DISPLAY – Belakangan ini, mahasiswa FILKOM dibuat tidak nyaman oleh keberadaan nyamuk yang merajalela di area Gazebo FILKOM. Tidak hanya mengganggu kenyamanan, menurut Alfa Yolanda Putri selaku Dirjen Kesejahteraan Mahasiswa BEM FILKOM, banyaknya nyamuk di area Gazebo menyebabkan lebih dari sebelas orang yang terindikasi penyakit demam berdarah. “Kita udah nge-list yang kena DB (demam berdarah, red) sejak di FILKOM itu ada sekitar sebelas orang yang didapat datanya, yang di suratnya, sebenarnya sih aslinya banyak,” jelasnya. Sebelumnya, sudah diketahui jika pihak birokrat telah menguras kolam yang terletak di belakang Gazebo sebagai langkah menanggulangi berkembang biaknya nyamuk, lalu pihak sarpras FILKOM juga sudah memasang alat penangkal nyamuk di Gazebo. Alfa juga mengungkapkan jika Edy Santoso, Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan mengaku telah menerima lebih dari 200 komplain dari mahasiswa. “Untuk perihal nyamuk sendiri, Pak Edy udah bilang itu diterima lebih dari dua ratus komplain dari mahasiswa,” ungkapnya.

Bahkan Edy Santoso sudah melakukan gerakan pribadi menanggulangi populasi nyamuk dengan melemparkan berbagai ikan untuk memakan jentik nyamuk di rawa. “Pak Edy sebenarnya juga udah ngelakuin gerakan secara pribadi, dia bilang udah ngelemparin ikan ke rawa buat makan jentiknya itu, nila sama apa gitu,” jelas Alfa. Selain gerakan-gerakan yang disebutkan di atas, BEM juga berencana untuk melakukan gerakan selanjutnya dalam memberantas nyamuk di Gazebo, yaitu dengan melakukan fogging dan menanam tumbuhan anti nyamuk.

Dinas Kesehatan memiliki aturan tersendiri terkait fogging, fogging hanya dapat dilakukan jika nyamuk yang berkeliaran terbukti jenis nyamuk penyebab demam berdarah atau Aedes aegypti. Sedangkan untuk di daerah FILKOM sendiri belum dapat dipastikan apakah nyamuk yang berkeliaran termasuk nyamuk Aedes aegypti atau bukan. Fogging pun dapat dilakukan jika sudah memperoleh persetujuan dari puskesmas yang berwenang. Untuk wilayah UB sendiri puskesmas yang memiliki kewenangan untuk melakukan fogging adalah Puskesmas Dinoyo. Pihak advokesma BEM FILKOM telah mendatangi Puskesmas Dinoyo untuk membicarkan permasalahan lebih lanjut, namun masih belum dapat dipastikan apakah fogging dapat segera dilakukan. “Tinggal  nunggu konfirmasi dari pihak puskesmas, soalnya tanggapannya mereka masih ragu-ragu sih aku lihat,” ungkap Alfa.

Solusi kedua yang berupa penanaman tumbuhan anti nyamuk rencananya akan dilakukan setelah fogging. Karena jika dilakukan penanaman sebelum fogging, dikhawatirkan tumbuhannya akan tercemar karena fogging menggunakan solar yang dapat merusak tanaman. Selain karena alasan tersebut, diatas 10 hari setelah fogging nyamuk akan semakin kuat karena larva nyamuk akan menjadi lebih kebal, jadi penanaman akan dilakukan setelah fogging untuk memperkuat efek dari fogging sebelumnya. Advokesma BEM juga masih mengkaji terkait mekanisme penanaman tumbuhan anti nyamuk ini. “Jadi, rencananya nanti Advokesma kerjasama sama Sosial Masyarakatnya BEM atau nanti kita ajak himpunan, belum dikaji lagi struktur pembuatannya gimana,” papar Alfa. Agar tidak mudah terjangkit penyakit akibat gigitan nyamuk, Alfa berpesan untuk menjaga kesehatan diri sendiri, juga melakukan pencegahan terhadap diri sendiri dengan membawa lotion anti nyamuk atau semacamnya. (iw)

 

sumber gambar: hipwee.com

Share It On:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here