Bagi mahasiswa FILKOM,  nama Rachmat Eko Prasetyo atau sering disapa Gopras tentu sudah tak asing lagi. Ya, Ketua Himpunan Sistem Komputer ini merupakan sosok yang gigih, tidak pernah putus asa dalam perjuangannya dibalik masalah SK Siskom yang tidak kunjung jelas. Sosok sederhana ini juga pernah menggegerkan seantero penghuni gedung D karena pesan singkat SMS yang dikirim oleh ibunya kepada salah satu staf BEM, dikarenakan tidak pulang selama beberapa hari akibat kelelahan dalam rutinitasnya sebagai Kahim dan sederet masalah-masalah Himasiskom. Kali ini DISPLAY berkesempatan untuk mengenal lebih jauh tentang sosok seorang Gopras dengan perjuangannya untuk Himasiskom, desakan keluarga, kuliah dan kehidupan pribadinya. Berikut hasil wawancaranya.

Selamat sore mas. Apa kabar?

Sore juga, kabar baik.

Gimana nih kabar Himasiskom?

Ya seperti itu, masih berjuang dan menanti turunnya SK.

Apa saja usaha yang sudah mas lakukan agar SK Siskom segera turun?

Terus melakukan follow up kepada pihak dekanat bahkan rektorat, juga memberi pengertian ke semua teman-teman mahasiswa Siskom. “Wes kita harus berdoa sama-sama, berjuang sama-sama berharap pokoknya agar SK ini cepet turun”.  Hari Selasa (17/11) saya keruangan pak Bisri, setelah itu ketemu pak Sutrisno, sebelumnya (Senin, 16/11) saya keruangan warek 2. Satu minggu yang lalu saya habis dari pak Heru. Jadi saya datengin satu-satu ke ruangan untuk menanyakan.

Perjuangan mas sampai segitunya itu, sebenernya buat apa sih?

Simple aja sih, kami daftar sebagai Teknik Komputer tetapi kenyataannya malah menjadi keminatan di prodi informatika, kasarannya itu udah termasuk penipuan. Itu yang kami perjuangkan. Kami sebagai mahasiswa dengan salah satu fungsinya yaitu agent of change atau pembawa perubahan, kami nggak mau gitu lo tanpa ada informasi yang jelas kenapa ini kok bisa kayak gini dan disamping itu, ini juga untuk kepentingan orang banyak, karena mahasiswa-mahasiswa disini saya anggap sebagai dulur-dulur saya sendiri. Itu menurut kebersamaan, kalau menurut saya pribadi sih, saya kan penerima beasiswa, beasiswa saya dari pemerintah, nah temen-temen saya, dulur-dulur saya adalah warga negara. Saya mengabdi kepada negara lewat apa? Ya salah satunya lewat ini, memperjuangkan kejelasan dan hak temen-temen.

Diantara mahasiswa-mahasiswa Siskom yang lain dapat dibilang beberapa masih pasif menanggapi masalah SK ini, kenapa mas menjadi yang paling gencar memperjuangkan SK Siskom?

Memang sifat saya sih sebenarnya. “Wes kalau kalian tidak mau disibukkan, biar saya yang sibuk,” gitu. Istilahnya, saya sudah dipilih oleh kalian gitu lo. Saya sebagai ketua himpunan juga. Sebenarnya teman-teman tidak terlalu pasif, memang secara tindakan mereka pasif, tetapi untuk dukungan moral sebenernya banyak yang mendukung.

Jadi karena amanah dari temen-temen ya mas? Kalau seumpama mas bukan Kahim Siskom, apa mas akan tetap berjuang seperti sekarang?

Sebenarnya saya tidak cocok untuk menjadi orang berpolitik dan saya tidak mau untuk menjadi orang berpolitik, sekecil apapun. Tetapi waktu itu teman-teman benar-benar percaya saya. Kalau pertanyaannya seperti itu ya, sebelum menjadi ketua himpunan saya sudah niat sebagai akademisi. Intinya kalau nggak jadi ketua himpunan saya tetap berkontribusi secara personal. Jadi bukan karena saya sebagai ketua himpunan sehingga gerakannya agak besar, mungkin saya bisa membantu misal ada yang kesusahan ya saya bantu secara personal.

Dukungan dari teman-teman Siskom sendiri seperti apa?

Seperti saya bolos kuliah demi ini (memperjuangkan SK Siskom, red), teman-teman saya itu menginformasikan ke dosen. “Pak, Gopras bolos kuliah karna ini,” itu saya lihat itu sebagai dukungan. Dan juga misal kerja kelompok, tugas kelompok biasanya kalau saya nggak bisa, ya nggak apa-apa. Jadi saya lihat tindakan mereka itu sebagai dukungan semua. Jadi itu yang membuat saya semangat.

