DISPLAY – Memperingati hari buruh atau May Day, Aliansi Sekretariat Bersama (Sekber) Peringatan 1 Mei 2017 melaksanakan aksi di Alun-Alun Kota Malang dengan mengusung tema “Momentum Bangkitnya Gerakan Buruh”. Aksi yang dilaksanakan sejak pukul 08.00 pagi hari ini mengajukan total 14 tuntutan, antara lain:

  1. Tolak politik upah murah
  2. Cabut PP 78/2015 Tentang Pengupahan
  3. Tolak PHK Sepihak
  4. Hapus sistem kerja kontrak dan outsourcing
  5. Berlakukan jam kerja sesuai UU ketenagakerjaan 13/2003
  6. Pendidikan gratis bagi anak buruh mulai dasar sampai perguruan tinggi
  7. Terapkan K3 secara penuh
  8. Tolak pungli pada BPJS kesehatan dan ketenagakerjaan
  9. Lindungi kebebasan berserikat dan berpendapat bagi seluruh rakyat
  10. Penjarakan pengusaha yang melanggar hak normatif buruh
  11. Tolak keterlibatan militer di ranah sipil
  12. Berikan jaminan pekerjaan bagi seluruh rakyat
  13. Penuhi hak normatif pada buruh perempuan
  14. Hentikan intimidasi dan diskriminasi kepada buruh

Sejak diberlakukannya Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2015, buruh hanya menikmati kenaikan upah sekali dalam 5 tahun. Belum lagi tindak ketidakadilan perihal pengupahan yang hanya ditetapkan oleh pengusaha/perusahaan tanpa adanya pengikutsertaan buruh dalam penentuan upah tersebut. “Yang merugikan buruh, minimal ada 2, yang pertama kenaikan upah 5 tahun sekali. Yang kedua mengenai buruh tidak diikutsertakan dalam penentuan upah, berkat PP tersebut,” terang Novada selaku Humas Aliansi Sekber May Day 2017.

Selain tuntutan pencabutan Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2015, Aliansi Sekber May Day 2017 juga menuntut penghapusan politik upah murah yang ada di kota Malang. “UMR malang itu sekitar 2,2 juta, tapi masih ada buruh yang dipekerjakan di instansi tertentu contohnya, cuma digaji 800 ribu, asik nggak tuh?” ungkap Novada.

Aksi hari ini pun tidak bersifat langsung menuntut pemerintah atau pun pengusaha dan perusahaan, melainkan hanya menyuarakan permasalahan yang dirasakan oleh buruh. “Kita tidak menuntut langsung, tapi lebih ke arah menyuarakan, kalau menuntut langsung mungkin nanti, per kasus,” ujar Novada. Saat ditanya perihal aksi lanjutan, Novada mengaku belum ada niatan untuk melanjutkan aksi. “Untuk aksi lanjutan belum ada mas, karena kita masih menghimpun (orang-orang, red) untuk mempermanenkan aliansi ini,” tutupnya. (rap)

Share It On:

NO COMMENTS

Leave a Reply