DISPLAY – Paruh kedua bulan September menandai pelaksanaan kompetisi olahraga, seni, dan penalaran terbesar di Universitas Brawijaya (UB). Jika pada tahun-tahun sebelumnya, kompetisi tersebut diberi nama Olimpiade Brawijaya tahun ini diubah menjadi Orsim Brawijaya (OB). Naufal Savero selaku Ketua Pelaksana OB 2019 menjelaskan, hal ini dikarenakan penggunaan nama Olimpiade sendiri adalah bentuk pelanggaran hak cipta dari International Olympic Committee (IOC). “Sebelumnya memang dari awal kegiatannya namanya Olimpiade Brawijaya, kemudian antara bulan Maret sampai Mei keluar surat keterangan dari pihak Menristekdikti bahwa adanya larangan menggunakan penamaan Olimpiade pada semua universitas di Indonesia,” ungkap Naufal.

Selain penamaan acara yang berbeda, tahun ini OB juga menambah sistem pertandingan baru. Pada sistem bertajuk ekshibisi tersebut para peserta dari beragam fakultas dikelompokkan dan bertanding sebagai tim. “Jadi dari Orsim Brawijaya sendiri ada empat cabang yaitu olahraga, seni, dan penalaran namun rencananya bakal ada cabang ekshibisi yang mencakup sepak bola, voli, basket dan e-sport,” jelasnya.

Menurut Ivan Cahya selaku Ketua Kontingen Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) UB perubahan yang mencolok terdapat di sistem pertandingan OB itu sendiri. Selain itu, tahun ini terdapat cabang olahraga yang ditiadakan pada tahun sebelumnya seperti basket dan futsal. “Tapi yang paling mencolok tahun ini adalah sistem OB sendiri, di mana tahun lalu ada cabang yang tidak dilombakan seperti basket dan futsal,” tuturnya. Meskipun demikian, pihaknya dan kontingen fakultas lain merasa tidak puas karena sistem pertandingan ekshibisi tidak memberikan timbal balik atas nama fakultas pada cabang olahraga yang bersangkutan.

Tujuan diterapkannya sistem ekshibisi tak lain agar cabang olahraga yang dihapus pada OB 2018 dipertandingkan kembali dengan pertimbangan meminimalisir kericuhan yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya. “Jadi kalau tidak mengatasnamakan fakultas otomatis tidak ada supporter dari fakultas yang mana kericuhanlah yang menjadi penyebab utama cabang tersebut dihapuskan pada tahun lalu,” ujar Ivan. Menurutnya penggunaan kata kericuhan yang dimaksud pihak rektorat rancu. “Kalau masalah kericuhan pada tahun lalu, pihak rektorat berpikir lempar-lemparan yel-yel yang menyangkut fakultas lain atau menyebut panitia itu termasuk kericuhan,” ungkapnya.

Panitia OB yang didampingi oleh pihak EM dan DPM telah melakukan audiensi ke pihak rektorat terkait pendapat dan solusi dari kontingen fakultas yang menghendaki kompetisi dipertandingkan antar fakultas, bukan ekshibisi. Namun sampai tulisan ini dimuat masih belum ada perkembangan lebih lanjut. “Jadi saya pikir panitia OB sedang berusaha untuk memproses tuntutan dari teman-teman fakultas, berubah tidaknya sistem tersebut tergantung dari hasil audiensi yang dilakukan,” tutur Ivan.

OB 2019 berlangsung mulai hari ini (16/9) dan ditutup dengan closing ceremony pada 5 Oktober mendatang. Berbeda dengan tahun sebelumnya, opening ceremony OB tahun ini jatuh pada tanggal 19 September 2019 di mana kompetisi sudah mulai berjalan. Naufal mengatakan bahwa pemilihan tanggal tersebut dikarenakan permasalahan perizinan tempat. “Sebenarnya permasalahan dari perizinan tempat, karena pada tanggal itu sudah digunakan tempatnya oleh salah satu UKM,” ujar Naufal

Lokasi pelaksanaan OB 2019 dibagi menjadi dua, yaitu UB dan venue olahraga luar kampus. “Tempat pelaksanaannya meliputi GOR Pertamina, Lapangan Voli, Gazebo Raden Wijaya, Gedung Samantha Krida, Gedung Kebudayaan Mahasiswa, UB Sport Center, UB TV, dan juga Lapangan Sepak Bola UB Dieng. Kalau selain UB ada Lapangan Gajayana, Kolam Renang Gajayana, dan kemungkinan juga di Kolam Renang Rampal,” tutupnya. (ze, hyf)

Share It On:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here