Senin, 2 Mei 2016 bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional, sejumlah mahasiswa dari berbagai elemen di Universitas Brawijaya melakukan aksi menolak komersialisasi pendidikan di Universitas Brawijaya. Aksi ini didasari kajian yang dilaksanakan Komite Pendidikan (KP) Universitas Brawijaya sebelumnya. Dalam aksinya, mahasiswa menuntut penyelesaian masalah dalam kampus dan menolak segala kebijakan yang tidak pro mahasiswa. Aksi ini dimulai dangan long march dari gazebo UB, lalu berorasi di bundaran UB dan mengakhiri long march di Gedung Rektorat Universitas Brawijaya. Dalam orasinya mahasiswa membawa 5 point tuntutan, antara lain:

  1. Berikan kuota golongan 1 dan 2 serta bidikmisi minimal 30% untuk anak petani, buruh, dan warga kurang mampu.
  2. Berikan laporan kinerja, keuangan, dan pembangunan UB yang transparan dan akuntabel.
  3. Mendorong partisipasi mahasiswa dalam tahap penentuan UKT setiap tahunnya.
  4. Menolak pungutan liar berkedok praktikum.
  5. Berikan kuota 10% bagi mahasiswa Malang Raya dan 20% bagi mahasiswa kategori 3T (Terdepan, Terluar, dan Terbelakang).

Menurut rilis yang dikeluarkan oleh Komite Pendidikan, sebaran golongan UKT (Uang Kuliah Tunggal) di Universitas Brawijaya tidak merata.  Dimana, golongan 1 dan 2 (golongan terendah UKT), hanya berkisar 4% dan 12% pada jalur SNMPTN dan SBMPTN. Hal ini menyebabkan kenaikan kurva pada golongan 3-6 yang rata-rata berkisar 20-30%.  Dampaknya, Penerimaan Negara Bukan Pajak melalui jasa layanan pendidikan semakin naik tiap tahunnya, hingga angka Rp. 712 juta pada 2015. (sumber: rilis pers Komite Pendidikan UB)

Hal ini, menurut Komite Pendidikan, diperparah dengan pungutan liar di beberapa fakultas Argokomplek (FPIK, FP, FAPET) dan transparansi dana oleh birokrat kampus yang dinilai masih sulit diberikan dan terkesan dilempar-lempar, serta kurangnya keterlibatan mahasiswa dalam penetuan UKT. Dalam aksi ini, mahasiswa juga menolak wacana usulan Universitas Brawijaya untuk menjadi Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH) karena dinilai belum siap.

”Saya sepakat. Bagaimana jika pendidikan dibuat main-main, pendidikan dijadikan bisnis dan bukan mensejahterakan mahasiswa serta membuat kuliah berjalan lancar. Karena mahasiswa adalah agent of change,” ujar Gonzales, salah seorang peserta aksi.”Coba diberikan wadah bagi mahasiswa. Ayo tunjukkan, bahwa mahasiswa sebagai agent of change diberikan fasilitas yang memadai agar menjadi mahasiswa yang dapat menggerakkan bangsa ini,” tambahnya. Setelah berorasi beberapa saat di depan Gedung Rektorat Universitas Brawijaya, pihak Rektorat menerima 5 orang perwakilan mahasiswa untuk berbincang dengan Wakil Rektor I, Prof. Dr. Ir. Kusmartono.

Hasilnya kurang memuaskan. Menurut perwakilan yang menemui wakil rektor I, beliau hanya menjawab beberapa poin dari tuntutan yang dilayangkan oleh mahasiswa. Diantaranya, Rektor belum terpikirkan untuk mengajukan UB menjadi PTN-BH karena prosedur pengajuan yang dinilai berbelit-belit. Selain itu, mengenai beasiswa, beliau meminta bantuan untuk mengawasi beasiswa yang dinilai salah sasaran.

Jpeg
Prof. Dr. Ir. Mohammad Bisri, M.S. memberikan penjelasan kepada massa

Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Ir. Mohammad Bisri, M.S., yang berhasil ditemui dan dimintai penjelasan saat hendak menunaikan ibadah sholat Maghrib, kembali menegaskan bahwa UB belum terpikirkan untuk menjadi PTN-BH dan lebih berfokus kepada PTN-BLU (Perguruan Tinggi Negeri Badan Layanan Umum). Kemudian, mengenai UKT, menurut beliau, UKT ditentukan berdasarkan Peraturan Menteri. Sedangkan mengenai praktikum, beliau mengatakan bahwa biaya praktikum masuk dalam sistem UKT dan jika ada pungutan liar, beliau meminta untuk dilaporkan secara tertulis. Bisri juga menjelaskan mengenai transparansi, bahwa hal ini akan dibahas pada rapat pimpinan di fakultas-fakultas.

”Yang belum terjawab, nanti sampaikan secara tertulis kepada saya besok (Selasa, 3 Mei 2016) melalui perwakilan, langsung ke ruangan saya,” pungkas beliau. (rrt)

 

Share It On:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here