Perwakilan tim dari FILKOM UB yaitu “Comnet Assistant” telah berhasil menjuarai salah satu kategori lomba CompFest 2015 dibidang “Disaster Solver”. Tim yang beranggotakan Bagus Aji Pamungkas, Dienastya Galih P. dan Variska Vagarda V ini menciptakan sebuah alat pendeteksi banjir bandang yang berfungsi untuk membaca ketinggian level air. Ketiganya adalah mahasiswa Informatika angkatan 2012. Tim ini mengambil studi kasus pada kabupaten Situbondo yang sering dilanda banjir bandang, dimana faktor penyebabnya adalah luapan air sungai. Cara kerja aplikasi ini sebenarnya sangat sederhana, yaitu dengan membuat sensor yang berfungsi untuk mengukur ketinggian air. Selanjutnya sensor ditempatkan pada sebuah maket simulasi sungai untuk membaca ketinggian air. Jika ketinggian air mencapai batas-batas setiap level maka sensor akan mengirimkan sinyal ke server dan selanjutnya server akan mengirimkan peringatan push notification ke apliakasi mobile yang telah dibuat.

Tak mudah bagi tim comnet assisten untuk bisa menjuarai lomba ini, mereka terlebih dahulu melewati seleksi yang terbagi menjadi 3 tahapan. Pertama, mereka terlebih dahulu wajib mengumpulkan proposal yang berisi ide dan tahapan pengerjaan dan bagaimana cara kerja dari aplikasi yang akan dibuat. “Ide dari pembuatan aplikasi ini terinspirasi dari kota kelahiran saya, Kabupaten Situbondo yang sering 1444830960676dilanda banjir bandang”, kata Bagus. Bagus berkeiinginan bencana banjir di Situbondo dapat diketahui sedini mungkin untuk mencegah adanya korban materi maupun korban jiwa. Setelah proposal yang diajukan lolos dan diterima, tim diminta untuk membuat video demonstrasi bagaimana aplikasi ini berjalan. Pada tahapan selanjutnya yaitu babak final, tim comnet assistant diwajibkan mendemokan langsung aplikasi yang telah rampung pada babak final dihadapan juri untuk dinilai secara langsung juga.

Dalam pembuatannya, Comnet Assistant ingin menekankan biaya produksi yang minimalis. “Sensor dan bahan-bahan pembuatan aplikasi ini harganya sangat ekonomis, mudah didapatkan dan mudah diterapkan, jadi untuk alat simulasinya dibawah Rp1.000.000, dikisaran Rp 500.000 sampai Rp 600.000 ”, ungkap Bagus yang berperan sebagi leader team. Hal ini yang menjadi pembeda dan keunggulan produk ini dibandingkan dengan produk lain sejenisnya. Pada tahapan perealisasiannya tim ini telah mengajukan proposal pada BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Situbondo untuk diterapkan pada sebuah bendung yang terdapat pada Kabupaten Situbondo, namun sangat disayangkan belum ada respon positif dari pihak-pihak terkait.

Tak lupa Bagus mengucapkan banyak terimakasih kepada dosen dan laboratorium mobile yang telah mendukung dan membantu pengerjaan aplikasi ini sehingga dapat menjuarai lomba kategori disaster solver.

(dewe)

Share It On:

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here