banyak teman – temannya yang lebih memilih mengikuti dan patuh terhadap sistem ini daripada mengkritisi dan bersama – sama memberikan pendapat agar sistem pendidikan menjadi lebih baik, alhasil nilai – nilai mereka pun kebanyakan lebih baik dari Joko, mereka lebih memilih tunduk dan diam seperti jongos mengikuti titah sang dosen, idealis mereka sudah terkubur sejak awal mereka menjadi mahasiswa, idealis berganti kapitalis yang hanya mementingkan diri sendiri. Dan pada akhirnya dunia pendidikan pun seperti hukum rimba, yang pintar secara akademik lah yang menang.

Sistem yang seperti ini sungguh membuat organisasi dan kepanitiaan menjadi sepi anggota yang loyal. “Jangankan memikirkan kepentingan mahasiswa yang lain, memikirkan nilai sendiri saja masih susah,” pikir si mahasiswa apatis. Yaa jelas itu karna sistem pendidikan kita yang membatasi ruang gerak kreatifitas kita di bidang selain akademik dan secara tidak sadar membuat pola pikir mahasiswa menjadi semakin apatis.

Jauh didalam hati lubuk Joko, ada teman – teman mahasiswa yang sepemikiran dengan dia yang mau bertukar pikiran dan berjuang bersama setidaknya untuk ikut memperbaiki sistem pendidikan di fakultasnya. Tapi dengan cepat pikiran itu dikubur dalam – dalam karna Joko berpikir, mahasiswa jaman sekarang mana mau memikirkan nasib teman – teman mahasiswa yang lain, jangankan mau berpikiran seperti itu, berteman saja masih bergolong – golongan, bergeng – geng an dengan sebutan – sebutan kompaknya. Yaa itu juga salah satu penyebab mahasiswa sulit bersatu. Mahasiswa juga sepertinya masih banyak yang asik nonton anime dan rela bergadang kedinginan hanya untuk mendownload di emperan gedung perkuliahan, mereka lebih rela melakukan hal itu daripada memikirkan nasib sistem pendidikan bangsa ini, menyedihkan.

Apalagi teman angkatan Joko sudah pada sibuk skripsi semua, yaa skripsi. Setelah menarik sangat banyak mahasiswa, kali ini kampus sudah bersiap mendepak mahasiswa semester 7 nya, mahasiswa dituntut harus lulus cepat dengan kebijakan SPP progressif yang mencekik, banyak teman – teman yang sudah lupa akan hakikatnya sebagai mahasiswa karena sibuk skripsi, mahasiswa benar – benar dibuat seperti kambing gembala yang tersesat. Maju kena mundur kena.

Dengan keadaan dan problematika yang seperti ini, maka hampir terkuburlah impian Joko, pola pikir yang sudah mengakar, sulit untuk diubah, Joko pun mungkin akan menyerah juga dengan sistem.

Jika ada dosen yang berkata, “Emang kewajibannya mahasiswa itu belajar! gak usah aneh – aneh.” Anda sudah cocok jadi penjajah pak, penjajah idealis dan imajinasi mahasiswa.

Mungkin penyebab impian Joko sangat sulit terkabul yang pertama karena mahasiswa sudah dari kecil tertanam doktrin imperealisme dari orang tuanya yang mengajarkan hidup itu sekolah yang tinggi bahkan sampai keluar negeri, kerja ditempat yang bagus, cari uang sebanyak – banyaknya, bahagiain diri sendiri dan orang tua.

Doktrin tersebut dengan sangat baik dieksekusi oleh sistem pendidikan kita dan dipahami dengan baik oleh anak – anaknya yang kelak menjadi mahasiswa, tanpa mereka sadari bahwa doktrin tersebut adalah bawaan dari penjajah untuk membuat pola pikir masyarakat kita cenderung tidak berani bermimpi dan beridealis untuk bangsanya. Jaman sekarang mana ada orang lulusan luar negeri yang mau dibayar murah di Indonesia? Biasanya mereka berkata “Orang pinter di Indonesia gak dihargai,” . Iya memang, kelamaan di luar negeri otakmu udah jadi materialistis.

Dan yang kedua, itu cuman karna Joko yang punya impian itu, bukan si Supardi ataupun Alimin.

Hmmm, dalam Joko menghisap rokoknya dengan sesekali dia menegak Wisky yang dia beli dengan cara berhutang. Lamunannya terpecah ketika mendengar suara yang sudah tidak asing lagi, suara nyaring yang dikumandangkan setiap 5 kali sehari. “Lagi – lagi suara itu,” kata Joko. Sudah sejak lama Joko tidak mendengar suara itu berkumandang dengan merdu, kebanyakan hanya diisi kaset ataupun suara serak bapak – bapak.

Lama Joko duduk termenung, dan berpikir kenapa hal – hal diatas terjadi kepadanya dan lingkungannya, dan kenapa dia sampai sekarang masih belum bisa mengubah keadaannya, kemudian terlintas satu kalimat dibenaknya.

“Apakah aku yang sudah terlalu jauh dari Tuhan, ya?”

Share It On:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here