Muda, inovatif, dan kreatif adalah gambaran yang cocok untuk pemuda bernama Irsyad Gema Adzani atau yang kerap disapa Dani ini. Di usia yang masih muda ini ia harus bisa membagi waktu untuk mengemban ilmu sebagai mahasiswa program studi Teknik Informatika di FILKOM UB dan menjadi seorang ilustrator karena keahliannya dalam membuat ilustrasi. Selama tiga tahun bergelut di bidang ini, ia sudah mampu menciptakan dua judul komik yaitu Trickster dan Linked Soul. Simak cerita selengkapnya dalam perbicangan kami berikut ini!

Ceritain dong, gimana awalnya bisa jadi webtoonist? Emang dari dulu atau gimana?

Sebenarnya dari dulu itu suka bikin komik gitu, cuman dulu komiknya itu komik cetak.
Dani sejak kapan jadi webtoonist?
Mulainya tahun 2016, soalnya Webtoon sendiri itu platform komik digital yang baru masuk ke Indonesia tahun 2015.

Berarti udah pernah ngeluarin dalam bentuk cetak gitu?

Belum, kan waktu itu masih SMA, cuma kayak men-submit ke penerbit gitu. Ya tapi belum ada yang diterima. Terus platform komik digital ini mulai masuk. Nah di situ aku mulai mencoba dan akhirnya masuk ke official-nya.

Apa komik yang pertama dibuat di platform digital?

Kalau buat yang format Webtoon, Trickster pertama kali dibuat.

Berarti bikin komik ini sudah hobi dari lama ya?

Iya, dari kecil udah suka gambar komik gitu di kertas. Dulu gara-gara banyak baca majalah Bobo. Belakangnya kan ada komik 4 panel gitu, nah dari meniru itu lama-lama suka.

Kalau mengirim ke koran gitu biasanya mengangkat tema apa?

Temanya karena buat senang-senang, ya sudah terserah aja, mau lagi mood-nya apa ya sudah. Pokoknya buat senang-senang aja dulu.

Kamu dulu sebelum masuk Webtoon pernah punya pengalaman di bidang seni gitu enggak?

Kalau soal seni, sebenarnya dari kecil saya enggak suka seni, sangat-sangat benci. Enggak tahu, enggak suka aja. Kayak gambar itu susah, capek gitu.

Oh iya? Padahal sekarang jago gambar.

Ya karena awalnya niatnya itu suka bercerita, aku kan suka baca cerpen Bobo ya, komik-komiknya Bobo gitu kan. Terus lama-lama tuh kayak aku itu pengin menyalurkan cerita gitu. Dan akhirnya belajar gambarnya itu buat menyampaikan cerita, bukan belajar gambar untuk ilustrasi bagus-bagusan, mirip-miripan, enggak gitu. Cuman biar aku bisa men-deliver cerita ini gitu aja sih. Ya makanya, waktu ditawarin kenapa enggak masuk jurusan seni? Karena memang enggak suka.

Kalau membuat Webtoon itu biasanya dapat inspirasi darimana?

Ya dari kehidupan sehari-hari biasanya, dari masalah sehari-hari gitu. Biasanya harus bisa baca permasalahan-permasalahan zaman sekarang. Dari situ kita bisa tau psikologis orang zaman sekarang itu minatnya ke arah mana, nah itu bisa kita masukkan ke komiknya.

Mau tau dong suka dukanya jadi seorang webtoonist itu kayak gimana?

Sukanya ya senang aja sih, kayak kita bisa menyampaikan pesan ke pembaca, menyampaikan cerita gitu. Terus kalau pembaca puas dengan cerita kita, kita juga ikut merasa senang gitu, puas. Kalau dukanya sih, apa ya mungkin hampir enggak pernah merasa duka deh. Kayak senang-senang aja, enggak tahu yang lain ya tapi, kalau aku sih gitu.

Gimana cara bagi waktunya antara kuliah sama jadi webtoonist?

Kalau cara bagi waktu sih karena semester sudah semakin tinggi, ya otomatis kita harus tahu mana yang harus diprioritaskan. Kalau aku pribadi lebih memprioritaskan komik daripada kuliah.

Dengar-dengar katanya kamu sekarang pindah platform ke Ciayo, itu kenapa alasannya?

Alasan tersendiri sih karena aku pengin kayak semua platform itu maju gitu. Jadi kayak waktu ada tawaran dari platform lain, oh ya sudah kenapa enggak? Coba aja.

Ada perbedaan enggak antara Ciayo sama LINE Webtoon?

Perbedaan lebih kalau Ciayo itu target audience-nya atau target pasarnya itu umur 18 tahun ke atas, lebih ke anak kuliahan gitu sampai ke dewasa. Jadi isi-isi komiknya itu lebih mature gitu, lebih serius, lebih realistis.