Dengan keadaan Siskom yang seperti sekarang ini, pasti ada beberapa teman-teman Siskom yang marah dan sedih. Cara mas mengayomi dan menyemangati mereka itu seperti apa?

Sebenarnya mahasiswa Sistem Komputer banyak yang panas, banyak yang temannya itu dari media. Saya pribadi itu menekan terus jangan sampai menyebar ke media. Jangan panas, jangan bawa orang tua dulu kesini, saya perjuangkan. Kami perjuangkan.

Sampai sekarang, hal pribadi apa sih yang udah mas korbankan?

Ya saya sebutkan satu per satu ya. Laporan KKN saya sampai 2 bulan belum saya kerjakan sama sekali padahal batasnya adalah 1 bulan, entah apakah saya akan KKN lagi atau gimana saya belum tau. Lalu saya jarang pulang, pernah sampai 1 minggu disini (di kampus, red) terus. Karena pagi saya rapat, malem baru selesai rapat dan saya kuliah pagi, karena terlalu capek ya udah nginep aja. Kesalahan saya adalah saya nggak bilang orang tua. Jadinya orang tua itu khawatir gitu kan. Apalagi kuliah saya nggak keurus. Jadi nggak tau alpha saya sekarang sudah berapa. Rencana saya memang kuliah normal saja, 4 tahun lulus, ternyata nggak bisa. IP saya turun kemaren sampe dimarahin, terjun ya dari 3,3 ke 2 koma sekian.

Gimana keluarga menanggapi mas yang jarang pulang?

Saat saya ditanya kenapa saya nggak pulang, saya bilang, “Oh ya maaf bu, masih ada urusan di kampus”. Ternyata orang tua sudah jenuh dengan alasan tersebut, seketika itu ada kalimat yang menyatakan kamu harus pulang pokoknya, inti SMS nya maksudnya seperti itu.

Kalau tanggapan masalah IP yang turun?

Ibu saya langsung ke pak Himawat setelah IP saya jatuh itu. IP saya jatuh lagi, ibu saya langsung ke kemahasiswaan. Dua kali ke fakultas. Tanpa saya tahu. Beliau menanyakan, “Pak, kok anak saya bisa dapat K?”.

Akhirnya tau darimana?

Karena aku pancing. Aku kan curhat-curhat gitu kan masalah IP, terus ibuku bilang, “Kemaren lo IPK mu turun, ibu ke kemahasiswaan,”. Terus saya tanya kok nggak bilang aku, jawabnya lupa. Sampai segitunya lo ibu saya.

Oh ya, masalah yang sampai ibunya mas Gopras SMS ke salah satu staf BEM itu gimana ceritanya?

Itu karna 4 hari aku tidur di kampus dan nggak bilang. Yang malem kelima itu bilang. Terus malem keenam bilang tapi dilarang, trus ya pulang. Nyebar itu gara-gara salah satu staf BEM itu temen baikku, sering datang ke rumah, nah dia kenal ibuku. Ibuku SMS dia, nah dia bilang ke mas Wildan terus di share di grup BPH BEM. Aduuuh. Terus yang lain tau. Lembaga semua tahu.

Terus, cara mas jelasin ke keluarga gimana?

Sebenarnya saya belum menjelaskan secara gamblang kalau saya ini ketua himpunan, jadi ibu saya itu belum tau dari mulut saya sendiri bahwa saya ini ketua himpunan. Kenapa? Jujur saya takut, sebenarnya saya nggak boleh ikut yang politik-politik kayak gini sama nggak boleh terlalu sibuk. Soalnya kan saya anak pertama. Anak pertama ya jelas kan tuntutannya adalah kerja, jelas ini jelas sangat bertentangan dengan keinginan, ya itu yang menjadi perasaan nggak enak.

Jadi, sampai sekarang orang tua nggak tahu kalau mas ketua himpunan?

Mungkin ibu saya tahu melalui baju kerja. Jadi waktu itu baju kerja saya dicuci ibu saya, kan ada tulisan ketua, mungkin ibu saya tau, tapi saya belum bilang. Mungkin lo. Jadi ibu saya ya, mengiyakan saja. Setelah kejadian baju kerja itu, agak gampang gitu kalo ijin nginep. Sebelumnya itu susah.

Oh ya, tadi kan mas bilang kalau mas dapat beasiswa. Terus kalo IP turun apa nggak mempengaruhi beasiswa?

Selama IPK masih aman, nggak apa-apa.

Beasiswa apa mas kalau boleh tau?

Rahasia.

