DISPLAY – Telah terselenggara salah satu kegiatan perlombaan akademik tahunan, yaitu Rektor Cup pada hari Minggu (15/04) lalu. Rektor Cup ini ditujukan untuk mahasiswa baru dari setiap fakultas di Universitas Brawijaya dalam memaparkan Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) sebagai persiapan untuk menuju PKM 5 bidang. FILKOM sendiri mengirimkan 16 tim untuk bersaing dalam kompetisi ini dan berhasil memperoleh 1 perak dalam kategori PKM-PE (Penelitian Eksakta) dan 1 perunggu dalam kategori PKM-PSH (Penelitian Sosial Humaniora).

Untuk kategori PKM-PSH, yang berhasil meraih perunggu merupakan tim dari Muhammad Syarifuddin. Ia bersama timnya membuat suatu metode pembelajaran untuk anak-anak dengan judul GORLIDS (Algorithm for Life Kids) yang merupakan upaya untuk meningkatkan skill problem solving anak usia 4-6 tahun melalui computational thinking dengan media permainan. Mereka mengangkat hal tersebut karena merasa sistem pendidikan di Indonesia dinilai masih terbilang rendah. “Kan sistem pendidikan Indonesia itu sangat rendah kan mbak. Menurut pakar, pendidikan Indonesia itu menempati posisi 54 dari 67. Sangat miris banget. Nah itu ternyata pemerintah itu fokus pada gurunya untuk mendidik anaknya bukan ke kurikulum anaknya. Nah itu kayak kita memilih metode untuk pengelompokan pembelajaran yang dinamakan GORLIDS algorithm pokoknya untuk meningkatkan skill-nya anak ini, anak usia 4-6 tahun itu masih memiliki pemikiran konkret gitu kayak simbolis, yang artinya apa yang kita pengaruhi apa-apa gitu dia belum bisa mikirin dampak ke depannya gitu entah itu baik entah itu buruk,” ungkapnya.

Tim dari Syarifuddin juga aktif berkonsultasi dengan dosen pembimbing yang juga sedang meneliti masalah serupa dan turun langsung ke lapangan. “Dosen dari Pak Admaja (Admaja Dwi Herlambang, red) 5 kali bimbingan dikasih saran, sitasi itu seperti ini. Pak Herlambang bilang, nah ini buat kamu skripsi bisa, gitu. Pak Herlambang juga meneliti ini tapi metodenya bukan dengan permainan secara manual. Terus ini lebih ke terjun langsung di Brawijaya Smart School gitu tanya-tanya ini penelitiannya gini, anak-anaknya gini,” ujarnya. Setelah meraih prestasi di Rektor Cup, ia berencana  melanjutkan lagi ke DIKTI untuk mengikuti PIMNAS. “Rencananya aku mau mengajak temen-temen buat diajukan ke DIKTI, kalau temen–temen nggak mau aku cari temen-temen yang lain,” imbuhnya.

Prestasi pada Rektor Cup untuk FILKOM sendiri mengalami peningkatan daripada tahun sebelumnya, dimana pada tahun lalu FILKOM hanya berhasil meraih satu medali. Dedin Anike Putra, Ketua Umum K-RISMA, turut merasa bangga dengan pencapaian yang telah dilakukan oleh teman-teman FILKOM yang mengikuti Rektor Cup. “Perasaan pasti seneng yo, bersyukur. Sebenernya di PKM MABA ini mereka agent buat itu sih, kayak membuat citra PKM di FILKOM itu lebih baik lagi. Jadi harapanku melalui mereka, mereka tau kalau setingkat universitas aja euforianya kayak gini, gimana kalau misal nasional. Nah dari perjuangannya jauh lebih panjang gitu. Yang pasti bangganya nggak mereka sendiri ya, bukan kamu aja yg ngerasain, tapi fakultas juga bangga,” ungkapnya.

Berbeda halnya dengan peningkatan prestasi pada Rektor Cup, untuk PKM DIKTI perwakilan dari FILKOM mengalami penururan setiap tahunnya. Pada tahun 2015 terdapat 16 tim dari FILKOM yang berhasil lolos pendanaan, 12 tim pada tahun 2016, dan 4 tim pada tahun 2017. Sama halnya pada tahun ini, hanya 2 tim FILKOM dari 175 tim di Universitas Brawijaya yang berhasil lolos pendanaan. Berkurangnya tim yang lolos disinyalir karena adanya ketetapan baru, yaitu pembatasan jumlah tim untuk Universitas Brawijaya. “Jadi UB itu masuk wilayah 1 itu maksimal 700. Nah jadi dari universitas dibatasi 700, jadi diseleksi dulu di universitas, terus nanti dari fakultas upload ke universitas kan. Itu di-review, dinilai. Nah yang dari 700 besar itu baru bisa dapat hak akses untuk di Simbelmawa,” jelas Dedin.

