DISPLAY – Salah satu upaya peningkatan mutu teknologi pembelajaran pada Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) adalah dengan pembuatan laboratorium yang sudah dilakukan. Untuk pengesahan resminya, laboratorium baru ini masih menunggu Surat Keputusan (SK) resmi yang sedang diajukan ke rektorat. Nama yang diajukan untuk laboratorium ini adalah Laboratorium Teknologi Pembelajaran. Saat ini laboratorium tersebut masih tergabung dengan grup riset yang ada di FILKOM.

Sebelum menjadi teknologi pembelajaran, penggunaan laboratorium ini tergabung dengan grup riset sejak akhir tahun 2017 hingga akhir tahun 2018. Pada awal tahun 2019, proses restruktrurisasi dilakukan untuk mengubahnya kembali ke bentuk awal yang diusulkan yaitu teknologi pembelajaran. Proses ini dilakukan untuk menjadikan kegiatan riset menjadi struktural dengan menggunakan laboratorium sebagai fasilitator di dalamnya.

Pembangunan teknologi pembelajaran ini dilatarbelakangi oleh pemikiran Ahmad Afif Supianto, dosen Jurusan Teknik Informatika FILKOM dalam menerapkan keilmuan yang dipelajarinya selama belajar S3 di Hirosima, Jepang. “Sepulangnya saya ke sini, kemudian saya melihat beberapa potensi, apa lagi PTI (Pendidikan Teknologi Informasi). Jadi kayak saling sambung gitu. Apa yang saya dapatkan itu, akhirnya kok di sini juga ada beberapa teman dosen dengan keminatan penelitian yang selaras,” jelas Afif.

Dengan melibatkan semua prodi yang ada di FILKOM, laboratorium ini memiliki tingkatan level fakultas yang bertujuan mewadahi langsung penelitian-penelitian lintas prodi maupun jurusan. “Laboratorium ini levelnya fakultas, jadi dia akan mewadahi penelitian-penelitian bahkan lintas prodi, lintas jurusan sekalipun. Nanti penelitian yang berkaitan dengan PTI bisa saling berkolaborasi,” ujar Afif.

Untuk meningkatkan mutu laboratorium teknologi pembelajaran mengadakan kerja sama dengan beberapa instansi baik di Indonesia ataupun di luar negeri. Beberapa di antaranya adalah Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, beberapa jurusan di Universitas Negeri Malang (UM), dan beberapa institusi pendidikan dari tingkat nasional, serta Hirosima University pada tingkat internasional. 

Laboratorium ini menyediakan pembimbing yang beragam sesuai dengan bidangnya masing-masing. Bimbingan tersebut dijelaskan Afif berupa bimbingan untuk melakukan penelitian dan bimbingan untuk melakukan seminar. “Yang pertama model progres pembimbingan penelitian dari mahasiswa, yang kedua adalah melalui seminar, bukan event. Seminar ini baik seminar kecil maupun seminar progres meeting itu per minggu sekali. Untuk per bidang itu ada progres per minggunya,” ujarnya.

Proses restrukturisasi laboratorium ini juga mendapatkan kendala. Afif mengaku bahwa juga dilakukan beberapa penyesuaian ataupun peningkatan pada titik tertentu. “Untuk kendala sendiri adalah adaptasi, bagaimana kultur penelitian yang ada di Hirosima yang di bawa ke sini itu beda budayanya. Pasti akan ada beberapa assessment atau penyesuaian. Tapi, kembali lagi kita sesuaikan. Istilahnya ya kita sesuaikan meski ada yang baik akan terus ditingkatkan dan yang tidak memungkinkan ya kita butuh penyesuaiannya saja,” jelas Afif.

Harapan Afif untuk menjadikan laboratorium ini menjadi lebih produktif dengan banyaknya mahasiswa yang bergabung di dalamnya. “Karena memang ini merupakan laboratorium baru, jadi belum banyak yang tahu juga. Bahwa laboratorium ini ternyata tidak hanya namanya saja seolah-olah learning gitu, padahal rohnya itu adalah FILKOM, dan lingkupnya adalah Ilmu Komputer,” jelas Afif.

Afif juga menambahkan bahwa teknologi ini bisa digunakan untuk mendukung pembelajaran dengan menjadikannya sebagai fasilitas. “Jadi kita menggunakan teknologi dan yang digunakan adalah ilmu komputer untuk men-support pembelajaran bukan berarti kemudian kita membuang seorang guru. Justru ini adalah sebagai fasilitas untuk kemudian guru bisa berkembang dalam mengajar,” tutup Afif. (rd, s)

Share It On:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here