Ibu Yuita Arum Sari merupakan salah satu dosen FILKOM UB yang pernah menjadi mahasiswa UB jurusan Ilmu Komputer FMIPA. Beliau terkenal sebagai dosen yang ramah dan menyenangkan. Mau tahu seperti apa keseharian Ibu Yuita? Simak wawancara DISPLAY berikut ini.

Apa aja sih kesibukan Ibu selain mengajar di FILKOM?

Kewajiban dosen ada tiga: mengajar, mengabdi, sama meneliti, seperti itu. Selain mengajar ada aktivitas lain seperti kalau saat ini sih penelitian. Terus ada kepanitian lain, seperti yang diadakan FILKOM. Kepanitian ada international conference yang mau diadakan FILKOM. Ada juga undangan sebagai juri atau pemateri.

Penelitiannya seperti apa?

Penelitian sendiri, saya di sini kan tergabung bagian dari Computer Vision Research. Beberapa penelitian kita lakukan setiap tahun, setahun itu minimal 2 kali. Untuk topiknya kadang kita sesuaikan dengan judul yang ada, maksudnya apa ya, seperti apa yang ada saat ini. Kami biasanya ikut ketua, kira-kira akan seperti apa. Kami mencoba untuk sharing ide. Beberapa produk yang ada di Computer Vision kan melalui penelitian.

Bagaimana cara ibu memanajemen waktu antara mengajar dengan kegiatan lainnya? 

Sebenarnya itu masalah yang sangat susah dijawab ya. Bahkan sampai saat ini itu saya masih kesulitan membagi waktu. Pada dasarnya, pada intinya itu yang penting adalah fokus. Yang membuat kita jadi gak fokus kadang terlalu banyak distraksi. Kadang di rumah, saya sudah planning mau ngapain. Akan tetapi hal tersebut kadang biasanya gak sesuai harapan.

Yang sudah direncanakan jadi mundur dan diganti dengan pekerjaan lain yang harus diselesaikan hari itu juga. Nah, itu yang membuat manajemen waktu agak sedikit berubah. Terus juga ada faktor lain, seperti misalnya kan kita kalo kerja tim tapi anggota lain sedang sibuk melakukan sesuatu, jadi kita matching waktunya yang susah.

Terus ada beberapa hal yang sudah terjadwal seperti ketemu mahasiswa ya. Semua waktu buat mahasiswa, kan kurang efisien juga. Terutama buat mereka yang sedang skripsi. Kadang diskusi bisa lama, apalagi kalo awal-awal skripsi. Saya mencoba mengurangi distraksi-distraksi.

Apa saja kejadian unik yang pernah Ibu alami selama mengajar di FILKOM? Bisa ceritakan seperti apa suka duka Ibu selama mengajar?

Banyak, kalau kejadian unik banyak banget. Sebenarnya setiap pertemuan di kelas menjadi sesuatu yang unik buat saya. Kadang misalkan saya datang dengan semangat yang lumayan ya, kadang respon kelas yang well, okay, seems alright. Semuanya kayak diem semua kayak gitu. Ini suatu tantangan bagaimana kelas ini lebih hidup. Kadang buat kuis dadakan atau diskusi kelompok. Yang unik lagi, saya sudah mengajar sampai satu jam dua jam. Mahasiswa saat diberi tugas ya ada yang paham ada yang tidak. Uniknya mahasiswa kalau tidak dikasih tugas tidak belajar. Ada beberapa mahasiswa yang kelasnya disentil dikit sudah semangat gitu.

Yang paling unik ada beberapa mahasiswa, khususnya maba ya saat saya menggantikan dosen, ya mereka menganggap saya asisten dosen gitu kadang manggilnya mbak, kak, ya itu sering terjadi. Sering dianggap seperti mereka. Cuma kadang mereka sungkan kalau sudah tahu. Ya saya sih tidak masalah kalau di luar kelas, tapi kalau sudah di lingkup formal ya usahakan untuk manggi Ibu.

Boleh tahu riwayat pendidikan Ibu sampai saat ini?

Saya dulu S1 di sini (UB, red) Jurusan Ilmu Komputer angkatan 2007. Dulu kan masih ikut Fakultas MIPA, saya lulus itu juga masih ikut MIPA. Kemudian tahun 2012 saya dapet beasiswa dari Dikti gitu ya untuk melanjutkan studi S2 di ITS Teknik Informatika saat itu. Saya waktu itu di semester akhir S1 memutuskan untuk menjadi dosen. Jadi mau gak mau harus sekolah lagi. Waktu itu sudah ada aturan bahwa semua dosen harus S2. Jadi saya memutuskan buat daftar-daftar beasiswa gitu, waktu itu masih belum terlalu banyak beasiswa seperti sekarang. Terus alhamdulilah keterima.

