Oleh: Rafid

Kebebasan berpendapat adalah hak bagi seluruh warga negara Indonesia, dan kebebasan berpendapat saat ini sudah mengalami peningkatan sejak orde baru (orba). Pada saat itu kebebasan berpendapat dilarang oleh orang-orang yang memiliki kekuasaan, dimulai dari penyensoran dan pemberhentian sejumlah tayangan televisi hingga penculikan para aktivis. Pada saat ini kebebasan berpendapat bukan hanya milik pers atau media, tetapi sudah mulai memasuki ranah opini umum dengan media sosial sebagai perantaranya. Saat ini semua orang dapat mengutarakan perasaannya dalam bentuk apapun. Contoh saja kebebasan berpendapat adalah konflik antara transportasi konvensional dengan transportasi online.

Jika kita telaah lagi penyebab konflik ini adalah masalah sepele, perkembangan teknologi. Dilihat dari sejarahnya, Indonesia sudah banyak berganti mode transportasi seiring dengan perkembangan zaman. Misal becak yang tergantikan dengan bajaj, bajaj yang tergantikan dengan oplet, dan oplet yang kemudian tergantikan dengan mikrolet. Perpindahan dari mikrolet (transportasi konvensional) ke transportasi online merupakan hasil dari perkembangan teknologi. Lalu apa yang menyebabkan perpindahan kali ini adalah contoh dari kebebasan berpendapat? Melalui perbandingan apa yang sudah terjadi dahulu, saat becak yang akhirnya tergantikan sampai mikrolet, pada saat itu juga banyak pengemudi becak yang akhirnya tidak memiliki lahan pekerjaan. Tetapi saat itu tak ada konflik antara pengemudi becak dan bajaj, pengemudi bajaj dan oplet, ataupun pengemudi oplet dan mikrolet. Pada saat itu mereka yang kehilangan pekerjaan mereka tidak bisa seperti para pengemudi mikrolet sekarang, bebas mengutarakan pendapatnya. Pada saat itu mereka yang kehilangan pekerjaan tidak bisa berunjuk rasa, mereka menerima dengan perasaan tertelan bahwa opini mereka “dianggap” tidak penting.

Lalu mengapa saya menyebut kebebasan berpendapat adalah bumerang? Perlu diketahui terlebih dahulu kalau bumerang adalah suatu alat olahraga yang jika dilempar akan kembali lagi kepada si pelempar, maka dari itu saya menganalogikan kebebasan berpendapat ini menyerang kembali si “pelempar” nya. Contoh nyata dari konflik yang belum lama terjadi yaitu demo massa dari pengemudi mikrolet. Seharusnya kebebasan berpendapat adalah bebas dalam mengemukakan pikiran tanpa adanya interupsi atau pembatasan, juga tanpa adanya penyebaran kebencian. Tetapi hal yang terjadi saat ini, kebebasan berpendapat sudah bablas dengan adanya penyebaran kebencian yang terjadi, dengan kasus tabrak lari oleh oknum dari satu pihak, hingga penjegalan dengan anarkis oleh pihak satunya lagi. Maka dari itu kebebasan berpendapat yang sudah diperjuangkan dengan susah payah dan dengan tempo yang tidak sebentar, logis jika saya mengemukakan bahwa kebebasan berpendapat ini menjadi hal negatif dan terserang balik karena adanya “terlalu bebas berpendapat”.

Kebebasan berpendapat saat ini sudah menjadi hal yang mudah ditemukan, tetapi dengan adanya kebebasan yang terlalu bebas ini, kebebasan berpendapat sudah disalahartikan dan dijadikan hal yang tidak dapat dikontrol. Kebebasan berpendapat seharusnya juga menggunakan retorika. Seni menyampaikan pendapat itu sendiri dengan tanpa adanya penyebaran kebencian. Maka dari itu seharusnya kebebasan berpendapat dapat dikontrol dan kita selaku manusia yang mempunyai hak kebebasan berpendapat itu sendiri yang dapat mengontrolnya agar tak berimbas negatif dan menyerang kita sendiri dengan mengakibatkan hal negatif.

 

sumber foto: duta.co

NO COMMENTS

Leave a Reply