Kalau di Webtoon kamu bikin Trickster kalau di Ciayo kamu bikin apa?

Judulnya Linked Soul, tentang jiwa yang tersambung genrenya action romance.

Berarti ini sesuatu yang baru dong? Kan di Trickster genrenya bukan romance.

Nggak juga sih, sebenarnya Trickster itu dulu itu aku cuma ilustratornya saja bukan story writer-nya. Dulu itu ceritanya orang lain kan, jadi karena dulu SMA bikin komik itu berat, akhirnya aku kayak ya sudah aku ilustrator saja, yang cerita temenku. Tapi waktu kuliah yang story writer ini enggak bisa, jadi aku terpaksa melanjutkan saja. Tapi itu bukan genre kesukaanku gitu Trickster itu.

Jadi sampai episode mana penulis cerita Trickster itu berhenti nulis?

Jadi gini waktu ditawarin untuk debut official nah disitu dia langsung nggak bisa, karena waktu itu dia milih langsung kerja, nah di dalam kerjaannya ini kayak ada masa karantina enam bulan enggak boleh pegang HP dan enggak boleh komunikasi sama orang-orang lain gitu, makanya akhirnya dia gak lanjutkan.

Sebenarnya pesan apa sih yang mau disampaikan lewat Trickster ini?

Di Trickster itu kan bahas tentang kecurangan dan pendidikan, jadi pesan yang ingin disampaikan di Trickster itu kayak menegakkan kebenaran ditengah-tengah kecurangan gitu. Karna di zaman sekolahku dulu itu kayak kecurangan itu justru hal yang wajar gitu. Orang yang enggak mencontek malah di-bully, gimana sih yang benar malah di-bully. Nah dalam sudut pandang itu aku berusaha menyampaikan bahwa gini lho yang benar itu, kecurangan itu harusnya di-stop lah dari sejak dini.

Aku juga baca kan di Trickster itu ada trik-trik gitu. Nah itu dapat idenya darimana?

Itu sebenarnya kan Trickster ide dari dulu SMA ya. Nah waktu SMA itu aku benar-benar merasa ya yang di Trickster itu istilahnya kayak unek-unek semua teman-teman masa SMA gitu lho, kayak sistem pelajarannya kayak gini. Terus soal trik-trik kayak gitu ya aku benar-benar coba sendiri waktu SMA. Karena biasanya ide cerita kayak gitu aku dapatnya waktu UAS, UTS biasanya. Biasanya waktu ngerjakan terus kayak waktu sudah selesai gitu kan terus masih ada waktu terus akhirnya melamun gitu, nah di situ banyak kepikiran melihat teman-teman yang lagi mencontek gitu terus akhirnya kepikiran. Terus akhirnya aku coba sendiri, waktu ulangan aku coba kayak gitu, karena aku pengin nyoba sensasinya guru itu curiga ke aku, padahal kertasnya kosong enggak ada apa-apa.

Terus ada yang bilang kamu ikut berkontribusi di Webtoon Terlalu Tampan?

Ya memang Terlalu Tampan itu dulu kan aku buat komik-komik di Webtoon challenge gitu, kan waktu zaman baru ditawarin debut official-nya Trickster ada jeda waktu beberapa bulan, nah dalam masa menganggur itu aku buat-buat komik di Webtoon challenge. Nah terus lama-lama si Avis, dia kan temenku dari kecil kan, terus dia kayak pengen bantu lah cerita gitu soalnya dia tertarik ngeliat komik-komikku di Webtoon challenge. Terus ada lomba, ya sudah kita berdua kayak kita ikut aja, terus aku melihat dia kayak punya potensi yang sangat tinggi di komedi akhirnya aku suruh buat cerita komedi gitu kan, akhirnya kita buat parodi dari sebuah karakter gitu. Kan di Webtoon banyak orang tampan, nah kita buat parodinya di situ, di Webtoon challenge. Enggak menang, tapi ditawarin official. Nah tapi karena waktu itu aku mau debut Trickster, jadinya enggak bisa lanjut, akhirnya dia cari ilustrator lain.

Ceritain dikit dong tentang Linked Soul!

Jadi ceritanya, kayak ada alien yang tiba-tiba bangun di bumi dan dia nggak ingat apa-apa tapi dia diburu sama manusia. Ya akhirnya dia kayak, nggak tau apa-apa di sini tapi kalian buru, gitu lho. Nah dia mencari kenapa sih aku diburu? Terus siapa sih aku? Kayak gitu.

Harapan kamu buat kedepannya apa?

Harapannya sih industri kreatif Indonesia itu bisa maju dengan pesat gitu. Impian dari kecil dulu itu aku pengen Indonesia punya pop culture sendiri, melihat kayak Korea, Jepang kayak iri sendiri gitu. (cly)

Share It On:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here