Saya di semester akhir dapet beasiswa ke Eropa itu beasiswa kuliah dari pemerintah di Eropa, kalau sekarang namanya  Erasmus Plus. Jadi dulu saya exchange ke sana. Agak sedikit pro kontra saya dengan teman-teman saya dulu. Yang kontra bilang gak ada gunanya juga ngapain, mending sekalian S3. Ada juga yang mendukung, ya udah berangkat ajalah gratis nih, kapan lagi. Akhirnya memutuskan dengan berbagai pertimbangan dari dosen pembimbing, kemudian temen-teman yang lainnya. Akhirnya memutuskan berangkat.

Bagaimana ceritanya memutuskan kuliah di luar negeri?

Dulu sempet pernah nyoba daftar S2 ke Korea. Cuman dulu saya daftar tidak keterima. Saya baru ada passion tahun pertama masuk S2 di ITS. Teman-teman saya sudah banyak ke Amerika, Australia untuk traveling, belajar atau dapet grand ke luar. Ya itu salah satu power media sosial menurut saya. Sehingga saya termotivasi untuk ke luar negeri. Ke Jepang, Korea, ke Thailand pernah nyoba pokoknya area-area Asia. Sebelum di Eropa itu, saya pernah nyoba salah satu program pertukaran pelajar seminggu di Jepang, banyak surat-suratnya tapi sampai saya sudah menyiapkan dan mau apply sudah ditutup. Saya dapetnya yaitu sudah ditutup. Saya tidak tahu kalau sudah ditutup. Ya yang paling hopeless ya itu, sempet ngerasa down juga. Down-nya itu karena saya belum masukin saja udah tutup. Sempet kecewa, juga drama menghadapi kegagalan. Ya udah lah ya gapapa.

Mulai saat itu setiap saya menyiapkan untuk daftar beasiswa kemanapun nyantai aja. Ya udah terakhir daftar itu saya gak terlalu excited banget buat daftar. Saya nyantai aja. Nyantainya ga nyantai-nyantai banget ya. Daftar beasiswa itu permasalahannya adalah dokumen yang harus dipersiapkan itu banyak sekali, apa yang harus diisi kan juga banyak sekali. Kalau cuman dadakan tidak bisa. Ya wes, ya apa carane siap-siap. Yang terakhir saya ke Eropa itu. Beberapa temen saya ajakin, ayoklah daftar-daftar. Saya juga mengajak teman. Tapi mungkin belum tertarik ya. Akhirnya saya daftar sendirian waktu itu.

Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, saya isi, saya penuhi. Dan juga ada satu hal yang mungkin tidak saya lakukan di beasiswa yang lain. Yaitu proofreading, saya minta teman saya buat ngoreksi, apakah memang grammar, cara saya menyampaikan sudah pas. Jadi memang dapet pengalaman baru. Terus sampe terakhir mau apply itu udah capek banget. Karena memang salahnya banyak. Itu kayak saya udah pusing gitu. Ya wes ga jadi wes. Sampek kayak gitu, soalnya emang nguras energi. Teman saya bilang, kamu udah sejauh ini, udah nyiapin ini dari bulan kemarin, kamu udah spend a lot of time di satu bulan itu, terus kamu nyerah gitu aja. Sudah akhirnya coba untuk daftar. Ya alhamdulilah keterima gitu.

Jadi waktu nerima email itu, saya tahunya di grup yang isinya teman-teman yang mencoba hal yang sama. Sudah ada email bilangnya. Saya sih gak ngecek, ya biasa aja. Halah paling gak keterima. Udah gak ngarep. Terus ada email masuk, halah paling reject lagi. Kemudian saya juga buka buat terakhir kalinya, kalo reject ya udah. Eh, gak taunya keterima. Alhamdulilah, ya emang rejekinya. Itu mengapa saya berangkat. Ibaratnya satu tahun saya bisa buat apa aja, tapi saya kuliah lagi. Karena memang perjuangan yang sebelumnya sudah banyak yang dilakukan. Toh orang tua juga merestui, tapi kalo orang tua bilang jangan, ya pikir-pikir ya. Karena orang tua okay, ya saya berangkat.

Pangalaman apa saja yang Ibu dapat selama berkuliah di sana?

Pengalaman kuliah di Polandia banyak ya. Banyak sukanya, cuman gak sukanya kesusahan cari makanan halal. Dari segi pendidikan, akademiknya, saya suka. Soalnya saya kenal tidak cuman satu kultur saja. Kalau di sini banyak tapi yang masih Asia. Kalau di sana saya ketemu dari Australia, Spanyol, ada yang dari Amerika. Saya senangnya beda kultur tapi masih bisa menghargai satu sama lain.

