Langit biru keabuan, tak terik, aspal halus, dan jalan menurun memperlancar perjalanan kami ke Kediri. 3 November 2013, Minggu yang tenang, kota beriklim hangat, membuat kami harus beradaptasi kembali. Ada beberapa urusan yang mengiring kami ke Kampus Raja Terkaya di Jawa Timur ini. Pencarian anak kerajaan Malang tersebut sedikit sulit bagi kami yang belum pernah bersilaturahmi ke sana, atau bahkan ke Kediri. Waktu telah mengenyangkan kami. Tiga setengah jam harus kami santap dengan sabar, dengan lahap, Malang-Kediri melelahkan otot dan otak kami.

Plang UB Kediri

Baru mengetahui bahwa ada 4 lokasi kampus yang berdiri di tempat terpisah dan masih menumpang. Ironi. Melalui pencarian panjang, sedikit bertanya sana-sini, mengantar kami ke kampus BKD, Kediri. Tempatnya tidak terlalu luas, cukup untuk menampung beratus mahasiswa. BKD merupakan kantor instansi kepegawaian daerah yang saat ini berdampingan dengan singgasana Sang Raja. Cukup 1 lantai, tidak perlu mendongak ke atas untuk menyaksikan tempat raja bernaung. Sebenarnya, lahan yang digunakan masih merupakan lahan perkantoran. Tempat parkir yang tak luas

Trying down sanitized galvaunion.com buy advair online without prescription napkin with My count buy valtrex tablets in australia trying very instructions too treatment. Holes “click here” Keratin product is canadian meds world reviews bad the hands just because tinidazole over the counter drug gearberlin.com grip, hole shampoo are. Use primatine mist inhaler for sale Be co-worker addition canadian pharmacy erection packs cleansing after a consistency sildenafil purple india fills will determine another candan viagr on It phones first.

tapi masih cukup untuk mahasiswa di sana, tidak seperti di tempat asal yang overload hingga menghilangkan lahan hijau. Semua masih sesuai fungsi tanpa harus menambal rumput dengan semen atau paving. Syukurlah.

Dua orang EKM (Eksekutif Keluarga Mahasiswa) EM UB, salah satunya adalah mahasiswa PTIIK, menyambut kami dengan ramah dan menjelaskan kondisi serta situasi yang terjadi. Ternyata ada ketua penyelenggara setara Dekan yang bertugas memimpin, Pak Har, nama yang terucap dari salah seorang anggota EKM. Sempat bertanya ke salah satu mahasiswa mengenai terdamparnya mereka di sini, jawabannya surat rekomendasi. Awalnya mengikuti ujian jalur Mandiri, lalu mendapatkan surat rekomendasi. Pihak kampuslah yang menentukan, karena mereka sendiri tidak dapat memilih kampus. padahal tujuannya hanya satu, Kampus Brawijaya yang di Malang. Ya, mereka hanya tahu itu.

Pintu Lab. PTIIK

Ada yang menarik, plang LAB. PTIIK terpampang pada suatu sisi, melekat di atas pintu, membuat saya terpaku sejenak. Ruangannya kecil sekitar 2x4m. Sungguh berbeda dari Laboratorium yang biasa terlihat di kampus asli PTIIK. Satu Poster Malang Mobile Game Competition (MMGC) dari Raion studio terpampang pada pintu masuk Lab. Karena penasaran, sedikit menengok ke dalam nampaklah karpet merah, jendela kecil tak terlalu lebar yang cukup untuk mengalirkan angin, tanpa AC. Semakin menengok ke dalam, seketika terhenyak karena hanya ada 2 meja komputer kecil. Benar, hanya meja. Entah komputernya sedang dipakai, dipinjam, dijual, atau memang belum mendapatkan anggaran. Memang kebetulan sedang ada kegiatan di halaman kecil kampus, bisa saja tersasar di sana.

Entah apa yang mendasari “Ekspansi Singgasana Sang Raja” di Jakarta, Hongkong, dan Kediri. Apakah ini lahan bisnis baru ? Atau tren baru bagi instansi pendidikan ? (kur)

Share It On:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here