Oleh: Ilham Fathur Ilmi

Sore itu Saya sedang berjalan-jalan di sebuah toko buku untuk sekadar melihat buku-buku cetakan terkini. Disana saya melihat-lihat deretan genre buku secara umum, meliputi romantika fiksi, puisi, serta buku-buku pemikiran kontemporer. Masih berdekatan dengan jejeran buku-buku novel, Saya mendapati beberapa buku dengan penulis yang tidak biasanya Saya temui disana, Albert Camus. Entah saya yang selama ini kurang peka atau bagaimana, sepertinya baru kali ini Saya melihat buku-buku Albert Camus terpajang di toko buku yang biasa saya kunjungi paruh waktu itu. Judul-judul karyanya terpampang di atas rak mulai dari drama Caligula, Sampar, hingga yang paling menarik perhatian Saya adalah The Rebel (versi bahasa Indonesianya diterjemahkan dengan judul Pemberontak). Buku yang terakhir mengundang perhatian Saya sebab ketika mendengar nama Camus yang terlintas dalam benak Saya adalah satu kata, yakni pemberontakan. Berlawan! Révolte!

Mari mengasah pikiran!

Bersama para pemikir eksistensialis lainnya, Camus meyakini bahwa dunia adalah sebuah realitas yang absurd. Menggambarkan absurditas dunia dalam pandangannya, Camus dalam Mite Sisifus (1942) mengatakan, “Kewajaran itu sebanding dengan besarnya kesenjangan antara keanehan hidup seorang manusia dan kebersahajaannya dalam menerima hidup yang aneh itu. Maka baginya pemberontakan adalah suatu kemestian bagi manusia guna menemukan kejernihan dalam dunia yang absurd ini.” dalam Pemberontak (1951), Camus juga mengatakan bahwa pemberontakan adalah salah satu di antara banyak dimensi yang bersifat esensial dari kodrat umat manusia. Ia melanjutkan bahwa menurutnya manusia pemberontak adalah manusia yang berkata ya terhadap kehidupan namun secara bertentangan dan bersamaan juga menyambutnya dengan tidak yakni dengan menolak berbagai ketimpangan dan ketidakadilan.

Dalam versi aslinya yang berbahasa perancis (L’homme révolté), Camus yang menyebut pemberontakan dengan kata révolté. Dalam pandangan cocoklogi Saya yang bukan seorang filolog maupun ahli bahasa, kata révoltérevolt (dalam bahasa inggris), bisa jadi berangkat dari akar kata bahasa yang sama dengan kata revolution atau —dalam serapan bahasa Indonesianya— revolusi. Jadi dalam kaitan tulisan ini, meskipun Baharudin dalam jurnal yang berjudul Bentuk-Bentuk Sosial dan Kebudayaan (2015) menjelaskan perubahan revolusi hanya sebatas “perubahan yang berlangsung secara cepat dan tidak ada kehendak atau direncanakan sebelumnya”, bagi Saya makna revolusi terkait dengan kata revolt (atau pemberontakan) dimana perubahan yang berlangsung secara cepat, tiba-tiba dan bahkan radikal terjadi berlangsung dikarenakan dorongan pemberontakan dan perlawanan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Jadi kata kunci dalam perubahan revolusi yang Saya maknai, justru berada pada titik pemberontakannya. Tidak ada revolusi, tanpa unsur pemberontakan dan perlawanan di dalamnya.

 Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Wa li’llahil hamdu.

Gema takbir berkumandang di langit malam menjelang akhir dari bulan Ramadhan yang bagi umat muslim merupakan bulan wajib berpuasa. Umat muslim menjalankan ibadah puasa Ramadhan setiap tahunnya, semenjak tanggal 1 Ramadhan hingga akhir bulan Ramadhan yang biasa dirayakan dengan sebutan Idul Fitri. Idul Fitri secara harfiah bahasa bermakna hari raya berbuka atas puasa yang telah dilakukan. Di Indonesia hari raya ini juga dikenal dengan hari lebaran. Menurut tulisan yang saya baca dari antaranews tanggal 26 Juli 2014 mengenai asal kata lebaran, tradisi betawi memaknai lebaran dari asal kata lebar yang dapat diartikan luas. Hal itu merupakan gambaran keluasan atau kelegaan hati setelah melaksanakan ibadah puasa, serta kegembiraan menyambut hari kemenangan yang tidak lain merupakan hari raya lebaran itu sendiri.