Kalau di fakultas saya dulu jarang, tantangannya itu karena saya berhijab ya. Ya itu bagaimana cara kita menjawabnya saja. Terus mereka itu lebih open minded, kalo suka bilang suka, kalo nggak bilang nggak, dan mereka tidak akan tersinggung. Ada salah satu teman yang satu kelompok sama saya, kami itu sempet crash. Kalo di sana kita bebas menyampaikan, tapi awalnya saya memendam. Sampai mangkel sendiri, saya bilang ke teman saya dengan penuh drama. Saya akhirnya curhat sama teman saya, orang Indonesia juga yang sudah lama di sana.

Dia bilang, ”Kamu itu kalau gak suka bilango”.

” Lo gapapa ta? Ga tersinggung, ta?”

“Gapapa, mereka itu lebih terbuka”.

Terus ya udah saya jelaskan sama teman saya yang crash dengan saya itu. Kondisi saya itu seperti ini. Saya itu seperti ini saya juga butuh waktu juga untuk mempelajari ini. Bukannya saya tidak mau mengerjakan dengan cepat tapi waktu saya juga tidak untuk kuliah saja. Sejak saat itu dia jadi baik sama saya. Dia mungkin mengubah pola pikirnya seperti itu. Dan dia juga menyesuaikan dengan timnya. Tapi kita juga punya tanggung jawab dan komitmen, dia sudah mengubah pola pikirnya dan menyesuaikan dengan kita, saya juga harus seperti itu. 

Mereka baik. Saya suka karena mereka ngodingnya lebih cepet dari saya. Ada sesuatu yang unik juga. Jadi saya gak bawa nama ITS saja, saya juga bawa nama indonesia. Ada satu kelas namanya presentation technic. Jadi kita disana disuruh untuk mencoba presentasi budaya masing-masing. Saya jadi duta Indonesia di sana. Gak perlu jadi Miss Universe. Ah Indonesia itu Bali ya, dipikir indonesia itu cuman Bali yang seluas itu. Indonesia itu punya 5 pulau. Dan saya tinggal di pulau Jawa, Java Island. Java kan bahasa pemrograman ya, pokoknya kalau kalian inget java, saya tinggal di situ.

Sempet diminta juga untuk jadi perwakilan Indonesia untuk syuting video profil kampus. Kalau lihat video profil kampus, saya ada di situ. Pengalaman syuting pertama kali saya dengan salah satu produser dari ibukota Polandia. Saya males jadi artis, capek kadang take berapa kali. Tapi senang karena ketemu teman banyak dari banyak negara dari Turki, dari Cina, dari India, dari Rusia.

Yang seru kita traveling, sering ke luar negeri. Kalau weekend ke tetangga, udah beda negara. Ibaratnya kayak ke Jogja. 28 negara di Eropa itu bebas visa bisa dikunjungi pas weekend. Ke Belanda kayak sini ke Makasar. 

Yang unik lagi itu saya pernah di inbox (di-email, red) sama Technical Recruiter-nya Google untuk melakukan interview. Itu pengalaman pertama yang agak awkward, belum pernah saya impikan. Sudah pernah interview dengan Google, walaupun lewat Google Hangout. Pertama kan ada seleksi. Saya baca-baca dulu biasanya, meskipun saya nyantai biasaya saya tetap baca-baca dulu. Memang agak susah ya. Ada beberapa step.

Waktu itu saya ditawari menjadi Software Engineer, tapi harus pakai seleksi dulu ya. Saya tidak pernah masukin aplikasi apapun ke Google. Mereka kemungkinan me-recruit yang bisa diseleksi yang mana aja. Pertama saya abaikan karena saya tidak minat. Saya sudah pernah punya pengalaman sedikitlah sebagai programmer. Dan passion saya gak terlalu kuat sebagai programmer. Sebenarnya saya suka ngoding, tapi kalau programmer banget kayaknya nggak. Soalnya interaksi ke orang kadang kurang. Saya suka yang bisa interaksi dengan orang lain. Waktu di inbox (di-email, red) itu masih ujian akhir, jadi saya masih sibuk ini sibuk itu. Jadi saya masih abaikan.

Terus di-email lagi sama beliau. Saya tanya teman saya katanya tidak masalah coba dulu, at least saya tidak perlu masukin aplikasi, barang kali keterima. Tapi saya mikirnya kalau keterima gimana gitu. Justru pusing mikir kalau ke terima. Kalau orang lain mikirnya kalau gak keterima gimana. Saya mikirnya beda. Tapi ada yang membuat saya akhirnya memutuskan ikut. Setelah saya baca-baca ada blog, beberapa orang yang sudah pernah bekerja di Google. Ada hal yang menyentuh saya. Hal itu ketika kita kerja di Google itu helping people not in our area only, seluruh dunia gitu, kayak Google Maps.

