Oleh: Aryo Seto Dwisaputra Alifandi Kurz (Sistem Informasi 2014)

Dalam suatu pertempuran yang terjadi dalam hidup ini, yang paling sulit dihadapi bukanlah pertempuran melawan lawan. Melainkan pertempuran dalam diri sendiri, pertempuran antara keinginan melawan kebutuhan, keinginan untuk tetap mempertahankan hidup, melawan kebutuhan untuk diakui. Ya, kebutuhan akan eksistensi yang terjadi pada generasi saat ini. Generasi yang rela melakukan apa saja untuk menjadi manusia “seutuhnya”.

Hal ini tidak lepas dari kemampuan berbelanja, hanya saja untuk mendapat gambaran mari kita bicarakan aktivitas yang sedang booming dikalangan kaum muda urban berikut.

Gaya hidup hedonis seperti minum kopi 50 ribuan, travelling kemana-mana, nge-gym 500 ribuan, hingga minum cantik 1 jutaan memang sangat bagus bila di-share dengan teman-teman di social media. Begitu banyak kegiatan yang akan membuat orang lain berkata, “dia keren”. Namun, semua biaya itu bila dikalikan dengan pendapatan perbulan, apakah setara dengan pengeluarannya? Disini bila kemampuan belanja dibawah dari penghasilannya maka akan wajar-wajar saja. Namun bila diatasnya, maka celaka lah dia yang akan berteman dengan mie instan di akhir bulan.

Memang untuk melakukan kegiatan diatas hanya beberapa kaum saja yang bisa, kelas menengah ataupun mereka yang mau juga terkenal dengan status, “kaum menengah”. Sebuah kelas dimana mereka rela menghabiskan uangnya untuk membeli gadget terbaru ataupun segala hal yang menunjang gaya hidup mereka. Bila uang habis? Tenang, masih ada orang tua sebagai solusi utama penutup hutang. Namun, apakah dengan melakukan semua itu kita akan mendapat kebahagiaan? Bila memang bahagia, teruskan saja. Bila tidak ya, hentikan.

Definisi kebahagiaan dalam konteks ini sangatlah subyektif, dimana masing-masing orang mempunyai arti kebahagiaan tersendiri. Ada beberapa orang yang memang senang untuk membagikan momen “spesialnya” agar mendapatkan sanjungan, ada juga orang yang senang dengan kesendiriaanya sambil membaca komik yang disukainya, ada juga yang senang bermain game online bersama teman-temannya, ada pula yang senang duduk di pos ronda sambil bercengkrama dengan satpam. Kebahagiaan itu tidak selalu rumit ataupun mewah, karena bahagia menjadi arti sebenarnya ketika membiarkan diri kita untuk menikmatinya.

Pernahkah kita berpikir apa saja yang pernah kita lakukan ketika kebosanan datang? Mungkin ada yang membuka social media untuk sekedar melihat postingan teman-temannya, menonton youtube sambil menunggu bosan itu hilang, menelpon atau membalas pesan pacar untuk saling menghibur. Tanpa terasa, hal-hal tersebut juga dapat membuat kita bahagia. Karena bahagia itu sederhana, tinggal memutar balikkan sudut pandang, mengalah pada ego agar diri kita nyaman, walau hanya sesaat. Disini, ego juga dapat menjadi hal positif dan bukan menjadi kebenciaan. Selama ego tersebut tetap kritis dan berprinsip.

Hidup ini indah bila bisa memandangnya dari berbagai sisi. Karena dalam hidup selalu ada sisi yang saling berlawanan, tapi kita membutuhkan kedua sisi tersebut untuk tetap hidup.

Share It On:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here