DISPLAY – Pemilihan DPM FILKOM sudah semakin dekat. 9 kursi yang seharusnya diperebutan para calon DPM ini malah berakhir dengan aklamasi. Hal ini dikarenakan jumlah pendaftar DPM FILKOM periode 2017-2018 telah sesuai dengan jumlah kursi yang disediakan. Terkait aklamasi,  Ernesto Ersada Barus selaku koordinator DPM saat ini membenarkan hal tersebut. “Iya aklamasi. Kan ada 9 calon dan kursinya 9,” ungkapnya.

Aklamasi yang terjadi pada DPM FILKOM saat ini bukanlah hal baru. Jika menilik Pemilwa DPM dua tahun lalu (2014), hal serupa juga pernah terjadi. Sedangkan peraturan mengenai aklamasi DPM tidak diatur di AD/ART. “Kalo di Undang-Undang (AD/ART, red) itu gak diatur. Dari 2 tahun lalu juga gak ada diatur kayak gitu. Cuman masalah Presiden. Jadi kalo calon Presiden BEM nya tunggal, itu dilawankan sama bumbung kosong. Dia (presiden, red)  harus mendapatkan 60% dari suara yang masuk. Kalo DPM, gak ada aturan soal aklamasi,” papar Ernesto. Meskipun DPM mengalami aklamasi, pemungutan suara akan tetap dilaksanakan pada tanggal 13 Desember 2016 bersamaan dengan pemilihan Presiden dan wakil Presiden BEM FILKOM.

Perlu diketahui, ada yang berbeda pada Pemilwa tahun ini. Jika Pemilwa tahun sebelumnya menggunakan cara konvensional yaitu menggunakan kertas, Pemilwa tahun ini beralih menggunakan e-vote yang sistemnya telah disiapkan oleh BPTIK FILKOM. Akan tetapi sangat disayangkan karena pada sistem yang terlanjur dibuat tersebut mengharuskan pemilih memilih DPM, Presiden dan Wakil Presiden BEM sekaligus, walaupun pada kenyataannya DPM FILKOM telah aklamasi.

Perihal dirubah atau tidaknya sistem yang telah dibuat, DPM tidak mau ambil resiko dengan mengubah sistem. “Kita kasih sistemnya kalo memilih DPM dan BEM. Nanti BEM dulu dipilih baru DPM, sedangkan yang hadir (mencalonkan diri, red) itu ada 9. Nah, 9 itu baru kita tau. Sedangkan waktu untuk BPTIK itu tinggal 2 minggu lah kalau mereka mau rombak ulang (sistem e-vote, red),” papar Ernesto.

Menurut Ernesto, sistem e-vote memiliki banyak manfaat. Selain menghemat kertas, sistem ini bisa digunakan lagi di Pemilwa tahun-tahun berikutnya. Jika digunakan lagi hanya tinggal dilakukan proses maintenance saja, itu pun jika diperlukan. “Kalo kita pake e-vote, tahun depan kan bisa digunakan. Jadi ya untuk DPM-nya sebenernya ya testing sistemnya juga,” tegas Ernesto.

Ernesto juga memprediksi euphoria pemilihan tahun ini akan berkurang karena jumlah kursi yang disediakan untuk DPM sudah pas dengan jumlah calonnya. “Kalo yang menurunkan euphoria, aku bilang jumlah DPM yang sekarang sudah sembilan, DPM kan udah aklamasi jadinya yang gencar untuk menarik suara kan hanya BEM doang. DPM-nya katakanlah ada 10, berarti mereka kan harus sounding juga supaya datang e-vote, sounding juga supaya jangan lupa memilih. Ya udah ngapain aku capek-capek harus buat kartu nama, buat banner lah, sounding ke kelas-kelas soalnya aku sudah menang. Beda  kalo DPM-nya lebih dari 9,  mereka harus ada yang ke kelas-kelas jadi orang-orang kan makin heboh gitu,” kata Ernesto.

Ernesto menilai aklamasi yang terjadi pada DPM periode 2017-2018 menjadi pekerjaan rumah bagi FILKOM karena ketika dibuka pendaftaran DPM, calon yang mengambil formulir hanya 9. Hal ini dinilai efek dari banyaknya mahasiswa yang belum tahu tentang DPM, bagaimana DPM bekerja sampai apa tugas DPM. “Ya mungkin aspirasiku untuk tahun depan itu sih, maunya dibuat kayak sekolah legislasi gitu oleh DPM. Karena kalo aku bilang, mungkin itu bisa membuka pandangan ke teman-teman, sehingga euphoria tahun-tahun depan enggak lagi aklamasi. Mungkin mereka juga takut, kalo di BEM kan kita udah tau, oh buat proker seperti ini, karena kegiatannya terlihat. Nah, kalo DPM kan enggak terlihat banget kan, malah kadang orang, ih ada nggak sih kerjanya, ngapain sih. Nah kalo dibuka sekolah legislasi orang pun melihat, oh ternyata DPM ini tugasnya kayak gini,” jelas Ernesto. Dengan keadaan yang sekarang, Ernesto memberikan sebuah kutipan. “Ada satu kutipan demi sukses jadi pemain bukan komentator, kalo aku pribadi mandang banyak dari kita yang jadi komentator, tapi kita gak mau jadi pemain. Ya mau gimanapun enggak bakal sukses. Kebanyakan dari kita takut, padahal sebenernya lembaga ini jalan yang baik untuk berproses,” tutup Ernesto.(re, ir)

Share It On:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here