Di tengah krisis identitas mahasiswa yang larut dalam individualisme, sesungguhnya mahasiswa terus dituntut untuk mengabdi dan berkontribusi pada masyarakat. Berangkat dari sumpah tri dharma perguruan tinggi, Anjas Pramono menjadi salah satu mahasiswa FILKOM yang dengan semangat bergerak di bidang sosial masyarakat. Terlebih, mahasiswa Teknik Informatika angkatan 2016 asal Kudus, Jawa Tengah ini baru-baru ini tengah viral karena memuat sebuah tulisan di laman media sosialnya, tentang bagaimana ia tetap bertindak positif bahkan setelah sempat diremehkan oleh orang lain. Penasaran dengan kisah lainnya dari Anjas? Yuk simak hasil bincang-bincang penulis dengan sosok periang ini.

Apa sih kesibukan Anjas selain kegiatan akademik?

Selain akademik, sibuk berorganisasi dan insyaAllah sibuk memulai bisnis.

Ada beberapa artikel nih yang memuat berita Anjas mengikuti perlombaan. Bisa diceritakan perlombaannya apa aja dan pencapaiannya?

Perlombaan untuk skala internasional itu udah ada tiga. Dulu di The Singapore Mathematical Olympiad 2015, The International Science Enterprise Challenge di Jakarta, yang terakhir kemarin i-IDEA: International Innovation Design and Articulation di Malaysia, dan alhamdulillah di bulan September diterima di dua event, International Young Inventors Award di Bali dan International Innovation Fair di India, lombanya tentang aplikasi, yang di Malaysia kemarin alhamdulillah dapat medali perak, itu tentang aplikasi untuk teman-teman disabilitas terutama untuk teman-teman tunarungu dan tunawicara. Saya berinisiatif, gimana kalau kita bikin kamus yang bisa dari kalimat, kata, abjad, karakter, dirubah nanti dikonversi menjadi foto, kemudian menjadi bahasa isyarat atau sign language. Nah itu yang saya bikin, alhamdulillah sudah dapat medali perak.

Di India dan Bali, saya juga mengusung tema tentang disabilitas juga. Kali ini saya tertarik dengan mengusung teman-teman tunadaksa yang pakai kursi roda. Balik lagi saya berangkat dari keprihatinan saya di FILKOM. Mungkin fasilitasnya masih belum yang memadai, oleh karena itu saya bikin aplikasi namanya Locable (Location for Difable). Jadi mungkin nanti katakanlah di Malang, nanti spesifik tempatnya destinasi wisata dan tempat umum mana saja yang sudah accessible dan belum accessible, sehingga teman-teman tunadaksa tinggal akses aplikasi itu mereka bisa melihat. Seperti dari sumpah mahasiswa, mahasiswa sebagai agent of change, social control, nah itu saya bergerak dari situ. Itulah kenapa saya lebih bergerak untuk kepedulian masyarakat terutama minoritas.

Menarik banget nih ide dan pemikirannya. Terus, dari beberapa aplikasi yang pernah dilombakan adakah yang sudah dikomersilkan?

Yang Difodeaf (aplikasi di lomba i-IDEA: International Innovation Design and Articulation di Malaysia) sudah jadi, dan alhamdulillah kemarin sempat ditawari pihak Malaysia untuk mematenkan. Jadi ada dosen dari University of Malaya, mereka tertarik dengan ide saya karena mereka penelitian juga tentang disabilitas dan aplikasi saya rencananya akan dipatenkan, semacam diajak kerja sama gitulah. Dipatenkan internasional atas nama saya dan atas nama mereka sebagai objek penelitian. Dan aplikasi ini rencana akan saya patenkan di Indonesia. Harapannya supaya nanti bisa dipakai oleh teman-teman yang lain juga dan akan kami upload di AppStore dan PlayStore.

Terus sejak kapan nih Anjas termotivasi untuk ikut-ikut lomba?

Dari SD seperti cerdas cermat. Pertama lomba SD di tingkat kecamatan, kabupaten dan alhamdulillah saya juara 1. Dan itu yang membuat saya termotivasi, kenapa? Dengan kondisi saya seperti ini, mungkin banyak orang di luar itu meremehkan, nah caranya saya menunjukkannya dengan hal seperti itu. Saya bukan dari keluarga yang berada juga, cukupan lah, dan bagaimana saya mengubah hidup saya ke depan. Di SMP dulu, saya sempat vakum lomba karena mungkin adanya kasus diskriminasi, yang selalu ikut lomba itu teman-teman tertentu dan itu yang saya temui. Tiga tahun saya di SMP benar-benar nggak ikut apa-apa. Dan SMA alhamdulillah diterima di SMA yang bagus, internasional, hingga saya ikut lomba dari dalam negeri dan internasional. Dan saya masuk Universitas Brawijaya ingin memacu diri saya agar bisa lebih dari apa yang saya lakukan kemarin.