Meskipun belum ke kantornya, tapi sudah sempat ngoding bareng sama salah satu Software Engineer-nya. Akhirnya ya tidak lolos sih. Waktunya 45 menit, itu ngoding kasus. Ngodingnya pakai Google docs manual sintaks-sintaksnya mungkin kita tidak hapal ya. Kalau mau run juga compile-nya manual. Saya sebenarnya mau kasih tahu isinya apa tapi tidak boleh, sudah diminta oleh Google untuk merahasiakan. Jadi kayak brosur-brosurnya saya punya. Tapi tidak boleh dibagikan. Saya hanya bisa membagikan pengalaman saja sih.

Apa hobi Ibu?

Hobi saya dulu macem-macem. Tapi sekarang sudah mulai mengerucut. Saya menulis blog. Iya, saya punya blog pribadi. Saya mulai post tahun 2000 berapa gitu, 2008 kayaknya makanya nama blognya masih agak alay. Tapi saya tidak mengubah karena itu saya anggap sebagai timeline kehidupan saya. Saya biasanya nge-blog, kalau lagi free time. At least sebulan sekali biasanya saya nge-blog. Ada punishment sendiri misalkan bulan ini saya tidak post, saya bikin apa ya. Aktivitas sampai saat ini sih hanya nge-blog.

Apa saja pencapaian Ibu sampai sekarang?

Ada beberapa keinginan saya yang mengebu-gebu tapi tidak dapat. Ya itu kan jalannya bukan di situ. Kalau yang lain masih on-going. Banyak sebenarnya. Saya sedikit sombong ya. Hanya becanda, kalau pencapaian dilihat apa adanya sekarang saja.

Apa bisa diceritakan pengalamannya saat konferensi Internasional di Dubai kemarin, kok bisa dapat penghargaan sebagai Best Presenter?

Saya tidak tahu kalau itu, tanyakan kepada yang memberi. Alhamdulilah ya, saya juga tidak menyangka dapat.

Mungkin presentasinya yang bagus?

Kalau ditanya pas presentasi, biasa aja. Public speaking itu emang tidak mudah. Presentasi ini bukan pengalaman saya yang pertama. Saya sering, cuman sebelum-sebelumnya banyak yang salah dan saya perbaiki dipresentasi selanjutnya.

Kira-kira ada gak sih tips dan trik presentasi yang baik dari Bu Yuita?

Yang pertama, manajemen waktu. Kalau kita disuruh presentasi 15 menit harus selesai, dalam 15 menit yak opo carane, gimanapun caranya. Dan orang harus paham dengan apa yang kita sampaikan. Kemudian pengalaman juga mempengaruhi. Sebenarnya kita tidak butuh yang terbaik, tapi kita butuh bagaimana caranya menyampaikan dengan baik, sehingga orang lain paham dan itu tidak mudah. Dan itu butuh pengalaman, practise.

Kemudian, awal saya presentasi itu saya selalu mencoba presentasi di depan kaca. Bagaimana caranya kita mengkomunikasikan seluruh tubuh kita untuk mengeksperesikan apa yang kita maksud, diatur depan kaca. Tapi yang kemarin itu saya tidak latihan dan bikin ppt-nya di bandara. Kemarin itu delay 2 jam, sehingga saya hanya butuh fokus buat ppt karena saya sudah tahu alurnya. Kombinasi warna tidak terlalu banyak dan ornamennya juga tidak rame. Kemudian bagaimana cara kita atraktif dan eye contact dengan viewers. Kadang kalau presentasi kita stuck on the screen, sesuai dengan apa yang di slide. Tapi bagaimana kalau kita coba dengan bahasa sendiri. Kemarin itu saya sempat dapat compliment oleh jurinya.

Apa sih harapan Ibu untuk FILKOM ke depannya?

Harapan saya untuk FILKOM lebih baik ya. Terus kemudian bisa go international, ya tidak hanya di kawasan Asia saja tapi juga bisa sampai Eropa atau Amerika. Mahasiswanya juga semangat aja. Kalau dapat dosen yang sekiranya tidak enak, ya selesaikan dengan baik aja bagaimanapun caranya. Mahasiswa kan biasanya banyak cara ya. Kuliahnya selesai tepat waktu, 4 tahun. Jangan lama-lama. Cepat kerja, cepat bisa berkontribusi untuk masyarakat.

Bagi sobat DISPLAY yang ingin sesekali mampir untuk membaca konten inspiratif dari blog Bu Yuita, bisa mengakses link berikut https://arumsha.wordpress.com. Semoga terinspirasi untuk terus berkarya. (ect)

sumber foto : https://arumsha.wordpress.com/2015/06/24/kenapa-sih-polandia/

 

Share It On:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here