DISPLAY – Perubahan Cafetaria Creative Land atau CL pasti sudah tidak asing lagi oleh sebagian besar mahasiswa Universitas Brawijaya. Tidak hanya pada bangunannya saja yang berubah, namun dari segi sistem pembayaran juga ikut berubah. Konsep perubahan CL ini merupakan inisiasi dari wakil direktur utama Badan Usaha Non Akademik (BUNA) UB, Anthon Erfani.

Bukan tanpa sebab perubahan CL ini dilakukan, menurut Ubaidillah selaku Direktur Tata Kelola dan Keuangan BUNA UB, tujuannya adalah agar CL menjadi kantin yang bagus dan memiliki manajemen yang baik. “Dikarenakan CL yang dulu itu kurang rapi, kotor, dan tidak mencerminkan kantin UB yang notabenenya adalah pendidikan. Kemudian BUNA UB mengajukan ke pak rektor dan disetujui agar menjadi kantin yang lebih bagus,” jelasnya. Selain itu, adanya CSR (Corporate Social Responsibility) BNI yang bekerja sama dengan UB, turut serta mendanai sebagian dari pembangunan renovasi CL dengan total anggaran sekitar 1,7 Milyar.

Pembangunan perubahan CL sendiri sudah berlangsung setahun lebih. Hal yang menjadi sorotan utama dari perubahan ini adalah sistem pembayarannya. Jika dulu mahasiswa membayar langsung pada penjual, sekarang terpusat di satu tempat.  “UB Kantin di bawah Badan Usaha Non Akademik UB dan UB Kantin mengkoordinasikan semua kantin di UB. Ada 3 unit, yang pertama kantin perpustakaan, pujasera, dan CL,” ujarnya. 

Di balik perubahan itu, Ubaidillah menyatakan ada tujuan lain yang akan dicapai, yaitu untuk menyokong UB dalam PTN BH. “Untuk menambah PNBP (Pendapatan Negara Bukan Pajak) UB. Jadi sebentar lagi ini kita kan PTN BH, jadi biar tidak menaikkan SPP (UKT, red) mahasiswa. Dilihat pertahunnya, UKT mahasiswa diturunkan oleh Pak Bisri selaku Rektor UB. Makanya kita akan meng-create sebesar-besarnya pendapatan yang bisa diambil oleh UB,” ungkapnya.

Perbedaan yang terjadi akibat perubahan CL pun dirasakan oleh Ida, salah seorang penjual yang sudah lebih dari 10 tahun berjualan di CL. Ida mengaku ada baik buruknya dengan sistem yang ada pada CL yang baru. “Kalau yang sekarang tempatnya bagus dan rapi, tapi kalau dari segi pendapatan enak yang dulu. Sekarang ini diambil 17% dari penjualan per hari. Dan bayarnya terpusat, semisal ada mahasiswa yang bayar di tempat (lapak penjual, red) walaupun hanya seribu, saya bisa langsung dikeluarkan,” kata Ida. Ia pun mengeluhkan tingginya harga sewa dibandingkan sebelumnya, yang hanya perlu membayar sekali tiap tahunnya. Ia juga belum berani menaikkan harga makanan, dengan pertimbangan pelanggannya akan berpindah ke penjual yang lain jika harga yang dijualnya menjadi lebih tinggi.

Nyatanya, model penyewaan yang sama juga sudah diterapkan sebelumnya di Kantin Griya Brawijaya dan Kantin Perpustakaan UB. “Kalau dulu sewanya tetap, sekitar 6 juta pertahun dan dianggap terlalu murah. Sekarang sistemnya adalah bagi hasil yaitu dari apa yang mereka dapatkan sehari 17% untuk UB dan 83% untuk penjual,” tuturnya. Bagi hasil tersebut akan dimasukkan untuk biaya listrik, air, sampah, perbaikan jika ada kerusakan, dan lain-lain. Ia juga menambahkan kalau harga sewa tersebut juga termasuk pelatihan kantin yang halal untuk penjual di kantin UB dengan mengundang pemateri.

Selain itu, CL yang baru akan menerapkan sebuah misi sosial. “Jika dulu penjual kantin yang di CL bisa puluhan tahun menetap sewa di sana, untuk konsep yang baru sekarang 1 stand hanya boleh berjualan di UB maksimal 3 tahun, lalu akan digantikan oleh penjual yang lain,” ungkapnya. Ketika penjual sudah berada di CL selama 3 tahun, harapannya mereka sudah memiliki modal dan bisa bersaing mandiri di UB yang kemudian digantikan oleh penjual baru agar bisa memberikan kesempatan penjual lain untuk berada di CL.

Dengan perubahan tersebut, diharapkan mahasiswa bisa nyaman dan berkreasi di sana. “Tidak cuma untuk makan dan minum saja, nanti akan disediakan tempat musik agar mahasiswa lebih berkreasi,” imbuhnya. (nell, sya)

Share It On:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here