Oh ya, dari tadi kan terus disebutkan tentang disabilitas, apa Anjas sendiri aktif di komunitas difabel? Apa aja yang Anjas lakukan disana?

Iya, di komunitas difabel saya juga aktif. Semacam organisasi di UB ada FORMAPI (Forum Mahasiswa Peduli Inklusi), isinya bukan hanya teman-teman disabilitas tapi ada juga temen-temen yang tertarik tentang disabititas, ada juga volunteer yang tergabung di dalamnya, jadi itu lebih ke umum organisasinya. Siapa yang peduli dengan inklusi, mereka bisa bergabung di situ. Dan kemarin juga kerja sama dengan PSLD melakukan fiqih disabilitas dengan seluruh ulama di Indonesia baik itu NU, Muhammadiyah. Saya sebagai moderator di situ, kami berkumpul, bagaimana sih membuat rancangan peraturan fiqih itu sendiri tentang disabilitas untuk diajukan ke pemerintah. Dan alhamdulillah kemarin sudah di-taken oleh Kementerian Agama, Pak Siroj dari Nahdatul Ulama. Salah satu poin penting yang menurut saya kagum itu, sekarang teman-teman tunarungu dan tunawicara sudah bisa menjadi imam di sholat. Itu salah satu yang saya dan teman-teman perjuangkan.

Pernah ada omongan nih, katanya Anjas juga sudah mendirikan Student Class di Kudus? Kok bisa kepikiran untuk membuat Student Class itu?

Saya orangnya suka bersosialisasi dan langsung ke masyarakat, dan peduli apa sih yang sedang terjadi di Kudus. (Student Class) itu saya dirikan tahun 2016, sebenarnya saya membuat organisasi tersebut untuk mengantisipasi, karena sebelumnya pelajar di Kudus masih banyak yang berantem antar sekolah. Karena adanya kasus pemukulan dari sekolah inilah dan lain sebagainya, saya berpikir bagaimana caranya pemuda pemudi di Kudus yang statusnya masih pelajar, mahasiswa, itu nggak ricuh seperti kota-kota lain, apalagi Kudus itu kota santri ya. Dari situ saya dirikan Student Class, perkumpulan dari pelajar dan mahasiswa yang ada di Kudus, termasuk kampus swasta hingga banyak pelajar SMP dan SMA di Kudus yang sudah bergabung. Kebetulan teman saya lumayan banyak dari berbagai sekolah, nah akhirnya saya adakan kayak silaturahmi gitu, diskusi.

Siapa sih motivator terbesar dalam hidupnya Anjas?

Motivator terbesar saya adalah bapak sih, dan ibu tentunya, karena mereka yang dari kecil yang mengasuh dan memotivasi. Terutama karena saya tipikal anak cowok yang lebih dekat sama bapak, kedekatan emosional sesama laki-laki inilah yang akhirnya ketika ada apa-apa saya lebih sering berkomunikasi dengan bapak. Dari dulu juga bapak sudah paham, karena bapak juga yang mewanti-wanti Anjas harus jadi orang hebat. Anjas tidak boleh dirubah oleh dunia, tapi Anjas yang akan merubah dunia. Itu kata-kata dari bapak yang sampai sekarang saya pegang, karena beliau percaya bahwa saya bisa lebih sukses dibandingkan beliau di suatu saat nanti.

Terakhir nih, apa harapan Anjas untuk ke depannya, terutama untuk temen-temen FILKOM?

Saya selalu berharap temen-temen FILKOM itu peka terhadap kehidupan sosial, maksudnya disini di sekitar kita itu banyak kasus temen-temen yang bermasalah, entah itu masalah UKT, masalah bullying, entah itu masalah apapun itu kondisinya di FILKOM, itu sebenarnya PR kita untuk mengayomi sesama. Ibaratnya kan kita di sini satu keluarga, bagaimana caranya kita bisa menaungi temen-temen semua, intinya kita jangan anti sosial lah. Kita diciptakan menjadi makhluk sosial yang harus peduli pada masyarakat, boleh suatu saat kita hadir di kegiatan kampus dan lain-lain, tapi ketika kita keluar dari kampus kita, nggak akan sesempit itu dunia, masyarakat itu butuh kita sebagai mahasiswa, bagaimana kita memperjuangkan aspirasi masyarakat, dan aspirasi dari teman-teman sekitar kita di FILKOM. (nlr, fzh)

 

Sumber foto : dokumentasi pribadi

Share It On:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here