Pada umumnya pemeluk agama Islam di Indonesia merayakan hari lebaran pertama kali (tentu saja) dengan melakukan ibadah Shalat Idul Fitri juga membayar zakat fitrah yang keduanya merupakan kewajiban syariat. Sisanya dilanjutkan dengan bersilaturahim dengan sanak keluarga juga dengan bumbu angpao lebaran dan budaya “beli baju baru” atau apapun yang baru-baru. Kurang lebih, hari bahagia, dirayakan dengan bentuk perayaan yang mendukung suasana bahagia.

Namun, di luar semua itu yang sepertinya telah menjangkiti umat muslim di Indonesia bahkan di seluruh dunia sebagai dampak dari persebaran budaya konsumerisme, hal yang nampak dilestari-budayakan ini adalah perilaku konsumtif yang berlebihan yang dilakukan secara besar-besaran dengan memanfaatkan momentum hari raya. Sebagaimana perayaan hari-hari raya lainnya dalam agama lain yang menurut Saya telah mengalami pergeseran makna secara budaya. Perayaan lebaran ini seharusnya ditarik lagi kembali kepada makna puasa. Puasa adalah perilaku menahan diri atas hawa nafsu duniawi yang dilaksanakan selama jangka waktu tertentu. Hal ini dilakukan (khususnya umat muslim) agar meraih derajat takwa (QS 2:183). Merujuk kepada ayat yang mengatur tata berpuasa (QS 2:187), umat muslim berpuasa semenjak fajar hingga terbenam matahari (Shahih Muslim, hadits no. 1825). Yang Saya tangkap hari-hari ini, justru setelah menahan diri sekian waktu sebagian orang justru melampiaskan hawa nafsu duniawi yang berlebihan ketika setelah memasuki waktu berbuka puasa. Dari makan secara berlebihan, hingga sharing instastory makanan yang menurut Saya juga termasuk berlebihan. Saya katakan berlebihan sebab hal yang demikian merupakan hal yang tidak esensial dalam ibadah puasa, bahkan cenderung kepada ke-mudharat-an. Apakah pada orang-orang yang makan secara berlebihan itu maupun orang-orang yang melakukan sharing instastory makanan itu, terpikirkan bagaimana mereka yang tidak bisa makan secara cukup? Yang sudah mendapat makan saja sudah puji Tuhan, Alhamdulillah. Jika ibadah puasa hanya sebatas ibadah formil yang dilakukan semenjak fajar hingga terbenam matahari, bagaimana dengan orang-orang yang tidak memiliki daya untuk membeli makanan sehari-hari bukan hanya selama satu bulan, tapi selama 12 bulan, setahun penuh. Saya bilang itu namanya bukan berbuka dengan kebahagiaan atau pun berbagi kebahagiaan, itu namanya tidak punya hati.

Sebagai insan cendekia, tinggi pendidikannya seharusnya membuat para cendekiawan lebih meresapi kepekaan sosial dibandingkan orang-orang yang tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi. Tan Malaka mengatakan bahwa seharusnya tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan. Maka bulan puasa seharusnya menjadi ajang bagi umat muslim, khususnya para cendekiawan untuk mengasah diri, menumbuhkan kepekaan hati untuk mengerti secara nurani penderitaan orang-orang yang masih dintindas oleh gilasan realita ketidakadilan. Dr. Ali Syariati menyebut mereka sebagai Rausyan Fikr, cendekiawan yang tercerahkan. Camus mengistilahkan, Je me révolte donc je suis—Aku memberontak, maka Aku ada. Maka ketika ibadah puasa adalah ibadah perlawanan, pemberontakan serta bentuk revolusi diri melawan segala kekhilafan dan kebusukan diri sendiri (self revolt), momentum buka puasa seharusnya menjadi akibat dari pengasahan diri tersebut. Mendekatkan hati, budi, dan perasaan kita kepada derajat ketakwaan, mendekatkan diri kepada persona Insan Kamil, dan itulah baiknya bentuk ketakwaan dalam dimensi horizontal dan vertikal kita sebagai manusia, sebagai makhluk sosial maupun spiritual.

Gema takbir berkumandang. Lebaran telah mendatang. Membuat hati umat bahagia. Hakikatnya lebaran bukan soal isi dompet yang ikut lebaran. Maupun pikiran-pikiran soal perut dan pipi yang akan maupun sudah lebaran. Seharusnya lebaran menjadi momen pembuka kesadaran. Maka lebaran seharusnya menjadi penanda keberlawanan.

Maka Idul Fitri, jangan lupa revolusi.

Wallahu a’lam bisshawab.

Share It On:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here