DISPLAY – Beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA) diberikan kepada mahasiswa aktif yang berprestasi pada bidang kurikuler, kokurikuler, serta ekstrakurikuler yang ditentukan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi melalui Direktorat Jendral Pembelajaran dan Kemahasiswaan. Penerima beasiswa PPA tahun 2018 berhak mendapatkan dana sebesar Rp 400.000,00 setiap bulan selama minimal 6 bulan. Mahasiswa penerima beasiswa ini ditentukan berdasarkan proses penyeleksian sesuai syarat yang ada. Oleh karena itu, tidak semua mahasiswa yang mendaftar dapat menerima beasiswa ini.

Pada tanggal 30 Januari 2019 lalu, situs filkom.ub.ac.id dan akun resmi LINE BEM FILKOM mengeluarkan pengumuman bahwa terdapat kuota tambahan bagi penerima beasiswa PPA tahun 2018. Mengenai hal ini, Erlina Rohmawati selaku Dirjen Kesma BEM FILKOM 2019/2020 menjelaskan, penambahan kuota tersebut merupakan kebijakan dari rektorat. “Jadi fakultas cuman menerima nama yang sudah didata dari rektorat. Dari rektorat ada pengumuman kuota tambahan. Semuanya dari rektorat. Habis dari rektorat, ke fakultas,” jelas Erlina. Sementara itu, Menteri Advokesma BEM FILKOM 2019/2020, Wiku Galindra Wardhana juga mengatakan hal serupa karena juga mendapatkan informasi dari situs beasiswa UB, “Yang tambahan, para penerima yang ada di lampiran. Lampirannya kemarin aku lihatnya dari sini, dari web-nya beasiswa.ub.ac.id,” ujar Wiku.

Berkaitan dengan penjelasan Erlina mengenai kuota tambahan beasiswa PPA, Hermawan Dwi Putra selaku Staff Kemahasiswaan menuturkan bahwa adanya kuota tambahan dikarenakan banyaknya dana kegiatan dari dikti yang tidak terserap. Belum ada aturan yang menjamin validitas informasi tersebut, namun Putra menyebutkan bahwa pada tahun 2017 nominal untuk beasiswa PPA sebesar Rp 3.600.000,00, sedangkan pada tahun 2018 nominal mencapai Rp 4.400.000,00. “Karena bulannya dihitung sampai September. Laporanya ke dikti itu sampai 12 bulan, sisa dari bulan-bulan itu diakumulasikan menjadi kuota tambahan. Tapi itu ngga ada dasar hukumnya,“ terang Putra.

Dalam melakukan penyeleksian penerima beasiswa PPA kuota tambahan, Putra menjelaskan kandidat penerima diseleksi berdasarkan persyaratan administrasi yang telah dikumpulkan pada saat pemberkasan beasiswa PPA. “Dari yang udah ngumpulin (dokumen administrasi, red) dipilih lagi. Jadi kita tidak ada jual beli,” jelasnya.

Terdapat beberapa mekanisme untuk menyeleksi mahasiswa penerima beasiswa. Salah satu yang harus terpenuhi adalah persyaratan administrasi. Selain itu, ada mekanisme lain seperti prestasi yang diraih dengan mengatasnamakan FILKOM. “Penyeleksian itu Mas Putra selalu memandatkan berdasarkan prestasi. Enggak mek enggak mampu tok, mampu yo enggak masalah. Yang pasti sesuai dengan administrasi harus ya, IPK dan lain-lain. Selanjutnya bentuk income-nya kepada kita. Berprestasi juga harus FILKOMnya sendiri, bukan buat kepentinganya. Kan banyak prestasi buat software proyek, itu beda lagi,” jelas Putra.

Untuk mendukung penyeleksiannya, terdapat pertimbangan lain yang dilakukan seperti teknologi Google Street dan situs simple.ub.ac.id untuk memantau tempat tinggal dan pendapatan orang tua mahasiswa. “Mas Putra sering pake Google Street itu buat pemantauan. Dan punya akses namanya simple.ub.ac.id, jadi Mas Putra bisa mengetahui berapa gaji orang tua,” tambahnya.

Penyeleksian penerima beasiswa PPA ini menurut Putra bersifat transparan. Alurnya dimulai dari Dekan yang memberikan mandat kepada Kasubag Akademik dan Kemahasiswaan, kemudian ke Staf Kemahasiswaan. Putra menuturkan bahwa dalam melakukan penyeleksian melibatkan Advokesma BEM dan himpunan yang ada di FILKOM untuk berkumpul pada hari libur perkuliahan untuk memilih penerima beasiswa. “Kebetulan Staf Kemahasiswaanya Mas Putra. Mas Putra selalu minta semua Advokesma buat berkumpul hari libur disini buat milih, jadi transparan. Tapi tetap validasi terakhir Pak Edy (Wakil Dekan III bagian Kemahasiswaan, red) yang menentukan,” imbuhnya.

Wiku juga menambahkan bahwa Advokesma BEM hanya sebagai media untuk menyebarkan informasi saja. “Jadi fakultas itu cuma menjadi penyalur informasi yang dari rektorat. Dan kemahasiswaan fakultas itu menginfokannya ke Advokesma BEM, biar infonya itu lebih merata kalo disebarkan BEM,” jelas Wiku. Berkaitan dengan perihal beasiswa, Putra berpesan agar mahasiswa FILKOM lebih aktif untuk mendaftarkan diri pada setiap beasiswa yang menaungi FILKOM. “Beasiswa itu luas, kamu berlomba dan transparansi. Selama kamu nanti memenuhi syarat, pasti dilombakan secara resmi. Cuman kita (FILKOM, red) aja yang membuka transparansi,” tutupnya. (nh, ozp)

Share It On:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here