Selain adanya pembatasan tim dari universitas, terdapat permasalahan lain yaitu dalam berkas administrasi dari masing-masing tim yang mendaftar. Dedin juga mengatakan, “Persyaratan administrasinya kurang. Waktu dulu kayak ada pengumpulan lembar pengesahan, terus lembar pernyataan ketua di K-RISMA. Itu juga ya kita ngobrak-ngobrak  ini lembar pengesahanya, ini masih kurang, masih salah semua, salah format. Tapi yang memperbaiki itu masih sedikit. Jadi ya kita biarkan apa adanya” ungkapnya. Disamping itu, kurangnya koordinasi anggota tim dengan dosen pembimbing dalam melakukan konsultasi juga menjadi salah satu penyebab sedikitnya tim yang lolos. “Dan kurang mengoptimalkan peran dosen pembimbing sih. Jadi dosen pembimbing itu cuma hitam di atas putih aja. Mereka kurang berinisiatif untuk menghubungi dosen pembimbing buat konsultasi proposal,” imbuhnya.

Selain permasalahan teknis, penyebab menurunnya perwakilan FILKOM dalam PKM DIKTI yakni pada minat mahasiswa FILKOM sendiri dalam mengikuti kompetisi tentang kepenulisan, yang dianggap Dedin masih sangat rendah. “Nah mungkin karena di FILKOM itu, ya anak-anaknya masih cenderung meremehkan yang kepenulisan. Jadi untuk kualitas kepenulisanya masih kurang, minatnya cenderung masih minim sih, dan kebanyakan itu lebih membuat PKM karena tugas kampus. Sebenernya bagus tugas kampus, karena kan anak FILKOM kalo nggak dipaksa ya nggak membuat,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi permasalahan yang ada saat ini, kedepannya akan diadakan peningkatan sistem untuk menarik minat dari mahasiswa FILKOM dalam membuat PKM. Dengan lebih meningkatkan koordinasi dan lebih mengarahkan konsultasi dengan dosen pembimbing. “Program kerja itu masih tetep sama, mungkin sistemnya yang lebih kita perbaiki. Dari tahun lalu seminar sama CC (Crisis Center, red) itu ada, mungkin emang koordinasinya masih kurang. Terus yang lain lebih ngoptimalin peran dosen pembimbing. Soalnya kalau kayak kegiatan penelitian, memang mahasiswa sendiri yang gerak ya, memang bisa sih mahasiswa yang gerak cepet tapi kadang-kadang mbulet nggak terarah. Peran dosen pembimbing kan buat ngarahin itu,” terang Dedin.

Selain berkoordinasi dengan K-RISMA, pihak dari fakultas yang diwakilkan oleh Adam Hendra Brata juga akan bekerjasama dengan beberapa dosen untuk mengadakan kuliah khusus penelitian dan akan menerapkan pelatihan intensif yang mengarah ke PKM untuk lebih menarik minat mahasiswa. “Kita nanti coba akan diskusikan lagi ke Pak Edy gitu ya untuk kegiatan sosialisasi. Istilahnya tetap sosialisasi PKM cuma nanti lebih menarik minatnya temen-temen mungkin lewat dosen-dosen di kelas atau apa. Mungkin ada kuliah-kuliah khusus yang memang diarahkan untuk jadi penelitian atau apa, jadi ya mungkin untuk sekarang ini masih belum kita obrolin lagi, karena kemarin yang biasanya punya ide untuk sosialisasi itu kan temen-temen K-RISMA. Nanti mungkin temen-temen yang di PKM ini juga akan dibuatkan semacam inkubasi juga mirip kayak yang untuk GEMASTIK, itu cuma nanti arahnya lebih ke PKM. Soalnya untuk minatnya dulu sih. Karena temen-temen yang kita lihat di sini itu minatnya yang ikut PKM itu kurang, karena prosesnya itu kan rada lama, panjang, terus ngurus LPJ gini,” tandas Adam. (nh, aw)

Sumber gambar: instagram K-RISMA FILKOM UB

Share It On:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here