Kesederhanaan, Cinta dan Persaudaraan Terlalu Utopis Bagi Dunia Modern?

0
2311

Satu pertanyaan muncul ketika saya membaca kisah hidup seorang Mahatma Gandhi. Seorang politikus dan pemuka agama yang dijuluki “pengemis telanjang” karena kesederhanaannya. Pejuang kemerdekaan India yang dikenal dengan metode non-anarkisnya. Seseorang   yang hidup dalam didikan dan cinta seorang ibunya, vegetarian serta sangat toleransi pada perbedaan agama. Dia menjadikan penganut agama lain sebagai saudaranya sendiri.

Gandhi lahir pada 2 Oktober 1869, setelah menikah ia pergi ke Inggris untuk kuliah hukum dan akhirnya mendapat pekerjaan di Afrika Selatan sebagai pengacara. Hidup Gandhi bisa dikatakan makmur, sampai suatu hari ia mendapat perlakuan tak adil dari petugas kereta, ia dikeluarkan dari kereta karena menolak dipindahkan dari kelas 1 ke kelas 3, alasannya? karena ada ras putih dari Eropa tak senang Gandhi disana, walaupun Gandhi telah memegang tiket kelas 1.

Hal ini membuat Gandhi teringat pada bangsanya yang masih dalam jajahan Inggris dan ia memutuskan untuk pulang kembali ke India. Gandhi berkeliling ke sudut-sudut Negara itu dan hidup dalam kesederhanaan guna memperhatikan kehidupan bangsanya yang bisa dibilang miris, hal ini membuat Gandhi ingin India merdeka. Gandhi berjuang selama 30 tahun melawan penjajahan Inggris bersama pemimpin India lainnya. Dengan ajarannya, ahimsa (tanpa kekerasan) serta satyagraha (keteguhan dalam kebenaran), Gandhi melawan penindasan dan kekerasan dengan cinta, kesabaran, dan kerelaan untuk menanggung segala konsekuensinya.

Ketika kemerdekan telah dicapai, muncul kerusuhan sektarian Hindu-Muslim, mereka meminta India dipecah menjadi dua, India (mayoritas Hindu) dan Pakistan (mayoritas Islam). Gandhi menolak keras permintaan ini, sebagai wujud penolakannya ia berpuasa. Rupanya kedua kelompok tersebut masih sayang pada Gandhi. Lewat tengah malam pada 18 Januari, sekretarisnya membangunkan Gandhi yang telah lemas dan menunjukkan perjanjian damai yang telah ditandatangani oleh kedua belah pihak. Setelah 121 jam 30 menit berpuasa, Gandhi akhirnya mau minum jus jeruk yang disuapkan oleh seorang pemimpin muslim, Maulana Azad. Akan tetapi hal ini tak berlangsung lama Gandhi meninggal dunia pada tanggal 30 Januari di tangan Nathuram Godse, seorang Hindu fanatik yang menganggap Gandhi pro Muslim.

Namun ternyata kematian Gandhi ini membuat seluruh India berhenti. Konflik sektarian berhenti, pembunuhan massal berhenti. Negara yang baru terbentuk itu goncang merenungkan hakikat kebangsaan dan persaudaraan mereka. Dengan kematiannya, Gandhi berhasil mencapai apa yang ribuan orang India gagal untuk mencapainya selama ini, yaitu: Perdamaian dan Persatuan di India.

Gandhi akhirnya digelari sebagai Bapak Bangsa India. Dunia memujinya sebagai salah satu pemimpin spiritual terbesar sepanjang masa. “Generasi-generasi yang akan datang sulit percaya bahwa ada orang seperti dia yang pernah berjalan di muka bumi ini dalam rupa daging dan darah,” tulis Albert Einstein waktu itu. Prinsip-prinsip Gandhi telah menginspirasi aktivis-aktivis demokrasi dan pejuang anti-rasisme seperti Martin Luther King, Jr. dan Nelson Mandela.

Sepak terjang Gandhi memang sangat luar biasa, melawan kekerasan dengan kelembutan. Tapi apakah hal terebut dapat diterapkan di jaman sekarang? Di dunia modern ini? Dunia dimana orang bisa nekat menjual anak demi minuman keras, dimana orang rela mengeluarkan miliaran rupiah hanya untuk duduk di sebuah kursi pemerintahan lalu menghalalkan segala cara agar modalnya bisa balik lagi, dunia yang susah untuk membedakan mana musuh mana saudara, mana mungkin berperilaku lembut kepada musuh, bahkan kepada saudara dan keluarganya sendiri orang bisa saling membunuh? Bagi dunia modern, apakah ajaran Gandhi ini terlalu utopis jika diterapkan?

Ada satu kutipan dari seorang Mahatma Gandhi yang mungkin bisa kita renungkan kembali, dan akhirnya membawa kita lebih sadar tentang arti kesederhanaan, cinta, dan persaudaraan.

Ketika aku mencari jiwaku, ia tak tampak. Ketika kucari Tuhanku, Dia pun menghindar. Namun saat kucari saudaraku, kutemukan ketiganya” an authobiography OR the story of my experiments with truth oleh M.K. Gandhi

( Yayi Fdp )

Share It On:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here