Pernah ditegur dosen nggak sih karena sering bolos kuliah?

Untuk semua mata kuliah dari semester 3 sampai semester 6, saya itu menjadi ketua kelas terus. Hanya sekitar 5 mata kuliah yang nggak jadi ketua kelas. Ketika saya menjadi ketua kelas, ya saya menjalankan kewajiban saya sebagai ketua kelas. Jadi selama ini dosen-dosen mengira saya itu ya biasa saja. Mungkin yang paling perhatian ya Kaprodi sama Sekprodi saya.

Perhatian gimana mas?

Ditanyain kuliahnya gimana, bahkan saya sering nggak masuk kuliahnya sekprodi, ya ditanyain juga. Pernah ketika saya dilantik, saya ada kelas dan yang ngajar itu sekprodi saya. Saya juga belum bilang kalo saya ada pelantikan, ternyata diparaf sendiri sama sekprodi.

Salah satu yang dikorbanin adalah keluarga. Bisa dijelasin nggak berkorban keluarga itu yang seperti apa?

Sebenernya saya sudah yatim sejak SMP, ngertikan tanggungannya. Beban saya seperti apa sebagai anak pertama, dengan 3 adik yang masih kecil-kecil lagi. Yang satu masih SMP, dua orang udah SMA dan habis ini kuliah. Saya nggak dapet apa-apa disini, kalau sambil kerja, mau kerja apa, waduh beban menjadi tambah berat. Seperti ada pertempuran, yang tadinya keluarga berharap seperti ini, ternyata temen-temen disini ingin seperti ini, bahkan diri sendiri ingin yang berbeda.

Gimana mas menanggapi keluarga mas yang bisa dibilang protes ke mas Gopras, karena lebih sibuk di organisasi daripada di kuliah?

Ya ini pilihan saya. Saya menanggapinya dengan menjawab seperti itu dan harus jadi pendengar yang baik walaupun itu menyakitkan. Jadi kalo dimarahin itu ya didengerin terus, nggak nglawan.

Kok berani banget mas ngambil keputusan seperti ini? Padahal kan anak pertama yang seharusnya jadi tulang punggung keluarga?

Ya itu anehnya, kenapa ya? Ya karna memang harus milih salah satu.

Jadi, sekarang lebih memilih Himasiskom daripada keluarga?

Kalau sekarang iya. Gila kan. Hahaa…

Pernah nggak sih berantem sama Ibu yang sampai parah banget?

Jelas pernah. Sampai ibu nangis pun pernah. Yang biasanya aku cuma dengerin, hari itu udah suntuk banget, di kampus tuh masalah ruwet, kuliah nggak ikut kuis, pulang dimarahin abis-abisan, akhirnya namanya manusia nggak bisa nahan lagi. Tapi besoknya ya biasa lagi.

Kalau dari adik-adik mas sendiri, gimana tanggapannya selama ini lihat mas Gopras jarang pulang?

Kalau liburan atau pas di rumah, saya manfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk keluarga. Kalau adik saya ada PR ya saya bantuin, kalau liburan ya saya ajak keluar main, bercanda-bercandaan, kalau lagi punya duit ya tak beliin makanan atau apa gitu. Biasanya kalau saya nggak pulang itu, nasi sama lauk nggak habis. Ya, itu emang sengaja ditinggalin sama adik-adik saya untuk masnya. Mereka tahu malem-malem masnya pulang. Pagi-pagi pas adik saya berangkat, saya belum bangun. Jadi mungkin ya selama ini dipendem juga sama adik-adik saya.

Keseharian selain kuliah dan mengurus Himasiskom, biasanya ngapain mas?

Nggak ada sih sejauh ini. Tapi kemaren saya dapat projek jutaan dari pemkab, tapi belum saya kerjakan. Saya belum berani ngambil kontrak tersebut tapi sebenarnya, sudah oke.

Hobi mas apa sih?

Nginep di sekret dan remi,  haha….

Mas pernah kan buat status,  antara keluarga, himasiskom, kuliah, diri sendiri. Kalau untuk jangka panjang mas Gopras pilih mana?

Kalau untuk sekarang susah untuk memilih. Tapi, kalau untuk jangka panjang atau selamanya ya saya pilih keluarga.

Ada pesan dari mas Gopras untuk mahasiswa-mahasiswa lain?

Untuk para mahasiswa berpikirlah dari banyak sisi. Jangan hanya dari satu sisi. Ketika kalian berpikir dari satu sisi dan kalian mengandalkan emosi itu sangat berbahaya. Karena saat emosi, akan sangat sulit untuk menentukan satu keputusan.

NO COMMENTS

Leave a Reply