Closing ceremony Olimpiade Brawijaya pada Selasa, 13 Oktober 2015 menandai berakhirnya olimpiade yang digagas oleh  Kementrian Pemuda Olahraga dan Budaya Eksekutif Mahasiswa Universitas Negeri Brawijaya. Hasilnya, FILKOM berhasil mengumpulkan 9 emas, 4 perak dan 8 perunggu. Perolehan medali ini membuat FILKOM bertengger di peringkat 5, tepat di bawah FIA yang mengemas 8 emas, 8 perak dan 13 perunggu. Ketua Kontingen FILKOM Vatikan Aulia Makkah mengatakan, hasil ini tidak lepas dari kerja keras panitia dan semua elemen yang berjuang bersama. “Peringkat 5 cukup memuaskan bagi kami, sesuai dengan target di wawancara Display sebelumnya,” ujar Ican, panggilan akrab Vatikan sembari tertawa.

Sejatinya perolehan emas FILKOM melebihi FIA, namun karena Olimpiade Brawijaya tahun ini menggunakan sistem poin yaitu 5 untuk emas, 3 untuk perak dan 1 untuk perunggu membuat FILKOM harus puas 1 tingkat di bawah FIA dalam klasemen akhir perolehan medali. “Jadi untuk hal itu (ketetapan poin, red) harus kita terima, memang dari hal poin kita kalah dari FIA, meski emas kita lebih unggul. Ketetapan sistem poin sudah menjadi kesepakatan semua pihak ketika perundingan dengan petinggi-petinggi dan penasihat OB,” ungkap Ican.

FILKOM menyumbangkan 9 emas di kategori renang gaya bebas, renang gaya dada, ganda putra bulutangkis, newscasting, taekwondo, menembak (metal shilouette), festival band dan pop. Kategori menembak (metal shilouette) berhasil menyumbangkan 2 emas. Ican berharap di tahun mendatang FILKOM mampu menjadi juara umum, dengan persiapapan atlet yang lebih matang. “Oleh karena itu kami panitia tahun ini telah mempersiapkan pencarian bibit-bibit atlet untuk tahun mendatang, bekerja sama dengan kepanitiaan PK2 dan Probin contohnya,” paparnya.

Di tempat terpisah, Ketua Umum BIOS Danu Akbar mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung. Ia menekankan bahwa pencapaian ini bukan untuk selalu dibanggakan, tapi dijadikan batu loncatan dan pecutan. “Poin utama yang saya banggakan di OB tahun ini adalah bisa menunjukkan 1 hati 1 jiwa TIIK bukan sekedar jargon,” ungkap Danu. (krb)

Share It On:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here